Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Jejak Kota Bataguh di Kapuas, Banyak Tersimpan Peninggalan Kuno

Sep
06
2017
by : . Posted in : Blog, Diklat, Dokumentasi, Produk

LUAS wilayah Kabupaten Kapuas adalah 14.999 km atau 9,77 persen dari luas Kalteng yang terbagi atas 17 kecamatan, 214 desa serta 17 kelurahan. Kabupaten Kapuas banyak memiliki sungai-sungai besar maupun anak sungai. Sungai besar disebut Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas.

Kabupaten Kapuas banyak memiliki potensi obyek wisata, namun tidak digarap dengan baik. Antara lain seperti air terjun Gunung Puti yang terletak di Desa Masuparia, Kecamatan Mandau Telawang, air terjun Bunut yang berada di Desa Tumbang Tukun, Kecamatan Pasak Telawang, wisata Pulau Telo yaitu pulau kecil yang berada di DAS Kapuas.

Ada wisata primata yakni terdapatnya ratusan ekor monyet jinak di Pulau Lampehan, Desa Keladan, Kecamatan Mantangai serta wisata Bekantan di Pulau Kupang, Kecamatan Bataguh. Di sini juga terdapat ratusan ekor bekantan.

Dibalik itu ternyata Kabupaten Kapuas juga menyimpan situs benda bersejarah yang berumur ratusan tahun. Salah satunya adalah di Kecamatan Bataguh. Di sana terdapat sebuah Kuta atau Benteng, tepatnya di Kelurahan Pulau Kupang. Di tahun 1990 an, pihak cagar budaya dari Provinsi Kalteng pernah melakukan analisis di lapangan. Namun entah kenapa proses itu terhenti.

Kemudian baru-baru ini, tepatnya pada Senin (28/8/2017) dan Selasa (29/8/2017) kemarin dilakukan analisis lagi di tempat yang sama. Dua petugas yang melakukan analisis atau rekonstruksi area di lapangan, seperti Gauri Vidya Dhaneswara, S.Psi, A.Ant dari Analis Potensi Cagar Budaya dan Koleksi Musium serta Markorius, SH dari Kepala Seksi Registrasi dan Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Kalteng.

Gauri yang ditemui, Sabtu (2/9/2017) mengatakan, selama dua hari itu pihaknya melakukan rekonstruksi area, terutama pada permukaan tanah. Alat yang digunakan untuk mengetahui keberadaan situs atau untuk melakukan titik koordinat dan mata angin dengan menggunakan GPS.

“Dari rekonstruksi area itu, posisi situs yang ditemukan sangatlah luas mencapai 5.000 meter persegi dan diantaranya terdapat sungai-sungai kecil,”terang Gauri.

Ditambahkannya, dalam rekonstruksi area ini temukan perhiasan dari batu, dayung dan peralatan rumah tangga dari kayu. Ada juga ditemukan kemudi kapal terbuat dari kayu dengan ukuran sekitar 5 meter. Dan benda itu sudah hancur setelah ditemukan sekitar tahun 1987 yang lalu. Selain itu juga ditemukan emas yang sudah dalam bentuk perhiasan.

“Saat ini kami belum melakukan pengalian. Namun rencana pengalian harus dilakukan dengan matang dengan melibatkan, seperti dari Balai Arkeologi Wilayah Kalimantan di Banjarbaru Kalsel. Namun sebelumnya harus dilakukan pemetaan terlebih dahulu,” tuturnya.

Kemudian pada saat dilakukan pemetaan dengan menggunakan alat ukur spedometer, jaraknya sekitar 8 kilometer. Pihaknya juga sudah menemukan tempat orang beristirahat.

Dari keterangan warga sekitar mengatakan bahwa posisi situs dengan luasan sekitar 5.000 meter persegi yang mana dibatasi dengan handil-handil.

“Hari pertama yang kami lakukan adalah masuk ke bagian tengah, ditemukan dua buah bangunan kecil, dan dianggap sebagai tempat keramat atau tempat orang berhajat,” terangnya.

Dari sisi-sisi sungai kecil ditemukan ratusan tiang ulin berbentuk log dengan ukuran 40 X 40 cm. ulin-ulin tersebut tampak tersusuk rapi dengan kedalaman sekitar 6 meter yang merupakan benteng.

Diceritakan Gauri Bataguh pada masanya sebagai pusat perdagangan cukup tersohor, seperti dari Asia dan Cina. Terbukti dengan ditemukannya manik dari Cina.

Namun pragmem keramik Cina tak ditemukan masanya antara tahun 1400 -1600 jaman Dinasti Ming melalui perdagangan. Sehingga disimpulkan ada indikasi di Bataguh ada perdagangan orang-orang dari Timur tengah dengan ditemukannya manik bintang dan bulan. Contoh ditemukannya meriam. Meriam di dunia pertama kali diproduksi oleh Cina dan dibuat secara masal. Penemu mesiu pertama kali adalah Cina.

Kemudian ditemukan tembikar dan diperkirakan tembikar dibakar dalam jumlah massal dengan suhu panas yang terbatas.

Ditanya apakah benar dulunya di sini ada Kerajaan Bataguh, Gauri tak berani berasumsi seperti itu, namun yang pasti di sini ada Kuta atau Benteng. Dari pengakuan warga setempat, benteng ini banyak mengalami kerusakan, akibat terjadinya kebakaran hutan yang cukup besar di Bataguh pada tahun 1997 lalu.

“Kita berencana akan melakukan uji carbon, sehingga nantinya akan diketahui umur barang yang ditemukan,” janjinya.

Damang atau Kepala Adat Bataguh, Darmandi, SH yang ikut dalam rekonstruksi area mengakui adanya kerajaan Batahun pada ratusan tahun yang lalu, sehingga tahun 2013, Pulau Kupang (pemukiman purba), Kecamatan Bataguh masuk dalam katalog benda cagar budaya atau situs Kalteng.

“Dulunya (semasa itu)di Bataguh ada kerajaan yang dipimpin seorang wanita cantik. Namanya Nyai Undang. Dia seorang raja yang cantik dan berambut panjang. Nyai Undang selain berani juga sakti,” kata Darmandi.

Di lokasi Kuta Bataguh ditemukan sebuah tempat yang digunakan masyarakat untuk bernazar. Tempat itu berupa rumah kecil berukir gambar naga. Di keduanya ada masyarakat yang menaruh sesajin.

“Mereka yang datang ke sini ada yang dari Philipina, Singapura, Eropa maupun dari Jawa. Kita tidak tahu darimana mereka bisa menuju ke sini untuk bernazar. Padahal masyatakat Kapuas sendiri hanya sebagian yang tahu,”tambahnya.

Untuk itu dirinya meminta kepada pihak terkait dari Pemkab Kapuas untuk menjaga dan melestarikan Kuta Bataguh di Pulang Kupang ini. Ini adalah satu-satunya meninggalan cagar budaya di Kabupaten Kapuas.

Camat Bataguh Budi Kurniawan mengatakan, dengan adanya situs ini, maka nantinya akan menjadi aset benda bersejarah. Kemudian dalam waktu dekat dari Dinas Pariwisata Provinsi Kalteng dan Balai Arkeologi Kalimantan datang ke tempat ini untuk melakukan pendalaman. Untuk itu dirinya meminta adanya fasilitas umum untuk menuju ke lokasi ini sebagai tempat wisata bersejarah.

Camat Bataguh sempat mendatangi dua warga sekitar yang menyimpan situs benda bersejarah itu, yakni di rumah Anto.
Di tempat ini disimpan dua pengayuh yang terbuat dari ulin, gasing, pisau dari ulin, batu asahan, potongan rantai kapal maupun sumpit.

Kemudian barang yang disimpan di rumah Hj Siti Sainah, seperti serbuk emas, gasing, biji pohon ulin, batu berukuran besar, kalung manik-manik, tutup dandang, sendok terbuat dari kuningan serta pipa untuk merokok. Sejak dia menyimpan benda ini, Hj Siti sainah sering kesurupan seminggu sampai 2 kali. Namun setelah dia berhaji, sampai sekarang tak pernah lagi kesurupan.

Sumber: http://kalteng.tribunnews.com


Info Kabupaten Kapuas

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya Jejak Kota Bataguh di Kapuas, Banyak Tersimpan Peninggalan Kuno

Tuesday 31 October 2017 | Blog

Setelah berkontemplasi dan mempelajari mengapa kok negara kita terbebani begitu banyak pengeluaran, usut punya usut dan…

Friday 17 February 2017 | Dokumentasi

Kepada : Yth. Sdr. Kepala SMP Negeri se Kota Surabaya Dalam rangka menunjang peningkatan mutu Guru…

Saturday 26 August 2017 | Blog, Diklat, Dokumentasi, Produk

JADWAL DAN DAFTAR PESERTA DOWNLOAD DIBAWAH INI : – DAFTAR PESERTA PRE TEST 2017 disdikkepeglmg

Thursday 7 August 2014 | Blog

Dengan begitu banyaknya pengusaha batik maka di buthkan kecermatan dalam memilih perusahaan yang bonafit, disini kami…