Jokowi dan The Trans-Pacific Partnership (TPP)

Beberapa minggu lalu, ramai kabar soal Presiden Jokowi yang berniat bergabung dengan The Trans-Pacific Partnership (TPP). Heboh karena sebelumnya dikabarkan bahwa Presiden SBY justru menolak ikut dalam perjanjian tersebut. Lalu seperti biasa, banyak para pengamat dadakan yang pro dan kontra dibumbui dendam lama pasca pilpres.

Tapi tumben sih memang, pro-kontra TPP ini kurang heboh di level muggles. Sebagian besar akun-akun yang biasanya nyinyir seliweran di socmed nampak kurang gencar kali ini. Mungkin, karena memang urusan TPP ini sedikit lebih sulit difahami dan sukar dijadikan bahan perang terbuka.

Jadi, sebagai bekal untuk kalian para muggles yang ingin sedikit banyak ikut dalam debat ini, mari kita sama-sama pelajari apa itu TPP dan kenapa ia jadi kontroversi.

TPP alias The Trans-Pacific Partnership adalah sebuah sebuah perjanjian dagang dan ekonomi yang sedang dirancang oleh beberapa negara termasuk Amerika Serikat. Selama beberapa lama, draft perjanjian dalam TPP ini terkesan dirahasiakan dan hanya dibahas dalam forum-forum tertutup. Akibatnya, muncul banyak rumor yang akhirnya menimbulkan kontroversi.

Di antara rumor terkait isi TPP ini adalah bahwa perjanjian tersebut hanya akan menguntungkan perusahaan besar dan mengabaikan hak individu warga negara pesertanya. TPP juga diisukan berpihak pada korporasi besar multinasional dan merugikan pengusaha kecil.
Juga ada isu pasal yang membuat korporat akan dapat menuntut suatu negara jika kebijakan negara tersebut dianggap merugikan usaha mereka. Dan yang termasuk menjadi isu penting dari TPP di kalangan pengguna internet adalah perjanjian terkait hak cipta dan pembajakan serta privasi di dunia maya.

Sudah. Itu saja sebenarnya. Mereka yang koar-koar pro kontra itu haqul yakin saja juga belum membaca draft lengkapnya.

Masalah muncul karena pembahasan yang tertutup tadi. Kenapa dirahasiakan? Ada apa sebenarnya? Jangan-jangan ada jangan-jangan nih. Begitu.

Nah, draft lengkap TPP baru saja dirilis untuk publik beberapa hari lalu. Isinya ampun panjang sangat. Membaca daftar isinya saja bisa memakan waktu 10-15 menit. Belum lagi bahasa yang dipakainya berbelit-belit sebagaimana bahasa hukum biasanya.

Silakan dibaca kalau merasa perlu. Kalau merasa tidak perlu baca, ya silakan juga. Muggles memang begitu. Dimengerti saja. Iya kan?

View story at Medium.com


A Journal of A Not-Superman Human