Menu

PilGub Jabar 2018, Siapa yang Akan Menang?

Jan
09
2018
by : . Posted in : Blog

Hiruk pikuk tahun politik 2018 sudah dimulai pada awal Januari. Tahun 2018 berlangsung iven Pilkada serentak di seluruh Indonesia, termasuk di Jawa Barat, propinsi tempat tinggalku kini. Setelah melalui proses tarik ulur yang cukup dramatis, akhirnya PilGub Jabar akan diikuti oleh empat pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Keempat pasang calon tersebut adalah Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi yang diusung Partai Demokrat dan Golkar, Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum yang diusung oleh Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura, Sudradjat – Akhmad Syaikhu yang diusung Gerindra, PKS, dan PAN, serta Tubagus Hasanuddin – Anton Charliyan yang diusung oleh PDIP.

Empat pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat

Sebenarnya jabatan Gubernur tidaklah terlalu strategis, karena negara kita menganut asas otonomi daerah. Kewenangan di daerah dipegang oleh Bupati/Walikota, Gubernur bertindak sebagai koordinator saja. Bupati/Walikotalah yang membuat kebijakan di daerah kekuasaannya, bukan Gubernur, sehingga para bupati dan walikota sering disebut sebagai “raja kecil” yang berkuasa di daerahnya. Gubernur tidak bisa mengintervensi bupati/walikota di bawahnya.

Tetapi, mengapa PilGub tahun 2018 ini sangat menarik perhatian? Tak lain dan tak bukan karena tahun berikutnya, 2019, adalah tahun politik panas. Pada tahun 2019 rakyat Indonesia akan melakukan pemilihan umum untuk memilih anggota legislatif dan presiden. Nah, posisi Presiden Jokowi tahun 2019 belum terlalu aman kalau ia ingin menjadi presiden lagi, sebab hasil-hasil jajak pendapat beberapa lembaga survey menyebutkan elektablitasnya masih di bawah 50%. Meskipun kepuasan rakyat terhadap kinerjanya tinggi, tetapi tidak sebanding dengan elektabilitas yang belum mencapai 50% itu.

Nah, disinilah letak strategisnya Pilkada tahun 2018. Partai-partai politik berlomba-lomba menempatkan calon terbaiknya dalam pemilihan bupati, walikota, dan gubernur sebagai ajang pemanasan  menjelang Pemilu 2019. Partai-partai politik itu berusaha memenangkan calonnya menjadi penguasa di daerah, karena akan memudahkan tujuan mereka mencapai kekuasaan yang lebih tinggi. Jika berhasil memenangkan Pilkada, maka bupati, walikota, atau gubernur yang mereka jagokan akan “dimanfaatkan” untuk memenangkan partainya dalam Pemilu 2019. Dana-dana politik untuk memenangkan Pemilu 2019 lebih mudah diperoleh karena bupati, walikota, dan gubernur itu memiliki akses ke birokrasi atau pengusaha di daerahnya. Itu sudah menjadi rahasia umum di negeri ini bahwa birokrasi digunakan penguasa daerah untuk tujuan politiknya.

PilGub Jabar menyedot perhatian karena Jawa Barat adalah propinsi dengan penduduk paling besar, yaitu 47 juta. Jawa Barat merupakan lumbung suara bagi banyak partai politik. Tetapi, di Jawa Barat ini Jokowi tumbang pada Pilpres 2014, dikalahkan oleh Prabowo dengan persentasi 60% : 40%. Maka, siapapun yang berhasil menguasai Jawa Barat akan memudahkan memenangkan persaingan dalam Pilpres 2019 nanti. Di sinilah letak pentingnya PilGub Jabar 2018. Maka, tidak heran Ridwan Kamil yang diusung salah satunya oleh Partai Nasdem diikat dengan perjanjian harus mensukseskan kemenangan Jokowi pada Pilpres 2019 nanti.

Lalu, siapakah calon gubernur yang akan dipilih oleh rakyat Jawa Barat pada Pilgub nanti? Di atas kertas kemungkinan besar adalah Ridwan Kamil. Ridwan Kamil selalu unggul dalam berbagai jajak pendapat. Peluangnya paling besar untuk memenangkan PilGub. Tetapi, banyak pula yang beranggapan Ridwan Kamil baru menang “di udara” (di dunia maya), yaitu di wilayah perkotaan yang melek Internet dan selalu update informasi, sementara di darat (wilayah pedesaan) belum tentu (kurang terlalu dikenal).

Tipikal orang Sunda (Jawa Barat) adalah memilih pemimpin yang memenuhi aspek nyunda, nyantri, dan nyakola. Dilihat dari ketiga aspek tersebut semua pasangan calon memiliki kelebihan dan kekurangan. Nyunda, semua calon orang suku Sunda, jadi tidak ada masalah (meskipun Deddy Mizwar orang Sunda tapi lebih banyak tinggal di Jakarta).   Nyakola (berpendidikan), semuanya merupakan intelektual dan berpendidikan.

Nyantri artinya taat agama (Islam). Tiga pasangan calon (Ridwan Kamil – Uu, Sudradjat – Akhmad Syaikhu, Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi) memiliki rekam jejak yang dapat dinilai aspek kesantriannya. Untuk Dedi Mulyadi ada rekam jejak yang diingat bagi pemilih muslim yang kritis, yaitu kiprahnya selama menjadi Bupati Purwakarta mengadakan iven yang dianggap menjurus syirik dan membangun patung-patung di kota Purwakarta yang ditentang ulama dan ormas Islam.  Sementara pasangan Tb. Hasanuddin – Anton Charliyan jarang terdengar kiprahnya dalam soal keislaman. Faktor PDIP sebagai partai yang kurang dekat dengan Islam mungkin akan membuat jarak bagi pemilih yang menimbang aspek ini sebagai kriteria memilih.  Apalagi, Anton Charliyan ketika menjadi Kapolda Jabar pernah meninggalkan catatan yang kurang baik yaitu kejadian bentrokan antara ormas binaannya dengan sebuah ormas Islam.

Ridwan Kamil bukannya tanpa ada masalah juga. Awal-awal pencalonannya oleh Partai Nasdem menimbulkan pro dan kontra. Ridwan Kamil menerima pinangan Nasdem pada saat yang tidak tepat, yaitu saat suasana kebatinan pemilih muslim masih diliputi kemarahan oleh kasus Ahok. Kebetulan Nasdem adalah salah satu pengusung Ahok pada Pilkada DKI. Banyak pengagum dan fans Ridwan Kamil memilih meninggalkannya,  istilahnya unfriend. Saya tidak tahu apakah saat “rasa luka” pemilih yang unfriend itu masih berbekas atau sudah mulai melupakan. Wallahu alam.

Untuk pasangan Sudradjat – Akhamad Syaikhu, ini wajah baru yang kurang dikenal di Jawa Barat. Padahal orang memilih calon pemimpin karena kenal terlebih dahulu, kalau tidak dikenal mungkin kurang dilirik. Perlu waktu dan kerja keras mesin partai pengusung untuk memperkenalkannya ke penduduk Jawa Barat, padahal waktu yang tersisa hanya enam bulan.  Apakah berhasil, waktu yang akan menjawabnya.

Warga Jawa Barat bebas menentukan pilihannya sesuai preferensinya. Mau pilih figur atau melihat partai pengusung? Memilih calon dengan melihat rekam jejak atau kinerja? Semua sah. Yang jelas faktor SARA tidak akan terjadi pada PilGub Jabar nanti. Mengenai siapa yang akan menang, masih samar-samar.


Catatanku

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya PilGub Jabar 2018, Siapa yang Akan Menang?

Sunday 18 June 2017 | Blog, Diklat, Dokumentasi

Download Peraturan Menteri Keuangan Nomor 74/PMK.05/2017 tanggal 14 Juni 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor…

Tuesday 12 September 2017 | Blog

Didesain dengan Konsep Modern ADIANSYAH, Batam Taman Jodoh Boulevard akan dijadikan pusat kuliner. Sebelum, langkah ini…

Wednesday 14 March 2018 | Blog

Download Surat Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor S-2358/PB/2018 tanggal 9 Maret 2018, tentang Pelaksanaan Koreksi Data Transaksi Terkait…

Tuesday 16 August 2016 | Blog

NILAI ESTETIKA PADA BATIK SURAKARTA Batik bila dipakai memiliki kesan khas bagi pemakainya. Di samping memberi…