Ayo Bung, Ubah Niat Baik Jadi Aksi Baik!

Wawancara Khusus dengan Kadarisman, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Batam

KNPI lahir utuk menumbuhkan, meningkatkan, dan mengembangkan kesadaran sebagai suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

Sempena HUT ke 44 KNPI, Minggu 23 Juli Batam Pos menurunkan wawancara khusus ini untuk menggambarkan bagaimana peran pemuda dulu, saat ini hingga masa depan.

M RIZA FAHLEVI, Batam

sianya masih muda, namun cukup berwi bawa, wawasan nya juga luas. Dialah Kadarisman, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Batam. Kadaris-man diamanahkan sebagai ketua organisasi yang mema yungi suluruh aliran organisasi masyarakat tersebut periode 2014-2017.

 

Kadarisman

Selain sebagai Ketua KNPI, suami Lina Mardiana juga menjadi ujung tombak di Dinas Sosial Kota Batam. “Saya sudah beberapa kali pindah bidang tugas. Posisi dan kali ini saya rasa sangat pas. Sebab sudah lama saya tertarik untuk meng abdi langsung pada masya rakat,” jelasnya.

Perbincangan kemudian dilanjutkan ke hal-hal santai, hingga kemudian bahasan kami menyinggung soal peran pemuda dalam sejarah Indonesia.
Periodesasi sejarah Indonesia moderen memiliki keunikan tersendiri. Pembagian periode sejarah berdasarkan waktu itu diwarnai oleh gerakan pemuda di dalamnya.

Apa yang Anda ketahui soal era ini?
Begini (sambil menyeruput kopi kental pahit, Kadarisman mulai menjelaskan), sejarah Indonesia modern sering disebut berdasarkan periode kebangkitan nasional 1908, sumpah pemuda 1928, prokla masi kemerdekaan 1945, bangkitnya orde baru 1966 dan dimulainya orde reformasi 1998.  Dari sinilah peran pemuda dalam sejarah Indo-nesia sering disebut, intinya diawali oleh peristiwa kebangkitan nasional tahun 1908.
Meski demikian, sebenarnya peran pemuda telah diawali jauh sebelum itu. Hanya bentuk perannya yang berbeda. Se belum 1908, para pemuda lebih banyak berperan dalam perjuangan secara fisik mel awan penjajah namun lebih bersifat sektoral dan tidak terorganisir dalam satu wadah kesatuan. Jadi ini harus jadi catatan.

Tapi, bukankah berdasarkan sejarah, tonggak awal kebangkitan nasional disebutkan diawali dengan berdirinya organisasi Budi Oetomo tahun 1908? Organisasi yang dimotori oleh para mahasiswa Stovia sekolah kedokteran yang didirikan Belanda untuk anak priyayi Indonesia?
Sebentar dulu…. (Kadarisman mengembangkan telapak ta ngannya, tanda penolakan) Hal ini masih menjadi per debatan karena organisasi Budi Oetomo tidak bersifat nasional. Organisasi ini hanya ada di Jawa dan memang khu sus diperuntukkan untuk orang Jawa.

Kontroversi sejarah tersebut tidak bisa menafikan bahwa sejak saat itu perjuangan pe muda telah memasuki babak baru. Perjuangan melalui sarana organisasi telah dimulai. Walaupun dimulai oleh organi sasi yang bersifat kedaerahan, kesadaran untuk menyatu dalam suatu bangsa sudah ada. Dipelopori oleh para mahasiswa yang disekolahkan oleh Belanda dengan kebijakan politik etis.

Tapi paling tidak gerakan kedaerahan tersebut telah menyuburkan faham nasio nalisme?
Yap… Faham nasionalisme memang mulai menyebar dan terwujud dalam peristiwa Sum pah Pemuda tahun 1928. Peristiwa ini menandai adanya semangat untuk bersatu dan berjuang bersama dari para pemuda yang berasal dari seluruh Indonesia. Semangat persatuan dan perjuangan ini terus digelorakan oleh para pemuda hingga mencapai puncaknya ketika proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Soekarno-Hatta.

Peristiwa ini juga diawali dengan kenekatan para pemu da yang menculik Soekarno dan Hatta ke Rengas-Dengklok. Tindakan ini diambil agar mereka mau secepatnya mende klarasikan kemerde kaan. Hal ini bertujuan agar kekalahan Jepang tidak diman faatkan oleh Belanda untuk masuk kembali ke Indonesia.

Penculikan ini membawa hasil dengan dibacakannya proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Momen bersejarah ini menjadi tonggak penting dalam kehidupan bangsa Indonesia selanjutnya. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa tapi tanpa perjuangan para pemuda bisa jadi kemerdekaan itu hanyalah angan-angan semata.

Apakah setelah peristiwa tersebut perjalanan sejarah bangsa ini tidak mengalami hambatan lagi?
Mari kita menoleh ke bela kang sejenak. Setelah proklama si kemerdekaan, banyak kebijakan Soekarno yang tidak sejalan dengan idealisme ketika masih berjuang. Perpecahan Dwitunggal Soekarno-Hatta akhirnya terjadi dan menandai kekacauan pemerintahan orde lama selanjutnya. Kekacauan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk mengambil alih kekuasaan.

Tapi pemberontakan PKI kan akhirnya berhasil digagalkan oleh angkatan bersenjata?
Benar, namun tanpa peran pemuda dan organisasi masya ra kat lainnya, apakah mungkin bagi Soeharto merebut kekua saan dari Soekarno? Tentu tidak bukan? Pemuda yang dipelopori oleh mahasiswa saat itu terus memaksa agar pemerintahan Orde Lama turun dari kursi kekuasaan. Peristiwa tahun 1966 ini menja di titik awal pemerintahan orde baru dibawah kendali Soeharto untuk berkuasa.

Ada anggapan, peran pemuda dalam mengawali berdirinya Orde Baru diibaratkan sebagai pendorong mobil mogok. Ketika mobil itu sudah berjalan kembali maka para pendorong mobil itu ditinggalkan. Bagaimana menurut Anda?
Saya setuju analogi itu. Setelah berkuasa, kebijakan Soeharto justru melakukan represi ketat terhadap gerakan mahasiswa. Aktivitas mereka dibatasi pada awal 1970-an hanya sebatas ruang kuliah dengan NKK/BKK. Sementara itu, peran tentara semakin menggurita dalam kehidupan bangsa melalui dwifungsi ABRI.

Pemerintahan Orde Baru dibangun dengan fondasi ekonomi yang rapuh. Secara politik dan kasat mata memang terlihat adanya kemajuan dalam kehidupan masyarakat. Perbaikan kesejahteraan mulai tampak ke permukaan. Kemak muran sudah dalam pelupuk mata tapi sayang yang lebih dahulu merasakannya hanya kalangan tertentu dalam ling karan kekuasaan saat itu.

Tapi pemerintahan yang rapuh dan kropos suatu saat akan jatuh juga. Krisis moneter mengawali kejatuhan pemerin tahan Orde Baru. Selain itu, gelombang aksi mahasiswa yang terus menggelora menjadi bagai deburan ombak yang tak pernah berhenti. Akhirnya orde baru pun menyerah dan perpindahan kekuasaan pun terjadi. Mereka memang me nyerah tapi tidak kalah.

Baiklah, kita stop membahas sejarah masa lalu itu. Sekarang pertanyaan saya, bagaimana peran pemuda dalam menen tukan masa depan bangsa saat ini, bukankah kualitasnya makin menurun?
Memang saat ini seba gian pemuda Indonesia terjebak dalam romantisme historis kegemilangan peran pemuda dalam sejarah bangsa. Peristiwa atau momen bersejarah yang melibatkan pemuda di dalam nya diperingati dan dijadikan bahan pembicaraan tanpa tahu harus melakukan apa. Sementara itu, sebagian pemu da lainnya terjebak dalam kenikmatan surga dunia. Keme wahan, kesenangan, pesta dan hura-hura menjadi keseharian mereka. Tanpa pernah peduli dengan kondisi bangsa.

Lalu bagaimana baiknya?
Mestinya pada saat ini, di saat alam demokrasi dan ruang kebebasan telah terbuka, peran pemuda harus berbeda dari sebelumnya. Peran untuk mengkritisi pen guasa dan memperhatikan rakyat jelata tetap harus dijalankan. Di sisi lain, peran untuk masuk dalam kekuasaan dan menjadi penentu kebijakan jangan ditinggal kan. Sudah saatnya pemuda berperan dalam proses pengam bilan kebijakan yang akan menen tukan hitam putihnya sejarah bangsa ini.

Caranya?
Pemuda harus menjadi aktor dalam proses pengambilan kebijakan. Menurut Birkland (2001) aktor dalam proses pengambilan kebijakan terbagi dua kategori yaitu official dan unofficial actors. Official actors adalah mereka yang terlibat dalam proses pengambilan kebijakan publik melalui status atau kewajiban konstitusional nya. Mereka memiliki kekua saan untuk membuat dan menjalankan kebijakan. Pihak yang termasuk dalam official actors adalah lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif.

Oleh karena itu, pemuda saat ini harus masuk ke dalam lingkaran kekuasaan dengan cara menjadi bagian dari ketiga lembaga tersebut. Sebagian aktifis pemuda telah masuk dalam legislatif dengan cara membentuk partai politik sendiri atau masuk melalui partai politik yang sudah ada sebelumnya.

Bukan hal yang tak mungkin juga jika pemuda memasuki lembaga eksekutif. Bahkan jika perlu menjadi presiden. Pemilihan presiden secara langsung menjadikan kesempa tan pemuda untuk memimpin bangsa ini adalah sebuah hal yang mungkin terjadi. Jika belum memungkinkan untuk tahun 2019 ini, minimal anggota kabinet atau para menteri yang nanti akan dipilih sebagian harus diisi oleh para aktivis pemuda.

Kalau peran sebagai unofficial actors?
Unofficial actors adalah mereka yang berperan dalam proses pengambilan kebijakan tanpa kewenangan atau tugas secara hukum sebagai hak berpartisipasi dalam demo krasi. Mereka yang termasuk dalam unofficial actors adalah partai politik, kelompok ke pentingan (interest group), media massa, organisasi riset dan warga negara sebagai individu. Peran mereka dalam pengambilan kebijakan lebih bersifat tidak langsung.
Partai politik selain sebagai sarana untuk mengantarkan anggotanya menjadi anggota parlemen juga bisa memiliki peran lain, yakni melalui gerakan non-parlemen. Gera kan ini bisa berupa pendidikan politik kepada masyarakat, penggalangan opini massa hingga pengerahan massa melalui demonstrasi. Gerakan non-parlemen ini dilakukan dengan tujuan untuk mem pengaruhi proses pengambilan kebijakan.

Apakah selain itu ada hal lain yang ikut berperan?
Tentu saja, yang ini tak kalah pentingnya, yakni peran media massa. Peran media massa dalam perencanaan agenda dan mobilisasi opini diungkap kan oleh Dye (2005), katanya media massa memiliki kekua tan besar dalam mengarahkan agenda pengambilan kebijakan yang harus diambil oleh pemerintah.

Kekuatan media ini terletak dalam kemampuannya untuk melakukan mobilisasi opini dengan cara mempengaruhi masyarakat melalui jaringan media yang dimiliki. Mereka bisa menentukan apa yang layak untuk dibicarakan oleh masyarakat atau menjadi opini umum serta isu apa yang masuk dalam keranjang sampah.

Lalu apa hubungannya dengan pemuda?
Nah, di sinilah juga pemuda harus memiliki peran yang besar dalam media massa. Peran pemuda di bidang ini sangat penting agar mereka bisa mempengaruhi opini masyarakat. Sudah saatnya pemuda menjadi penulis, reporter, jurnalis, redaksi dan profesi lain di bidang media. Media massa harus dikuasai karena seperti yang dikatakan Alvin Toffler “siapa yang me nguasai informasi maka dia akan menguasai dunia”.

Selain beberapa yang disebut tadi, apa lagi yang bisa ditekuni?
Organisasi riset atau lembaga penelitian juga menjadi bagian penting dalam proses pengam bilan kebijakan. Dye (2005) menyatakan bahwa mereka berperan sebagai lembaga yang memfor mulasikan kebi jakan yang akan diambil peme rintah. Semua pemerintahan di dunia pasti memiliki lem baga penelitian sebagai think tank. Hal ini juga dilakukan pemerintahan orde baru de ngan CSIS sebagai dapur pengolah kebijakannya.

Pemuda bisa berperan di sini dengan mendirikan lembaga penelitian yang bertugas untuk menyiapkan konsep Indonesia baru. Konsep di bidang eko nomi, politik, pendidikan dan bidang lainnya. Lembaga ini bisa menawarkan konsepnya kepada siapapun yang akan menjadi pemimpin bangsa ini.

Kelompok kepentingan atau interest groups juga memiliki peranan penting. Dye (2005) menyebutkan bahwa mereka bisa terlibat dalam memfor mulasikan kebijakan dan legitimasi kebijakan itu sendiri. Kelompok ini bisa mempe ngaruhi proses pengam bilan kebijakan pemerintah melalui berbagai cara.  Diantaranya yaitu direct lob-bying kepada lembaga legislatif maupun eksekutif, kampanye, proses litigasi melalui jalur hukum dengan cara class action terhadap kebijakan pemerintah dan mobilisasi masyarakat dengan cara demonstrasi atau yang lainnya untuk mempe ngaruhi pemerintah dan par lemen.

Bentuk kelompok kepen tingan ini biasanya berupa non government organization (NGO) atau lembaga swad aya masyarakat (LSM). Para pemu da juga bisa memberikan kon tribusi terhadap proses pengam bilan kebijakan dengan cara mendirikan LSM. Lembaga yang didirikan harus fokus dalam bidang tertentu agar wilayah garapannya tidak terlalu luas. Kekuatan lembaga ini adalah mereka bisa bebas bergerak tanpa sekat wilayah, budaya, agama dan sebagainya.

Ternyata banyak juga peran yang bisa diisi saat ini?
Tepat sekali, Intinya kontri busi pemuda masa kini untuk kemajuan bangsa tidak hanya bisa dilakukan melalui satu jalur saja. Banyak jalan menuju Roma, pepatah mengatakan seperti itu. Banyak jalan untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa. Kita tidak harus semuanya bersaing untuk masuk dalam lingkaran kekuasaan melalui pemilihan umum. Ada jalan lain yang bisa kita tempuh, walaupun jalan tersebut mungkin sepi dari popularitas dan fasilitas. ***
 

Baiklah, di akhir wawancara ini, kira-kira apa yang akan Anda sampaikan pada pemuda di Indonesia, Kepulauan Riau dan Batam khususnya?
Pemuda! Kapan dan dimanapun berada, kau adalah harapan bangsa. Harapan untuk perbaikan dan kemajuan ada di tangan mu. Oleh karena itu, pemuda harus memiliki idealisme tinggi untuk bisa menanggung beban yang diberikan di pundaknya.
Peran pemuda dalam setiap episode sejarah tentu berbeda. Skenario yang akan dimainkan pasti tidak sama, karena kebutuhannya pun sudah berbeda dari waktu sebelumnya. Seperti yang saya sebut di atas tado, saat ini pemuda bisa menjadi bagian dari official actors dalam proses pengambilan kebijakan dengan cara masuk dalam lingkaran kekuasaan melalui lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Kontribusi pemuda juga bisa melalui unofficial actors dengan mempengaruhi kebijakan pemerintah dari luar. Caranya dengan masuk dan berperan dalam partai politik, media massa, kelompok kepentingan atau interest group, organisasi riset atau lembaga penelitian.
Apapun dan bagaimanapun kontribusi pemuda dibutuhkan oleh bangsa ini. Kita tidak bisa menilai bahwa yang duduk dalam kekuasaan memiliki kontribusi yang lebih besar daripada mereka yang aktif untuk memberdayakan masyarakat. Jabatan atau kedudukan bukanlah tujuan. Ia hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Orang baik adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat  kepada orang lain. Semoga kita menjadi salah satunya.

Salam Pemuda !!!

***

 

 

 


Suprizal Tanjung’s Surau