Survei, Internet dan Kita

Membaca lingkar pertemanan di media sosial semacam Facebook atau Twitter akhir-akhir ini memang memerlukan level kesabaran dan kekuatan mental yang luar biasa. Indonesia sedang terbelah dua. Pemilihan presiden yang hanya menghadirkan dua pasang calon penyebabnya.

Tidak adanya calon incumbent dalam pemilu kali ini juga membuatnya jadi luar biasa. Isu klasik “keberhasilan pembangunan sebelumnya” vs “kita perlu perubahan” menjadi sulit diangkat ke permukaan sebagai bahan kampanye. Kedua calon dan pendukungnya sama-sama menawarkan merek baru, sama-sama membawa visi misi yang penuh janji.

Seiring dengan semakin dekatnya waktu pemilihan, beragam isu mulau bergentayangan. Mulai dari keunggulan masing-masing calon, janji apa yang akan dilakukan jika terpilih, latar belakang calon, soal agama, soal keluarga, hasil beragam survei hingga isu-isu tidak jelas yang kalau dipikirkan seksama sebenarnya konyol luar biasa.

Kali ini mari berbicara tentang hasil survei.

Dikutip dari laman Wikipedianyanya Lingkaran Survei Indonesia – LSI Denny J. A. disebutkan survei dan riset sosial menjadi instrumen penting pertarungan politik. Partai politik, kandidat presiden, kandidat kepala daerah dan elit politik lainnya semakin menyadari akan pentingnya survei pemilih. Lewat survei, posisi, kekuatan dan kelemahan partai atau kandidat bisa diketahui sedini mungkin. Strategi politik bisa dilakukan secara efektif dan efisien karena memperhatikan data mengenai apa yang dibutuhkan oleh pemilih (Wikipedia, 2014).

Kenapa membicarakan hasil survei ini dirasa perlu? Karena hasil survei bisa menimbulkan opini publik. Bisa mengubah pendapat dan mempengaruhi hasil pemilihan.

Terakhir Anies Baswedan, juru bicara salah satu pasangan calon mengklaim bahwa dari hasil survei 9 Lembaga Survei, 7 lembaga survey secara konsisten mengunggulkan pasangan yang didukungnya. Sementara dua lembaga survei mengunggulkan pasangan lainnya.

Paparan Anies ini menyusul klaim dari pihak lawannya yang memberitakan hasil satu lembaga survei yang menyebutkan pasangan tersebut mulai unggul setelah sebelumnya selalu ada diurutan bawah.

Kenapa hasil survei bisa berbeda? Karena yang melakukan survei juga berbeda. Mereka bisa punya perbedaan metode, beda demografis sasaran survei, dan tentu saja, beda penyandang dana survei.

Karenanya, survei mungkin memang penting bagi stakeholder politik. Bagi para politisi dan yang berkepentingan langsung dengan pemilih. Tapi bagi para pemilih sendiri, bagi penduduk, masyarakat awam, bagi kita, survei sebenarnya TIDAK PENTING.

Mengambil keputusan berdasarkan hasil survei adalah hal yang berbahaya jika tidak diimbangi dengan data tambahan lainnya. Sama seperti mempercayai media tanpa tahu siapa di belakang media atau faktor lainnya.

Jadi untuk kita, masyarakat pemilih, sekali lagi, HASIL SURVEI TIDAK PENTING. Putuskan pilihan berdasarkan pertimbangan rasional, apa yang sudah dilakukan calon, rekam jejaknya, visibilitas janji-janjinya, para pendukungnya, atau alasan lainnya yang menurut level otak sampeyan memang bisa dibenarkan.

Selain survei, hal lain yang bisa menipu penilaian adalah lingkaran pertemanan. Jejaring sosial memang sering dianggap sebagai miniatur realitas. Bahwa segala macam jenis manusia ada di sana, sama seperti lingkungan pergaulan kita pada umumnya. Jadi apa yang terjadi di social media, adalah cerminan dari keadaan di luar sana sebenarnya.

Benarkah?

Tidak. Ada beberapa perbedaan yang membuat jejaring sosial tidak bisa dijadikan dasar utama dalam pertimbangan mengambil keputusan di dunia nyata.

Mari kita dalami sejenak asumsi tersebut. Pertama, demografi internet itu tidak menggambarkan secara tepat demografi sebenarnya. Isi internet (khususnya media sosial) berdasarkan data terakhir didominasi oleh pengguna di rentang usia 15-35 tahun. Terkenal di internet belum tentu terkenal di luar internet. Tanyalah orang tua kalian, apakah kenal dengan Edward Snowden, atau Triomacan?

Kedua, selain media sosial yang memang booming, macam Facebook, Twitter, dan sejenisnya, sisi-sisi lain internet didominasi kaum adam. Karena itu, keren di internet belum tentu keren bagi kaum wanita di dunia nyata 😛

Dan ketiga, tentu saja, jauh sebelum membahas perbedaan pendapat, isu dan pilihan politik, kita sadar atau tidak sadar sudah membuat lingkar pertemanan yang kita rasa cocok dengan kita. Kita melakukan seleksi pada siapa yang kita add sebagai teman, siapa yang kita blok. Siapa yang kita follow di twitter dan lainnya. Ini, tentu saja mempengaruhi apa yang kita liat di timeline akun media sosial. Karena itu, populer di lingkar pertemanan kita, belum tentu populer di luar sana. Hal ini berlaku juga untuk pendapat dan ide.

Jadi sebagai penutup, bisa disimpulkan bahwa meskipun terkesan masif dan gaungnya ke mana-mana, isu-isu dan topik hangat di internet belum tentu berpengaruh besar pada publik. Hasil survei hanya penting bagi mereka yang berkepentingan merancang strategi dan perencanaan ke depan.

Oleh karena itu, jika disempitkan pada topik pemilihan presiden 9 juli mendatang, pesannya adalah: jangan pasif. Sampaikan ide-ide kalian agar mampu menjangkau seluas mungkin. Diskusikan dengan rekan kerja, keluarga, kawan tim futsal, siapa saja. Berdebat di internet sebagian besar hanya menghasilkan kepuasan sementara. Mereka yang berlawanan pendapat hanya akan semakin kuat menolak, sementara yang belum memilih hanya akan jenuh melihat.

Demikian.

***

Sebagai hiburan, saya sertakan video musik dari Taylor Swift berikut ini, selamat menikmati.

 

 


A Journal of A Not-Superman Human