Pegawai Negeri

Informasi Pegawai Negeri

Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Sukses Usaha karena Ide ”Gila”

Nov
09
2017
by : . Posted in : Blog

Kisah Inspiratif Warga Batam: Priyo Utomo 

SUPRIZAL TANJUNG, Batam

SUARA burung sungguhlah merdu. Memelihara burung bari Priyo Utomo sangat suka memelihara burung. Merdunya suara burung, membuat hati senang. Lebih senang lagi, bila dari hasil memelihara burung, tiga anak dikuliahkan. Satu orang meraih Sarjana D3 di Politeknik Batam.

Berita: Sukses Usaha karena Ide ”Gila” di Batam Pos, Selasa (7/11/2017). F Suprizal Tanjung

Priyo adalah tipe orang yang tidak mau diam. Banyak pekerjaan dijalaninya. Sejak datang ke Batam sejak tahun 1986 lalu, banyak pekerjaan dilakukannya. Salah satunya menanam dan menjual bunga mulai tahun 2000. Aktif menaman, menjual bunga, menggelar pameran, dia pun ditunjuk menjadi ketua Komunitas Pecinta Alam Hijau Batam. Bunga kurang cocok dan menghasilkan. Tahun 2005, dia berhenti. Pekerjaan lain dicoba yaitu menjadi pengawas  pembangunan rumah toko (ruko) di Batam. Pekerjaan itu dijalaninya hanya sampai tahun 2005.

Ketika itu, lelaki asal Surabaya kelahiran 6 Desember 1964  itu tidak lagi mempunyai penghasilan tetap. Pusing  dan sedih, sebab uang tidak lagi datang setiap bulan seperti saat bekerja dulu.

‘’Sementara, kebutuhan dapur, pulsa telepon, PLN, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya, tidak bisa ditunda. Semua harus dipenuhi. Itulah kalau tidak bekerja,’’ sebut Priyo di rumahnya, RT 05 RW 01 Blok C 37, Bengkong Indah Bawah, Selasa (31/10/2017).

Di tengah kondisi yang kurang kondusif tersebut, kata bapak tiga anak ini, ingat burung. Dia hobi burung. Dia lalu mencoba memelihara burung tahun 2010. Kok burung? Dia berprinsip hobi itu harus menghasilkan uang. Hobi bunga, hobi burung. Dapat uang.

Mulai berusaha, dia mendapat rintangan berupaka kritik kawan-kawannya. ‘’Apa-apan ini? Kok mantan pengawas pembangunan ruko memelihara burung. Tukang burung ‘’gila’’’’ sebut Priyo mengulang perkataan kawannya.

Kalau dipikir sebut Priyo. Dia memang ‘’gila’’. Dia tidur kapan mau. Saat mau keluar, dia keluar. Ketika mau main dengan kawan, dia pun pergi meninggalkan rumah. Semua bebas dilakukan. Tidak ada ikatan. Tidak ada orang yang marah. Tidak pula yang memerintah. Yang perlu dilakukannya adalah memberi makan makan burung, pagi dan sore hari. Untuk anak burung, istrinya bisa menjadi asisten yang baik, sangat bisa diandalkan, dan tanpa disuruh lagi.

Priyo tak peduli. Menurutnya, burung banyak dibeli orang. Terlebih burung berkicau yang memiliki suara merdu.

Diakui Priyo, tidak mudah memelihara burung, mengawinkan, bertelur, mengeram, menjadi anak, dan menjadi dewasa. Banyak pengalaman, dan pelajaran didapat. Tak sedikit, burung mati, telur dipatok induknya, jantan mematok betina (misalnya, Murai, burung fighter), induk mematok anaknya, anak burung mati, burung dicuri orang, dan lainnya.

Menurut penglaman Priyo, memelihara burung harus didasari cinta kasih kepada peliharaan. Mulut harus dijaga. Tidak boleh bertengkar dan lain sebagainya. Pernah terjadi, dia ribut dengan istrinya. Tak lama kemudian, tiga pasang Murai Batu seharga total Rp 35 juta dicuri orang dari sangkar semen dan besi.  Nampaknya tidak masuk akal dan mustahil. Tapi itu terjadi. Kini Priyo semakin hati-hati menjaga mulut, hati, mata dan lainnya. Jangan sampai melanggar dan melupakan perintah Allah.

Adapun burung yang dipelihara dan diternakkannya itu adalah Love Bird, Murai Batu, dan Kacer. Pertama sekali, dibeli jantan Love Bird, Murai Batu, dan Kacer dengan harga masing-masing mencapai puluhan juga. Jantan dalam sangkar tadi didekatkan dengan tiga sampai empat betina dalam sangkar terpisah. Satu bulan didekatkan, biasanya terlihat jantan dan betina akan ada  kecocokkan. Barulah mereka dikawinkan dalam satu kandang. Tidak lama, betina bertelur 1-4 butir, dieramkan, dan menetas 14 hari kemudian. 30  hari berikutnya, anak burung tadi sudah bisa makan sendiri.
Priyo menyebutkan, anak Love Bird dijual Rp 200 ribu, anak Murai Batu Rp 2 juta, anak Kacer Rp 300 ribu. Murah. Dibandingkan membeli Love Bird dewasa dijual Rp 1 juta, Murai Baru Rp 7 juta, Kacer Rp 1 juta. Meskipun ada burung dewasa, dia hanya menjual anak burung. Total 10 pasang burung yang dipeliharanya  untuk dikembangbiakkan.

Anak-anak burung tadi biasanya sudah ada yang pembelinya di Batam. Agar pangsa pasar lebih luas, Priyo mempromosikan anak burungnya lewat Facebook dengan nama: Gaya Murai Bird Farm (GMBF/ GKBF). GMFB mulai dikenal. Pelanggan luar provinsi seperti dari Yogyakarta, Semarang, Surabaya tiap bulan memesan anak burungnya. Jawa kekurangan burung. Sumber burungnya adalah dari Sumatera. Burung asal Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar) dikenal merdu.

Anak burung tadi biasanya telah dapat surat usai melewati proses karantina dengan biaya Rp 20 ribu per ekor. Minimal 10 ekor diproses karantina. Untuk perusahaan besar, proses karantina minimal lebih dari 10 ekor. Saat dikirim melalui pesawat udara dalam sangkar besi, harga anak burung ditambah ongkos kirim Rp 700 ribu. Misalnya anak burung  Rp 2 juta, ditambah ongkos kirim Rp 700 ribu ,total harga Rp 2,7 juta. Satu sangkar besi, berisi tiga anak burung.

Hasilnya sangat lumayan. Puluhan juta diraih Priyo dalam satu bulan. Dari  penjualan anak burung itu, tiga anaknya berhasil dikuliahkan di Politeknik Negeri Batam. Anak pertama lulus D3 tahun 2012, anak kedua masuk kuliah tahun 2016, dan anak ketiga masuk kuliah tahun 2017.
Penghasilan Priyo dari burung lebih maksimal karena dia bisa menghasilkan makanan sendiri lewat satu inovasi. Burung-burung tadi diberi makan cacing tanah, kalsium Rp 100 ribu  per botol, dan jangkrik super seharga Rp 80 ribu per kilogram.

Untuk jangkrik, diternak sendiri dalam tujuk kotak. Jangkrik jantan (berekor pajang) dikawinkan dengan betina (berekor pendek). Betina lalu lalu memasukkan ekornya untuk mengeluarkan telur di atas pasir. Oleh Priyo, telur tadi dimasukkan ke dalam air biar terpisah antara telur dengan pasir. Telur dierami dalam kain yang digantung dalam kantong plastik. Tak lama kemudian, telor jangkrik itu pun menetas. Hasil ternaknya, menghasilkan jangkrik yang tidak membuat burung sekarang dan mati. Sebab, bila salah memberi jangkrik, burung bisa mati. Khusus jangkrik tidak dijual sebab khusus untuk dikonsumsi burung sendiri.

Selain itu, burung tadi juga diberi lipan. Lipan berfungsi untuk sangat meningkatkan birahi burung. Lipan tidak boleh sering diberi, sekali-kali saja.
Priyo memang peternak burung ‘’gila’’. Dengan kegilaannya itu, kini dia hidup santai. Berpakaian santai. Hidup santai sambil memelihara burung. Namun dari santai tadi, dia menghasilan puluhan juta setiap bulan didapatnya.

Cerita burung papar Priyo, harganya sangat relatif. Bila orang sudah cinta, Love Bird pun dibeli dengan  harga Rp 90 juta. Burung akan semakin mahal bila sudah kerap memenangi lomba yang digelar pecinta burung Batam dan Kepri. ***


Suprizal Tanjung’s Surau

loading...


bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya Sukses Usaha karena Ide ”Gila”

Wednesday 5 July 2017 | Blog, Diklat

Pementasan Seni (Pensi) Sekolah Sultan Agung Batam, National Plus School DARI berbagai event yang telah digelar…

Friday 15 September 2017 | Blog

Satu narapidana (napi) Rutan Kapuas, Abdullah Ghani alias Ghani alias Bambang Suharto (40) kabur. Kepala Rutan…

Saturday 26 April 2014 | Blog

The Garibaldi shirt atau ” Garibaldi jaket ” dipopulerkan oleh Ratu Eugenie Perancis pada tahun 1860…

Saturday 24 May 2014 | Blog

Profesor sejarah seni Ian McLean menggambarkan kelahiran gerakan seni adat kontemporer pada tahun 1971 sebagai  saat…