Pegawai Negeri

Informasi Pegawai Negeri

Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Bikin Epok Epok Ana, Tembus Australia

Sep
29
2017
by : . Posted in : Blog

Kisah Inspiratif Warga Batam: Ruzana

SUPRIZAL TANJUNG, Batam

EPOK Epok, makanan khas Melayu dibawa sampai ke Malaysia, Singapura, bahkan Australia. Dengan fokus menjual Epok Epok Ana, Ruzana bisa meraih omset Rp 120 juta sampai Rp 180 juta per bulan.

Guntingan berita Epok Epok Ana, Tembus Australia naik di Batam Pos, Rabu (27/9/2017). F Suprizal Tanjung

Ruzana atau Ana mengaku mengaku bukan tipe perempuan yang mau berdiam diri. Dia adalah perempuan aktif dalam berusaha. Banyak pekerjaan dilakukan ibu tiga anak ini. Mulai dari menjual goreng pisang ubi, lontong, mie lendir, risoles, sayur mayur, dan lainnya. Semua itu belum memuaskan secara finansial.

Selain itu, wanita kelahiran Batam 25 Agustus 1973 ini juga suka belajar dan membuat kue. Tapi kue yang dipelajari adalah kue yang hanya bisa dijual, seperti epok epok.

Tahun 2012, seorang kakak angkatnya (kini sudah almarhun) yang tinggal di Singapura menawarkan modal untuk berusaha. Modal yang ditawarkan Rp 100 juta. Namun, Ana merasa takut bagaimana cara membayar utang sebanyak itu. Tawaran itu ditolak. Alasan Ana, ya kalau terbayar. Jika tidak terbayar, tentu dia akan berutang banyak. Suasana kekeluargaan tentu akan retak dan rusak. Ana tidak mau hal itu terjadi. Diambil satu keputusan, Ana hanya meminjam uang Rp 10 juta untuk usaha Epok Epok.

‘’Kakak angkat membantu membelikan mesin membuat dan mengolah bahan untuk Epok Epok Ana, kulkas, dan lain-lainnya,’’ papar Ana di tempat usahanya, di Bengkong Laut, tepatnya di samping lapangan sepak bola Bengkong, Senin (25/9/2017).

Sejak itulah, anak kedua dari enam bersaudara ini mulai berusaha membuat makanan khas Melayu dibantu seorang karyawan. Selama dua tahun (sampai 2014), Ana berjualan sore hari saja. Awalnya, dia hanya membuat Epok Epok Ana dengan bahan tiga kg gandum/ terigu. Makanan ini dijual di depan rumahnya. Pelanggannya adalah para tetangga, dan masyarakat di sekitar Bengkong Laut. Kritik membangun soal rasa, tempat usaha, kemasan, dan lainnya banyak datang dari keluarga, kawan, dan tetangga. Epok Epok Ana resep sepupunya itu terus mengalami perbaikan rasa, dan bumbu.

Dua tahun kemudian (2014), dia mendapat masukkan kenapa tidak menjual Epok Epok Ana pada pagi hari? Masyarakat butuh Epok Epok di pagi hari. Waktu berjualan pun berubah, dari pagi sampai sore.

Berawal dengan tiga kg gandum/ terigu memproduksi Epok Epok Ana, lalu meningkat menjadi 10 kg, 20 kg, 50 kg. Terakhir mencapai 100 kg per hari. Pelanggannya semakin bertambah. Jika awalnya hanya tetangga, dan warga Bengkong Laut, bertambah menjadi warga Bengkong, Batuampar, Batamkota, hingga Batuaji. Profesi pelanggannya juga beragam, mulai dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI, Polisi, satpam, ustaz, ibu-ibu pengajian, kelompok yasinan, pihak kelurahan, kecamatan, dan lainnya. Omset Senin, Selasa, dan Rabu biasa saja. Pada Jumat, Sabtu, dan Minggu omset meningkat dari biasanya karena warga banyak yang melaksanakan pengajian (doa, red), Yasinan, dan lainnya dimana semua itu membutuhkan kue.

Saking banyaknya permintaan pelanggan. Ana pernah kewalahan akan semua itu. ‘’Pernah saya menolak permintaan pelanggan membuat Epok Epok Ana. Karyawan juga sudah menyerah karena bekerja sudah di luar batas kemampuan normal mereka. Jadi permintaan itu terpaksa ditolak. Tapi itu tidak selalu (terjadi, red),’’ sebut perempun berjilbab ini.

Dia mengaku, satu hari bisa memproduksi 4.000 sampai 6.000 buah Epok Epok. Ada tiga jenis kue yang diproduksi. Kue berisi kentang, dijual Rp 1.000 per buah, kue berisi telur dan kentang Rp 1.250 per buah, dan kue berisi kentang serta (ikan) sarden Rp 1.250 per buah.

Hasil penjualan oleh-oleh khas Batam ini di luar perkiraan dan tidak diduga. Omsetnya mencapai Rp 4 juta sampai Rp 6 juta per hari. Dia tidak lagi berdagang di rumah, tapi di satu rumah toko (ruko) di depan rumahnya. Ruko itu dibangun sendiri. Semua yang didapatnya saat ini, tidak datang secara mendadak.

‘’Semua butuh perjuangan, doa, dan bantuan orang banyak,’’ sebut Ana.

Oleh-oleh khas Melayu ini sudah pernah dibeli warga Batam, dan wisatawan mancanegara untuk dibawa ke Malaysia, dan Singapura. Bahkan ada warga Batam yang meminta Epok Epok ini dipaket dengan alamat Australia. Sangat membanggakan. Produk lokal telah merambah mancanegara.

Kehadiran Epok Epok Ana yang semakin dikenal dan disukai, membuat seorang pengusaha di Batam heran sekaligus bertanya.

‘’Tak banyak orang Melayu pandai dagang/ berusaha. Anda orang Melayu?’’ tanyanya.

Ana menjawab bahwa dia anak dari H Ahad Kasim, seorang pedagang ikan dulunya di Bengkong Laut. Agak terkejut sekaligus senang, pengusaha tadi mengaku bahwa H Ahad Kasim orang Melayu yang gigih dan pandai berdagang.

Informasi dari mulut ke mulut semakin mengenalkan Epok Epok Ana ke tengah masyarakat. Kelezatan makanan ini sampai juga ke pihak perhotelan. Tercatat manajemen GGi Hotel, The Hills Hotel datang membeli produknya. Ada lagi beberapa hotel membeli produknya, sayang Ana tidak mencatat apa nama hotel tersebut. Lantas, apakah Ana mempromosikan Epok Epok Ana hingga hotel-hotel besar tadi membeli produknya? Tidak. Produknya dikenal karena rasa puas pelanggan yang kemudian menceritakan kepada orang lain, termasuk kepada manajemen hotel.

Seperti untuk masyarakat lainnya, kata Ana, dia juga menjual Epok Epok Ana dengan cara cash and carry (bayar dan bawa, red). Kalau pakai kontrak atau kerja sama, nanti agak lama pembayarannya, sementara Ana membutuhkan uang cash untuk mengolah dan memproduksi makanan itu.

Epok Epok Ana, papar Ana, diproduksi para janda, ibu-ibu rumah tangga, kaum wanita di sekitar rumahnya. Ada juga wanita yang tidak diterima bekerja di perusahaan karena alasan usia. Jumlah mereka 20 orang. Mereka inilah ‘’mesin penggerak’’ usaha Epok Epok Ana. Mengapa harus janda yang membuat makanan ini? Tidak begitu. Para janda diberdayakan atas dasar kemanusiaan. Di samping memerlukan karyawan, Ana juga merasa kasihan dengan para janda yang tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan. Sementara di rumah, anak-anak harus dibiayai. Termasuk harus membayar PLN, dan ATB (air). Dari mana mendapatkan uang itu? Ya harus bekerja. Para janda tadi meminta pekerjaan, dan Ana pun menerima mereka. Mutualis simbiosis, saling menguntungkan

Karyawannya tidak hanya janda. Ada juga para wanita yang sudah tidak bekerja lagi di perusahaan, bisa jadi karena PHK, atau diberhentikan karena usia sudah tidak muda lagi. Mereka ini diterima karena memang datang ke Ana meminta pekerjaan. Jumlahnya cukup 20 orang. Tidak boleh lebih. Karena kalau lebih, nanti malah over karyawan. Boleh tambah karyawan, bila karyawan lama keluar dan masuk karyawan baru. Jumlahnya tetap 20 orang.

Hal lain yang membuat Epok Epok Ana dikenal masyarakat adalah jiwa sosialnya. Ana tidak berat hati membantu sesama. Masjid sekitar yang mempunyai acara keagamaan kerap dikirimnya kue. Karyawan juga dibebaskan memakan kue sepuasnya tapi jangan bawa pulang. Karena itu tentu akan mengganggu jual beli usaha.

Jika supermarket, mal dan perusahaan besar melakukan kemitraan atau kerja sama dengan pengusaha kecil dan Usaha Kecil Menengah (UKM), maka Ana melakukan hal serupa. Ana mengajak tetangga dan masyarakat sekitar yang tidak bekerja, belum bekerja, agar membuat kue apa saja yang bersih, enak, dan murah. Kue tadi silakan titip dengan cara konsinyasi (titip jual, red) di tempat Ana berusaha. Para tetangga tadi cukup terbantu dengan ajakan ini.

Kue masuk dua trip. Trip pertama pagi, pukul 08.00-12.00 WIB. Trip kedua siang, 12.00-18 WIB. Kue yang dititip sama seperti putu, donat dan lainnya. Dua trip itu gunanya, agar kesegaran dan kebersihan kue terjamin sampai di tangan konsumen. Kue seharga Rp 1.000 per buah itu baru terus. Ana membantu menyediakan kantong plastik gratis untuk kue mitra kerjanya.

Puluhan pengemudi Go-Jek ikut membantu dan mengenalkan Epok Epok Ana kepada masyarakat. Biasanya, warga Batam yang relatif jauh dari Bengkong Laut, meminta jasa Go-Jek membelikan dan mengantarkan Epok Epok Ana. Melalui perantara warga pengguna jasa Go-Jek, kue ini semakin banyak dinikmati warga Batam.

Keuangan bukan lagi masalah bagi Ana dan keluarga. Keuntungannya relatif besar. Sebagai muslimah, Ana tidak lupa mengelarkan zakat harga sebesar 2,5 persen dari penghasilannya sebulan. Itu wajib dikeluarkannya. Di samping zakat karena faktor agama, kakak angkatnya yang memberi modal dulu pernah berpesan agar Ana tidak lupa berzakat, membantu orang lain.

‘’Walau segenggam tepung terigu pun, bagilah kepada orang lain. Itu pesan kakak angkat saya dulu. Itu sangat saya ingat betul dan jalankan,’’ papar Ana.

Bagaimana dengan keluarga terhadap usaha ini? Nurjuwandi, suaminya sangat mendukung. Malah sejak dua tahun lalu, suaminya berhenti bekerja dan fokus membantu Ana membesarkan kue khas Melayu ini. Usaha ini semakin kuat.

Perjuangan dalam berusaha dan jiwa sosial Ana telah membuat hasil. Kini Epok Epok Ana semakin disukai tua muda hingga sampai ke luar negeri. Ana kerap diajak pihak kelurahan untuk mengikuti berbagai di kantor lurah, dan tempat lainnya. Di acara itu, Epok Epok dilihat dan dinikmati banyak orang.

Dalam perjalanan usaha ini, aparat kelurahan Bengkong Laut, Kecamatan Bengkong, Pemko Batam, Pemprov Kepri memberikan bantuan. Ana dibuatkan SIUMK: UIMK/003/CBK/XI/2015, akan dibuatkan sertifikat halal dari LPPOM MUI Kepri. Bentuk perhatian Pemrov Kepri adalah memberangkatkan Ana ke tanah suci Makkah melaksanakan umrah bersama 100 warga Kepri lainnya Juni 2017 lalu.

Lantas, kapan Ana berangkat ke Makkah lagi untuk menunaikan haji penuh? Dengan tersenyum Ana menyebutkan, ‘’Insya Allah. Bantu doa. Saya akan pergi ke Makkah lagi,’’ sebut Ana. ***


Suprizal Tanjung’s Surau

loading...


bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya Bikin Epok Epok Ana, Tembus Australia

Tuesday 17 October 2017 | Blog

Download Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-84/PB/2017 tanggal 12 Oktober 2017, tentang Juknis Pelaksanaan dan…

Saturday 22 July 2017 | Blog, Diklat

Tingkatkan Kemitraan dengan Pemerintah SUPRIZAL TANJUNG, Batam PENGURUS Bundo Kanduang Kota Batam dan Pengurus Bundo Kanduang…

Sunday 18 December 2016 | Blog

Alhamdullilah Dinas Pendidikan Kabupaten Solok Selatan telah berhasil melaksanakan Ujian Akhir Nasional yang dilaksanakan secara sererantak…

Wednesday 7 May 2014 | Blog

Motif Batik merupakan identitas bangsa Indonesia yang mencerminkan semangat Bhineka Tunggal Ika berbeda-beda namun tetap satu…