Menu

Mengapa terpikir bumi itu datar?

Mar
24
2018
by : . Posted in : Blog

Dalam sebuah acara pengajian, seorang ustad bercerita di depan jamaah bahwa dia sudah tidak percaya lagi bumi itu bulat seperti bola. Dia menyitir beberapa ayat di dalam Al-quran untuk mendukung argumentasinya bahwa bumi itu sebenarnya datar.  Allah mengatakan dalam sebuah ayat yang artinya begini: “Dan bagaimana bumi itu dihamparkan” (Al-Ghasyiyah (88): 20), atau  “Dan bumi itu Kami hamparkan (farasynaha), maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)” Adz-Dzariyat (51): 48) . Masih banyak lagi kata-kata “menghamparkan” disebut di dalam Al-Quran (Baca: Benarkah Al Qur’an Menyatakan Bentuk Bumi Datar?). Kata “menghamparkan” mengesankan tempat yang datar, oleh karena itu tidaklah mungkin bumi itu bulat, demikian kata Pak Ustad. Beliau meneruskan lagi kata-katanya, jadi, selama ini kita telah dibohong oleh ilmuwan xxxxxx dan xxxxxx (dia menyebut nama dua agama).

Saya yang mendengarkan kajian Pak Ustad hanya bisa manggut-manggut saja.  Saya tidak ingin mendebatnya karena tidak ingin mempermalukannya di depan jamaah. Menurut saya, Pak Ustad ini sudah termakan kampanye komunitas flat earth (kaum bumi datar) yaitu kelompok orang yang menolak pendapat bahwa bumi itu bulat dan lebih mempercayai bumi itu datar.  Sungguh saya sedih mendengarnya, apalagi kelompok ini sering menggunakan dalil-dalil keagamaan untuk mendukung argumentasinya. Bukti-bukti imiah dari sains dan teknologi tidak mampu menggoyahkan keyakinan mereka. Mindset mereka tidak bisa lagi diubah, tetap bergeming dengan keyakinannya. Padahal  ijma’ (kesepakatan) para ulama sudah meyakini bahwa bumi itu bulat (baca ini: Apakah Bumi Bulat Bola Atau Datar Menurut Pandangan Syariat?).

Dogma bumi datar telah “memakan” banyak “korban”, termasuk orang yang berpendidikan tinggi sekalipun.  Logika ilmu dijungkirbalikkan, ayat suci dimaknai secara letterlux. Padahal kata “menghamparkan” adalah untuk memaknai bahwa bumi itu adalah tempat yang sangat luas, sangat luas dibandingkan diri manusia yang kecil. Karena luasnya itu, maka bumi tampak seperti hamparan.

Andaikan kaum yang mengklaim bumi itu datar mau lebih berpikir menggunakan akalnya, maka sesungguhnya bumi bulat seperti bola sudah terbukti dengan jelas. Pergantian siang dan malam pada bagian bumi adalah contohnya. Keadaan siang terjadi karena bagian bumi disinari matahari, sebaliknya pada waktu yang bersamaan bagian bumi yang tidak mendapat sinar matahari mengalami gelap yang kita sebut malam. Andaikan bumi itu datar, pastilah seluruh bagian bumi mendapat sinar matahari sehingga tidak ada bagian bumi yang mengalami kegelapan. Ukuran matahari jauh lebih besar dari ukuran bumi, ribuan kali besarnya. Maka, tidaklah mungkin ada bagian bumi yang tidak mendapat sinar matahari apabila bumi dianggap datar. Adanya bagian bumi yang mengalami siang dan bagian bumi lain mengalami  malam hari pada waktu yang sama hanya mungkin yerjadi jika bumi berbentuk bola, tidak mungkin terjadi kalau bumi itu datar. Misalnya di Indonesia saat ini siang hari, sementara di Eropa dan Amerika pada saat yang sama sedang malam hari.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS. ‘Ali `Imran [3] : 190)

Jika bumi memang datar lalu ada bagian bumi yang mengalami siang dan saat yang sama ada bagian bumi yang mengalami malam, maka hal itu hanya mungkin terjadi jika matahari sangat kecil ukurannya dibandingkan dengan bumi. Karena kecilnya, maka saat matahari berada pada sebuah sisi, maka  pada sisi bagian bumi yang lain mengalami malam. Menganggap matahari berukuran jauh lebih kecil dari bumi jelas tidak masuk akal.

Kalaulah bumi dianggap datar, lalu dimanakah ujungnya? Dimanakah batasnya? Orang Eropa pada abad pertengahan meyakini bumi itu datar bagaikan sebuah roti pipih. Mereka takut berlayar terlalu jauh, sebab mereka percaya di ujung samudera ada jurang yang gelap, kapal bisa jatuh terperosok ke jurang yang gelap itu. Namun, penjelajahan Vasco dan Gama dan Columbus mematahkan keyakinan tersebut. Mereka berlayar sangat jauh bahkan menemukan benua baru dan mereka dapat kembali lagi ke negara asalnya di  Eropa. Faktanya, kalau seseorang berlayar mengarungi lautan tanpa menyusuri kembali jalur yang dilaluinya, maka ia pasti akan kembali ke titik asalnya. Hal ini hanya mungkin terjadi jika bumi berbentuk bulat seperti bola, tidak mungkin terjadi bila bumi berbentuk datar.

Saat ini, di tengah polarisasi bangsa yang terbelah akibat Pilpres dan Pilkada, istilah “kaum bumi datar” mengalami pergeseran makna. Istilah “kaum bumi datar” sering disematkan warganet kepada kelompok Islam yang kontra Ahok atau kepada orang-orang yang selalu mengkritik Pemerintah (Jokowi). Orang-orang yang kontra dengan Jokowi (dan Ahok) disebut sebagai “kaum bumi datar”  oleh para pendukung Jokowi/Ahok. Saya tidak mengerti mengapa mereka disebut kaum bumi datar hanya karena memiliki pandangan dan pendapat  yang berseberangan dengan Pemerintah saat ini. Asal berseberangan, maka mereka dipukul rata sebaga kaum bumi datar.  Mendukung ustad A disebut kaum bumi datar, mendukung partai B disebut kaum bumi datar, mendukung tokoh ini atau tokoh itu disebut kaum bumi datar. Selama berbeda dengan Jokowi (atau Ahok) maka disebut kaum bumi datar.  Begitulah simplifikasinya.

Ditilik dari sejarah kelahirannya, kelompok flat earth sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama. Kelompok flat earth  lebih dulu muncul dari dunia barat yang notabene bukan orang Islam. Silakan ketik “flat earth society” di Google, maka kita akan menemukan situs komunitas flat earth di luar negeri, yaitu https://theflatearthsociety.org/home/. Dikutip dari laman Wikpedia,

Flat Earth Society (juga dikenal sebagai International Flat Earth Society atau International Flat Earth Research Society) adalah sebuah organisasi yang memiliki keyakinan bahwa bumi berbentuk datar, bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah yang menunjukkan bahwa bumi itu bulat. Organisasi modernnya didirikan oleh seorang pria asal Inggris, Samuel Shenton pada 1956, dan kemudian dipimpin oleh Charles K. Johnson, yang menjadikan rumahnya di Lancaster, California, sebagai basis organisasi. Organisasi ini tidak lagi aktif semenjak kematian Johnson pada 2001, namun baru-baru ini organisasi Flat Earth Society dimunculkan kembali oleh presiden barunya, Daniel Shenton.

Karena itu, mengaitkan istilah kaum bumi datar kepada suatu agama atau kelompok agama jelaslah tindakan yang menyesatkan. Menghubungkan kaum bumi datar dengan polarisasi politik juga adalah tindakan yang keterlaluan dan hanya memperkeruh suasana saja.

Catatanku

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya Mengapa terpikir bumi itu datar?

Thursday 22 May 2014 | Blog

Kontemporer karya seni adat telah memenangkan sejumlah hadiah seni Australia pokok nasional  termasuk Wynne hadiah  yang…

Wednesday 8 November 2017 | Blog

Perbaikan Jembatan Pulau Telo diperkirakan rampung 14 Desember 2017. Perkiraan tersebut lebih cepat dari kontrak induk…

Tuesday 25 July 2017 | Blog, Diklat

Download Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-59/PB/2017 tanggal 21 Juli 2017, tentang Batas Maksimum Pencairan Dana…

Thursday 15 June 2017 | Blog, Diklat, Dokumentasi

Sebanyak 58 warga binaan yang menjalani hukuman di Rutan Kelas IIB Kapuas mendapatkan Remisi atau pengurangan…