Pegawai Negeri

Informasi Pegawai Negeri

Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Ketika Islam Dibenturkan dengan Kebhinnekaan dan NKRI

Jun
25
2017
by : .... Posted in : Blog, Diklat

Sebagai orang Islam, saya merasa cukup sedih ketika umat Islam dituding intoleran, radikal, anti-kebhinnekaan, anti-NKRI, anarkis, dan sebagainya. Sebutan-sebutan negatif itu berlangsung selama Pilkada hingga Ahok divonis bersalah dan dihukum dua tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara baru-baru ini.

Pilkada DKI memang kental dengan nuansa SARA. Puncaknya ketika Ahok dianggap menistakan Al-Quran dengan kasus Al-Maidah 51 yang sama-sama kita ketahui. Pro kontra terhadap ucapan Ahok itu telah membangkitkan sentimen keagamaan yang meluas di  seluruh tanah air. Aksi-aksi demo yang bertubi-tubi yang diikuti oleh ratusan ribu hingga jutaan umat Islam di Jakarta,  demo di mana-mana di seluruh negeri, dan perang kata-kata di media sosial, telah membuat situasi negara ini menjadi tambah panas. Hampir-hampir saja negara ini diambang perpecahan. Peserta demo-demo itu dituding anti-kebhinnekaan, radikal, intoleran, dan anti NKRI. Saya tidak mengerti kenapa disebut demikian, mungkin karena yang demo itu memakai sorban, peci, berbaju putih-putih, menggemakan takbir, dan sasaran demo adalah Ahok yang kebetulan non-muslim dan beretnik Tionghoa. Padahal yang diperjuangkan oleh peserta demo adalah tindakan hukum, bukan agama orang lain atau etnik.

Setelah Pilkada diketahui hasilnya, yang ternyata Ahok kalah, maka media asing pun ramai memberitakannya. Media asing menulis bahwa kemenangan Anis-Sandi adalah kemenangan kaum radikal dan menunjukkan meningkatnya intoleransi di Indonesia. Publik di dalam negeri yang Pro Ahok ikut-ikutan mengamini tudingan media luar negeri tersebut. Naon? Apa hubungannya kemenangan Anies-Sandi dengan radikalisme dan intoleransi?  Apakah tidak memilih Ahok maka disebut intoleran dan anti kebhinnekaan? Bagaimana dengan kelompok pemilih dari non-muslim atau pemilih beretnik Tionghoa yang kompak 99% memilih Ahok, apakah mereka juga disebut anti-kebhinnekaan?

Jika kemenangan Anies-Sandi dianggap kemenangan kaum radikal, itu artinya 58% pemilih DKI yang memilih Anies-Sandi (sekitar 3,2  juta pemilih) seluruhnya dianggap kaum radikal dan intoleran, sedangkan 42% yang memilih Ahok dianggap toleran dan tidak radikal. Kesimpulan yang sama sekali absurd dan gegabah, sebab, meski ada yang memilih karena alasan agama, lebih banyak lagi warga DKI tidak memilih Ahok bukan karena pertimbangan agama, tetapi karena faktor attitude Ahok dan serangkaian peristiwa yang terjadi pada masa tenang yang telah menggerus elektabilitasnya. Peristiwa-peristiwa itu seperti pembagian sembako, kasus Steven yang mendiskreditkan pribumi, dan iklan kampanye Ahok yang kontroversial.

Pasca Pilkada, saya kira suasana kebatinan di tanah air sudah mulai reda, ternyata saya salah. Kegaduhan di dalam negeri belum usai. Sidang Ahok berakhir klimaks dengan vonis hukuman penjara dua tahun yang dijatuhkan oleh hakim. Yang lebih mengejutkan, hakim memerintahkan Ahok ditahan. Media luar negeri pun kembali nyinyir dengan menyebut hukuman kepada Ahok sebagai bukti intoleransi dan radikalisme di Indonesia. Mereka menyebut vonis tersebut adalah hasil tekanan massa. Itu artinya media luar negeri meragukan independensi hakim Indonesia.

Para pendukung Ahok yang belum bisa move on tidak terima Ahok dipenjara, padahal sebelumnya mereka mengatakan siap menerima apapun keputusan hakim. Mereka melakukan unjuk rasa dan menuntut Ahok dibebaskan. Pendukung Ahok menyatakan keadilan telah mati di Indonesia. Indonesia mundur ke belekang. Dalam aksi unjuk rasanya mereka kembali menghina ulama dan menyebut vonis ini adalah akibat kaum radikal yang anarkis dan intoleran dan anti-NKRI.

Kawan. Umat Islam Indonesia sangat cinta NKRI. Kemerdekaan Indonesia ini diperjuangan dengan darah para syuhada dan ulama. Mana mungkin umat Islam mengkhianati hasil perjuangannya sendiri dengan mengancam NKRI yang sudah susah payah diperjuangkannya?

Umat Islam tidak anti Pancasila. Sila-sila di dalam Pancasila itu adalah perwujudan ajaran Islam. Umat Islam tidak menuntut negara Islam. Soal dasar negara ini sudah selesai ketika para tokoh Islam pada tahun 1945 berbesar hati menghilangkan tujuh kata di dalam Piagam Jakarta untuk menjaga keutuhan NKRI dari ancaman pemisahan oleh saudara sebangsa di kawasan Indonesia Timur.

Umat Islam tidak anti kebhinnekaan. Sudah lama umat Islam hidup berdampingan dengan damai dengan pemeluk agama berbeda. Di Indonesia tidak hanya hari penting agama Islam saja yang dijadikan hari libur nasional, semua agama mendapat hari libur untuk hari rayanya. Bahkan hari Jumat tidak dijadikan hari libur, justru hari Minggu yang menjadi hari libur. Kita hampir tidak menemukan libur nasional untuk hari raya umat Islam di Amerika, Inggris, Jerman maupun Perancis, padahal mereka adalah negara-negara yang dianggap mbah-nya demokrasi.

Umat Islam bukanlah orang radikal, ekstrimis, teroris. Perilaku radikal sekelompok orang tidak dapat digeneralisasi bahwa semua orang Islam adalah radikal, ekstrimis, dan teroris. Mereka yang demo-demo kemarin itu dalam rangka membela agama dan kitab sucinya, sama sekali bukan menyerang agama lain dan etnik  lain. Demo-demo itu bahkan berlangsung tertib dan damai, jauh sekali dari kesan anarkis yang dilabelkan oleh kelompok yang tidak suka.

Kawan. Jangan kau benturkan Islam dengan label-label yang menyesatkan itu.  Indonesia bukan hanya soal Ahok. Indonesia adalah negara besar. Terlalu habis energi bangasa kita ini hanya mengurus masalah satu orang, padahal masih banyak persoalan bangsa ini yang menuntut perhatian.

Yang dapat kita lakukan saat ini adalah menghormati keputusan hakim. Terpidana masih punya hak untuk menuntuk keadilan dengan melakukan upaya banding, kasasi, dan PK.  Jalan masih panjang, keputusan belum inkracht.


Catatanku

tags:
loading...


bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya Ketika Islam Dibenturkan dengan Kebhinnekaan dan NKRI

Thursday 15 June 2017 | Blog, Diklat, Dokumentasi

Kota tetangganya Banjarmasin baru saja mendapat walikota baru hasil pilkada kemarin. Alhamdulillah, seperti biasa pada umumnya…

Friday 16 June 2017 | Blog, Diklat, Dokumentasi

Pada tingkatan yang sangat umum, Power adalah kemampuan mempengaruhi perilaku seseorang sesuai yang diinginkan orang tersebut.…

Friday 14 July 2017 | Blog, Diklat

Berbekal informasi dari masyarakat, Kepolisian Sektor Basarang, Polres Kapuas berhasil membekuk DM (26) warga Desa Anjir…

Sunday 18 May 2014 | Blog

Medan batik terinspirasi untuk mempunyai ciri khas tersendiri dan diambil dari tiap suku yang ada di…