Kembali ke Masa Pra-Literasi

Jumat, 2 Desember 2016 kemarin media harian The Guardian menuliskan berita tentang munculnya kekhawatiran para politisi di Jerman terhadap semakin maraknya kemunculan fake news alias berita bohong atau hoax. Kekhawatiran ini terutama disebabkan penyebaran berita-berita bohong tersebut diyakini akan berdampak sangat negatif menjelang pemilihan umum di Jerman yang akan dilaksanakan beberapa bulan ke depan.

Di antara berita-berita terbebut di antaranya adalah rumor bahwa Angela Merkel, Kanselir German saat ini, adalah anak dari Hitler. Atau bahwa dia adalah mantan anggota agen rahasia Jerman Timur.

Salah satu contoh lain berita bohong yang dampaknya sangat luas dan berbahaya di Jerman adalah kabar tentang adanya pemerkosaan anak gadis keturunan Rusia usia 13 tahun oleh beberapa orang pengungsi asal timur tengah. Menurut The Guardian, berita tersebut menyebar sejak awal tahun ini bahkan di kalangan media-media besar di Jerman dan Rusia. Akibatnya, muncul banyak aksi demo dan anti Islam di kedua negara. Bahkan sempat membuat hubungan Jerman dan Rusia memanas karena para politikus kedua negara tersebut menjadi saling menuduh.

Padahal, berita tersebut sudah terbukti hoax. Dicurigai, berita bohong ini dibuat oleh intelijen Rusia sendiri untuk menyerang Merkel yang selama ini dinilai memang pro pengungsi. Merkel sendiri tidak disukai Rusia karena dia ada di posisi yang berseberangan dengan Putin pada konflik di Ukraina.

Di Amerika Serikat juga terjadi hal yang sama. Penyebaran berita bohong diyakini berperan besar terhadap kemenangan Donald Trump pada pemilu presiden tahun ini.

Di Indonesia? Malah sudah lebih dulu kita. Mulai dari isu agama dan ras para calon presiden pada pemilu 2014 lalu. Hingga kabar gempa di beberapa tempat di pulau Jawa yang konon sudah bisa diprediksi jauh-jauh hari.
Kekhawatiran terhadap penyebaran berita bohong yang semakin tidak terkendali ini muncul di mana-mana di hampir semua negara. Politisi, jurnalis, akademisi, semuanya merasa ada ancaman besar yang akan muncul jika masalah ini tidak teratasi.

Kemunculan flatform media sosial semacam Facebook dan Twitter diyakini menjadi penyebab utama dari masalah ini. Media sosial membuat kita kembali ke budaya lisan dan meninggalkan kultur baca tulis yang seharusnya lebih maju.

 

orality-and-literacy-by-walter-j-ong
Walter J. Ong, profesor literatur dan budaya yang juga presiden dari the Modern Language Association dalam bukunya Orality and Literacy membagi perkembangan budaya dan kesadaran masyarakat dalam dua tahapan besar. Budaya lisan, dan budaya tulisan. Menurut Ong, berkembangnya kebiasaan baca tulis membuat perkembangan pola pemikiran manusia/masyarakat menjadi berbeda dan mungkin, juga menjadi lebih baik.

Menurut Ong, tulisan bukan hanya sekedar perpanjangan medium dari lisan. Kebiasaan menulis dan membaca juga mengubah cara berpikir manusia dibanding dengan ketika mereka mempraktekkan budaya lisan. Perbedaan paling mendasar antara budaya lisan dan budaya tulisan adalah; pada budaya lisan hampir tidak ada cara untuk melakukan cek dan ricek.

Sebelum perkembangan tulisan, informasi hanya dapat berpindah dari satu orang ke orang lainnya dalam bentuk dialog langsung. Ketika informasi tersebut terlupakan, maka ia akan hilang selamanya. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan bentuk informasi dan ide yang ingin disampaikan harus dalam bentuk yang gampang diingat, dan gampang diulang-ulang (dengan kata lain; viral). Prasyarat informasi yang harus sederhana, gampang diingat dan gampang diulang pada budaya lisan ini membuat ide-ide kompleks dan abstrak sulit berkembang. Kultur lisan memunculkan tokoh-tokoh sumber informasi yang bisa menyederhanakan pesan.

Dan di sinilah anomali muncul. Keberadaan sosial media membuat kita kembali ke kultur lisan, tapi dalam bentuk tulisan. Facebook, twitter, Instagram, Snapchat, Grup Watsapp dan sejenisnya menempatkan prioritas informasi yang paling mungkin menyebar adalah yang ringkas, mudah diingat dan mudah disampaikan ulang. Entah dalam bentuk 140 karakter twitter, satu dua paragraf status facebook, atau yang gampang disebarkan dengan klik share di grup-grup whatsapp. Sementara ide-ide rumit, panjang, penuh referensi akan ditinggalkan dan jauh dari popularitas. Thus, senjakala blogger.

Celakanya, kultur lisan yang berkembang melalui tulisan di social media ini juga membawa efek yang sama. Miskin kemampuan cek dan ricek. Dan akibatnya, masifnya penyebaran berita bohong.

Sekarang semuanya kembali ke kita semua. Ingin jadi apa. Kembali ke kultur lisan yang mengagungkan simplisitas dan repetisi informasi, atau mencoba mempersulit diri sendiri dengan belajar cek dan ricek sebelum menerima dan menyampaikan kembali informasi.


A Journal of A Not-Superman Human