Menu

Tinggalkan Kebun, Jadi Pelukis Profesional

Oct
27
2017
by : . Posted in : Blog

Kisah Inspiratif Warga Batam: Asep

SUPRIZAL TANJUNG, Batam

JANGAN pandang enteng hobi melukis. Di tengah krisis ekonomi dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan, ternyata melukis bisa menjadi sandaran hidup. Itulah yang dijalani pelukis profesional Batam, Asep selama 18 tahun terakhir.

Berita: Tinggalkan Kebun, Jadi Pelukis Profesional di Batam Pos, Rabu (25/10/2017). F Suprizal Tanjung

Tahun 1999, adalah masa-masa sulit bagi Asep. Ketika itu dia belum memiliki pekerjaan tetap. Untuk menutup biaya hidupnya, dia menerima pekerjaan apa saja. Salah satunya bekerja di kebun sayur, Tembesi, Batam tahun 1999. Kerja di kebun, tentu saja relatif berat bagi orang yang tidak biasa mencangkul, menanam, berpanas-panas, dan berhujan-hujan.

Dalam mencari sesuap nasi tadi, lelaki kelahiran Cianjur, Jawa Barat (Jabar) 25 September 1983 ini tidak memiliki pantangan. Suka tidak suka, semua pekerjaan di kebun dilalui Asep. Pekerjaan menanam dan segala macamnya, serta bekerja di satu perusahaan di Mukakuning cukup lama dijalani.

Tahun 2004, Asep berhenti bekerja sebentar untuk menikahi seorang gadis di Yogyakarta. Usai ijab kabul, pasangan suami istri (pasutri) baru itu kembali lagi ke Batam. Dalam perjalanan, dia membulatkan tekat untuk mengganti pekerjaan demi merubah nasib. Sumber ekonomi baru yang dilakukannya sangat bertolak belakang dengan pekerjaannya saat pertama kali berada di Batam. Kali ini dia mencoba melukis.

‘’Ya melukis. Nampaknya seperti hal baru. Melukis adalah kesenangan saja sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dulu,’’ sebut Asep, Selasa (24/10/2017).

Tempat pertama untuk menuangkan kreasinya dalam melukis adalah di depan toko Ballyson, depan pujabahari Nagoya, Batam. Cukup lama, bapak dua anak ini melukis dan melukis, serta memajang hasil lukisannya tanpa disentuh pembeli. Paling banyak terjadi, lukisan itu hanya dipandang orang yang lalu lalang. Hasil pertama melukis tidaklah besar. Untung Rp 10 ribu pun, diterima, dan lukisan itu dijual walau tidak ada frame (bingkai). Bagi Asep, laku sedikit dalam satu hari tidak apa-apa. Yang penting dia dan istrinya bisa makan.

Pelan tapi pasti. Lukisan pemandangannya mulai diminati masyarakat. Letak kios di Nagoya, menjadi salah satu kunci keberhasilan buah tangannya. Pundi-pundi uang mulai masuk dan terkumpul. Pengembangan usaha perlu dilakukan agar mendapatkan pemasukan lebih besar lagi. Caranya dengan menambah kios dan work shop.

Buah kesabaran dan kerja keras anak keenam dari tujuh bersaudara selama ini mulai membuahkan hasil. Kini Asep sudah memiliki empat workshop/ stan. Lokasinya di lantai dua depan Sim Corner, BCS Mall, di lantai 1 Blok H No. 32 DC Mall, di lantai 2 depan furniture DC Mall, di ruko Valley Park Blok B No. 12 depan Perumahan Kopkar PLN, Batam Centre.

Dulu, dia yang melukis, dan dia pula yang menjaga workshop/ stan. Kini tidak lagi. Untuk menjaga dan mendistribusikan lukisan-lukisan pemandangan tersebut, pelukis aliran landscace (natural, pemandangan) ini mempekerjakan enam karyawan. Bahan dan alat lukisannya berupa cat minyak, kanpas, palet dan lainnya kini semakin banyak dan dari kualitas terbaik. Tujuannya, agar hasil lukisan alam-nya pun sudah selevel pelukis nasional.

Lukisannya kini juga sudah tidak lagi murahan. Harganya sudah mulai naik. Mulai dari Rp 100 ribu sampai Rp 10 juga. Pelanggannya mulai dari masyarakat umum, pengusaha, pejabat, politisi, hingga pihak perhotelan dan perkantoran. Dari empat workshop tadi, setidaknya dia mendapatkan omzet antara Rp 10 juta sampai Rp 30 juta.

Bapak dari dua anak ini mengakui, rezeki yang diperolehnya tidak lepas dari usaha, kerja keras, dan doa. Dalam bekerja selalu mengutamakan harga murah, kualitas. Tip lainnya adalah selalu mengikuti kemauan pelanggan. Lukisan apapun, sepanjang bisa dikerjakan, akan dilakukan demi kepuasan pelanggan. ***


Suprizal Tanjung’s Surau

artikel lainnya Tinggalkan Kebun, Jadi Pelukis Profesional

Monday 5 February 2018 | Blog

Dihadiri Menristekdikti, Prof H Mohammad Nasir Ph. D. Ak. dan MenPAN-RB, Dr. H. Asman Abnur S.E,…

Friday 15 September 2017 | Blog

Satu narapidana (napi) Rutan Kapuas, Abdullah Ghani alias Ghani alias Bambang Suharto (40) kabur. Kepala Rutan…

Monday 2 June 2014 | Blog

Kata sari berasal dari bahasa Sansekerta Sati yang berarti ‘strip kain’ dan sadi atau SADI di…

Thursday 19 June 2014 | Blog

Baiklah topic bahasan kita kali ini adalah BATIK DARI KABUPATEN BENGKULU. Kita mengetahui Motif asli kain…