Remember the Name: Faraaz Hossain

faraz

 

Namanya Faraaz Hossain. Usianya 19 tahun. Faraaz adalah mahasiswa muslim asal Emory University, Atlanta yang sedang ada di Dhaka, Bangladesh untuk mengikuti program internship bersama teman-temannya.

Hari itu, 27 Ramadan 1437 H, Faraaz bersama dua orang temannya bertemu di sebuah kafe. Hari yang sama ketika sekelompok orang bersenjata menyerbu dan menyandera pengunjung kafe tersebut. Faraaz dan 20 orang lainnya tewas dalam penyanderaan ini. Namun Faraaz Hossain bukan sekedar korban terorisme. Karena saat kejadian para teroris ini sebenarnya sudah memperbolehkan Faraaz pergi menjauh dari kafe. Mereka memang hanya mengincar target orang asing non-muslim di kawasan tempat berkumpulnya ekspatriat di Dhaka ini. Faraaz menolak untuk meninggalkan kedua temannya yang memang bukan beragama Islam. “What about them?” katanya.

Akhirnya, Faraaz yang muslim menjadi salah satu korban di peristiwa ini karena ia menolak meninggalkan teman-temannya yang berbeda agama dengannya.

Ada dua pesan yang hadir di sini.
Pertama, pesan dari para teroris pada Faraaz. “Kamu seperti kami. Kamu boleh tetap hidup.”
Kedua, pesan Faraaz pada kepada dunia lewat responnya terhadap pada teroris. “Aku lebih baik mati daripada disamakan dengan kalian.”

Selamat mengakhiri Ramadan.


A Journal of A Not-Superman Human