Pegawai Negeri

Informasi Pegawai Negeri

Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Usai Sakit, ‘’Ciptakan’’ Telur dan Ayam Herbal

Oct
20
2017
by : . Posted in : Blog

Inspiratif Warga Batam: Bakri SE MSi

SUPRIZAL TANJUNG, Batam

Tidak selamanya sakit di badan akan terjadi secara berkepanjangan. Penyakit yang diciptakan Allah SWT bukan tanpa ada obatnya. Justru lewat sakit yang dideritanya, Bakri SE MSi ‘’menciptakan’’ telur herbail dan ayam herbal untuk penyakit kanker usus kronis-nya.

.

Tahun 1993 Bakri SE MSi masuk Batam dan kemudian bekerja sebagai pegawai di Otorita Batam (OB, kini Badan Pengusahaan (BP) Batam, red). Tahun 2007, dia dicoba Allah SWT dengan penyakit kanker usus. Berbagai obat sudah diminum. Banyak dokter telah didatangi. Tidak sedikit orang ahli di bidang pengobatan tradisional ditemui. Ironinya, kanker tadi tidak juga mau pergi. Tetap melekat di tubuh, bahkan semakin parah. Saat duduk dan lainnya, dari ‘’belakangnya’’ mengalir/ ke luar daerah segar.

Bakri memegang ayam herbal dan daun herbal di rumahnya, Minggu (15/10/2017). F Suprizal Tanjung

‘’Puncaknya, dokter yang menangani saya di Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) mengatakan usus saya harus dipotong,’’ ujar Bakri mengulang ucapan dokter saat itu di Bengkong Otorita, Batam, Minggu (15/10/2017).

Kepala Seksi Tratib, Kelurahan Kampung Seraya ini menyebutkan, dokter mengatakan ususnya harus dipotong sepanjang 30 cm. Langsung, dengan merapatkan dua telapak tangan, Bakri memohon kepada dokter untuk mengizinkannya pulang ke rumah. Dia beralasan akan meminta izin dulu kepada istrinya, Suhartini (mantan Humas Pemko Batam), dan keempat anaknya.

Ketika itu, alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (tamat tahun 1986) ini berpikir, kalau ususnya dipotong, tentu akan mengurangi daya tahan tubuhnya. Badannya tentu tidak lagi kuat, sistem imun (kekebalan) tubuhnya akan berkurang drastis. Ini tentu sangat berbahaya dan merugikan badannya, dan juga keluargannya. Kesedihan, kekecewaan, dan kepanikan ini berawal dari pola makan yang tidak sehat. Berbagai perasan tidak baik menyatu dalam hati dan pikiran. Terlebih, dalam sakitnya ada berita, seorang kawannya meninggal karena kanker usus.

Di tengah kesedihan tadi, lelaki asal Minang kelahiran 4 Februari 1961 itu membaca buku ‘’Dahsyatnya Terapi Puasa’’ terbitan Gramedia. Banyak manfaat puasa untuk pengobatan di dapat dari buku itu. Ahli kesehatan luar negeri bergelar dokter, doktor, dan profesor mengakui manfaat dan dahsyatnya puasa. Ketika 10 hari puasa, menjadikan darah manusia sehat dan bersih sebanyak 30 persen. Lalu, usai 20 hari puasa, menjadikan darah manusia sehat dan bersih sebanyak 60 persen. Kemudian, usai 30 hari puasa, menjadikan darah manusia sehat dan bersih sebanyak 100 persen. Puasa membuat sistem imun tubuh menjadi sempurna dan bekerja maksimal. Saat puasa, lemak di tubuh terbuang.

Puasa pun dilakukan anak ketiga dari sebelar bersaudara ini. Tidak tanggung-tanggung dia berpuasa empat kali dalam seminggu. Pertimbangannya, Nabi Daud (David, red) terkenal dengan puasa Nabi Daud yaitu hari ini puasa, besok tidak, lusa puasa. Begitu seterusnya dilakukan Nabi Daud. Mungkin ini yang menyebabkan Nabi Daud sehat, kuat, perkasa, dan panjang umur. Selain itu, dia juga mengiringi puasa tadi dengan meminum air daun-daun, dan memakan daun-daun, seperti mengkudu (pace) petai cina, pisang, daun ketapang, daun mahkota dewa saat berbuka.

Setelah enam bulan terapi puasa dan makan/ minum daun-daun, hasilnya Alhamdulillah. Berat badannya turun dari 86 kg menjadi 76 kg. Turun 10 kg. Yang luar biasa, kanker ususnya sembuh. Tak lagi setetes pun darah mengalir dari ‘’belakang’’.

Kesembuhan Bakri, membuat anak, istri, tetangga, dan kawan-kawannya heran, gembira, sekaligus takjub. Kanker usus tidak mampu memadamkan keindahan, justru kanker usus itu yang berhasil ‘’dibinasakan’’ Bakri.

Usai sembuh, ada yang aneh. Semangat Bakri untuk membaca meningkat. Tiap hari dia membaca koran. Tidak ada bagian koran yang tersisa. Kemudian dia mendaftar dan kuliah Akta 4 di Universitas Riau Kepulauan (Unrika) tahun 2008. Pihak Unrika heran dan bertanya kenapa Bakri yang sudah berumur 47 tahun masih mau kuliah? Bakri menjawab bahwa dia ingin belajar dan ingin memenuhi semangat membaca yang terus meningkat. Akhirnya, Akta 4 pun diraih.

Itu belum selesai. Semangat membaca dan belajarnya terus bergelora. Solusinya harus berhenti dari OB agar bisa kuliah S2. Dia lalu pindah sebagai PNS di Kabupaten Banjar Negara, Provinsi Jawa Tengah. Dari pesangon sebagai karyawan BOB itulah, dia kuliah S2 di Jurusan Keuangan Daerah, Fakultas Ekonomi, Universitas Jenderal Soedirman. Kuliah selama 1 tahun 9 bulan. Lulus tahun 2013 dengan IPK 3,46. Gelar MSi pun diraih.

Dalam masa sehat dan kuliahnya itu Bakri makin yakin dengan puasa dan daun-daun. Dia pun memperhatikan, beruk (kera), ayam, bebek, dan hewan lainnya memakan daun-daun. Hewan tadi sehat, tidak berpenyakit, tidak terkena darah tinggi, stroke seperti manusia. Ini petunjuk positif. Bakri berpikir, biar lebih cepat dan mudah tubuhnya menyerap saripati vitamin dan obat daun-daun itu, maka daun-daun tadi diberikan kepada ayam.

Puluhan ayam kecil dibeli. Ayam-ayam itu diberi daun-daun mengkudu (pace) petai cina, pisang, daun ketapang, daun mahkota dewa, serta pisang. Sekali-kali, diberi pur. Begitu badan ayam agak besar dan setelah terbiasa, unggas tadi total diberi daun-daun. Tak lagi diberi pur.

Ayam itu lalu dimasak sup. Air sup itu diminum. Lalu dipanaskan lagi dan airnya diminum lagi. Begitu terus sampai daging ayam itu habis karena dipanaskan terus. Telur ayam yang diberi daun-daun tadi juga mengalami perubahan. Warna bagian luar kuning telur berwarna ‘agak’ kehijauan. Rasanya juga ‘ada’ rasa pahitnya sedikit. Air sup ayam, dan telur herbal, inilah yang terus dikonsumsi Bakri. Tentu saja diiringi puasa Nabi Daud-nya.

Keberhasilan puasa dan mengonsumsi ayam herbal dan telur herbal itu terus dilanjutkan Bakri. Semangat memelihara ayam dan merawat telurya pun terus bertambah. Ayam diperlihara, dijual, dan ada yang dimakan. Telurnya dijual seharga Rp 5 ribu per butir. Dalam waktu luangnya, ada saja orang datang bertanya, konsultasi ingin sehat seperti dia. Para tamu, dan kawan-kawannya jadi tahu dan suka mengonsumsi telur dan ayam herbal tersebut. Ini menjadi penghasilan tambahan Bakri sebagai Pengawai Negeri Sipil (PNS).

‘’Bagaimanapun juga, telur dan ayam herbal ini hanya perantara. Semua kesembuhan ada di ‘’tangan ‘’ Allah. Tetaplah meminta sembuh kepada Allah,’’ ingat Bakri.

Adakah Bakri ingin beternak ayam secara profesional? Rencana ke arah sana sudah ada. Itu memerlukan lahan luas. Untuk itu, dia harus pulang kampung di Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar). Di sana ada tanah keluarga. Bisa dimanfaatkan. Di lahan itu nanti bisa dipagar dan diisi puluhan sampai ribuan ayam. Di lahan itu pula, ditanam tumbuh-tumbuhan yang daunnya bisa dimakan ayam guna menghasilkan ayam dan telur herbal. Kapan itu bisa direalisasikan? Bakri menjawab mungkin nanti, setelah dia pensiun. ***


Suprizal Tanjung’s Surau

loading...


bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya Usai Sakit, ‘’Ciptakan’’ Telur dan Ayam Herbal

Thursday 1 May 2014 | Blog

Anda dapat menggunakan kembali atau mengubah unsur-unsur seperti motif dan jahitan juga. Jika Anda telah kaitan…

Wednesday 9 August 2017 | Blog, Diklat, Dokumentasi, Produk

Tim gabungan Polres Kapuas berhasil mengamakan YU (43) yang tertangkap sedang mengangkut kayu illegal di DAS…

Monday 14 August 2017 | Blog, Diklat, Dokumentasi, Produk

Kepada: Kepala Sekolah TK/SD/SMP Negeri. Dinas Pendidikan Kota Surabaya akan mengadakan diklat penulisan artikel yang akan diterbitkan…

Tuesday 20 June 2017 | Blog, Diklat, Dokumentasi

Komputer dengan protokol TCP/IP dapat terhubung ke komputer lain dan jaringan lain karena bantuan peralatan jaringan…