Pegawai Negeri

Informasi Pegawai Negeri

Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Sampah Jadi Penerang di Rumah Mewah

Oct
11
2017
by : . Posted in : Blog

Kisah Inspiratif Warga Batam: Hanafi

SUPRIZAL TANJUNG, Batam

LEWAT kreativitas, sampah tidak lagi menjadi barang tidak berguna. Dengan kreativitas serta inovasi, sampah bisa menjadi ‘’penerang’’ di rumah sakit dan rumah-rumah mewah. Sudah tentu, uang jutaan pun akan mengalir.

Berita Sampah Jadi Penerang di Rumah Mewah di Batam Pos, Rabu (11/10/2017). F Suprizal Tanjung

Warga Bengkong Indah, Hanafi mengaku telah banyak pekerjaan yang dilakukannya. Bekerja sebagai tukang las, dan memperbaiki rumah telah dijalaninya. Semua itu belum memuaskan dan mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya dengan baik. Terutama sekali untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan empat anaknya yang masih kecil.

Tahun 2015 lalu, lelaki kelahiran 28 Desember 1978 ini berpikir bagaimana cara menghasilkan sesuatu tanpa membuat pusing kepala? Kok pekerjaan bisa membuat pusing kepala? Ada. Bagi Hanafi, satu pekerjaan yang banyak kompetitornya, jelas akan membuat masalah. Paling utama, jelas pesaing akan mengurangi pendapatan (omset) karena masyarakat ada pilihan produk. Kedua, ini akan berdampak kepada kelangsungan hidup usaha yang digelutinya berupa kerugian dan gulung tikar.

Lantas usaha apa yang harus dilakukan di tengah masyarakat Batam yang kompleks dan penuh kompetisi ini? Banyak belajar dan melihat sesuatu yang baru dan menarik, membuat Hanafi berpikir untuk mengolah limbah industri menjadi lampu.

Limbah industri berupa ban, akrelik, triplek, aneka produk plastik, yang ada pada satu perusahaan di Telagapunggur menjadi targetnya. Barang tidak berguna berbentuk bulatan berbahan ban itu dibelinya beberapa kilogram saja.

Hanafi yang merupakan keluarga angkat dari Ani Idrus dan Said yang memiliki Koran Waspada di Sumatera itu menambahkan, ban tersebut lalu dipadukannya dengan lem, tali, kawat, plastik, kabel-kabel, dan lampu. Tidak lebih dari satu sampai dua jam, barang-barang tidak berguna tadi telah berubah bentuk menjadi lampu. Ada tiga jenis lampu yang mampu diproduksinya, yaitu lampu hias, lampu duduk, dan lampu belajar. Kerajinan tangan tadi ditawarkan kepada para tetangga, dan kawan-kawan, baik yang dekat maupun lokasinya agak jauh dari Bengkong Indah.

Hasil dari promosi langsung itu memang belum maksimal. Baru satu dua saja lampu seharga Rp 65 ribu sampai Rp 70 ribu terjual. Hasilnya tentu hanya Rp150 ribuan. Mana cukup untuk satu rumah tangga. Mungkin barang yang dihasilkan sedikit. Perlu banyak. Ini untuk meyakinkan orang banyak bahwa dia serius menggeluti dunia lampu dari limbah ini.

Jika awalnya, Hanafi hanya membeli beberapa kilogram saja, selanjutnya dia membeli limbah sebanyak satu ton serharga Rp 1,8 juta. Dari limbah tersebut, tentu saja lampu yang dihasilkan lebih banyak lagi.

Jurus marketing sederhana berupa promosi mulut ke mulut, dan menawarkan langsung kepada konsumen, membuat produk lampu hiasnya mulai dilirih masyarakat. Satu dua kawan dan tetangga mulai membeli. Waktu terus berjalan, dan promosi pun tetap dilakukan. Tidak butuh waktu satu tahun. Lampu produksinya telah dibeli banyak para pengusaha, dan satu rumah sakit di Batam. Inovasi terus dilakukan. Dari ban tadi, dia mecoba memuat asbak rokok dan dijual Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu. Hasilnya cukup elok. Dan pastinya, lampu-lampu dan asbak rokok yang dihasilkan lebih tahan banting, anti air, dan tahan lama.

Hasil produksi dan penjualan lampu ini tidak mempuat Hanafi puas. Dia terus mengembangkan kemampuan dan potensi diri. Bila awalnya hanya memproduksi lampu hias, dia juga membuat kursi dari ban. Setidaknya dari satu ton limbah, dihasilkan enam set kursi cantik. Satu set kursi Rp 1,2 juta. Kini, sudah terjual 17 set kursi dari ban. Kursi itu telah masuk dan menjadi penghuni tetap rumah besar dan elok masyarakat Batam.

Tidak cukup sampai di situ. Hanafi juga membuat kano (perahu panjang, red) terbuat dari limbah fiber. Kano ini disewakan Rp 100 ribu per jam di tempat wisata Ocarina, Batam Centre. Khusus kano ini, Hanafi tidak mau memproduksi banyak cukup satu saja. Bila Pemko Batam, pengusaha, atau pihak Ocarina mau bekerja sama, dia siap membuat 10 kano. Kalau ada yang berminat, kano yang sudah dibuatnya juga akan dijual Rp 4,5 juta.

Lewat kreativitas dan inovasi dari limbah tadi, kini Hanafi sudah bisa bernapas lega. Penghasilannya mencapai belasan juta per bulan.

Bicara tentang usaha, dan kenapa harus limbah industri? Hanafi mengatakan, usaha olah limbah ini kurang, bahkan hampir tidak ada pesaing. Orang malas berhubungan dengan limbah. Ada kecenderungan, bila bicara limbah terkesan di bawah. Sekarang tidak masanya lagi berbicara atas dan bawah. Level tidak akan merubah kehidupan perekonomian. Asalkan halal, tidak menggantu orang lain, satu pekerjaan akan dianggap baik. Apalagi bila hasilnya banyak. ***


Suprizal Tanjung’s Surau

loading...


bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya Sampah Jadi Penerang di Rumah Mewah

Wednesday 16 April 2014 | Blog

Jarik adalah kain batik yang mempunyai berbagai macam motif Pada masa lalu nyamping atau jarik yang…

Tuesday 22 April 2014 | Blog

Tips Cara Memilih Pakaian Pria yang Sesuai Bentuk Tubuh – Memilih pakaian yang sesuai dengan bentuk…

Saturday 26 April 2014 | Blog

Tahun 1920 adalah dekade di mana mode memasuki era modern. Itu dekade di mana perempuan pertama…

Sunday 8 June 2014 | Blog

Baju muslim yang terbuat dari batik saat ini memang mudah dan banyak sekali ditemukan di berbagai…