Pegawai Negeri

Informasi Pegawai Negeri

Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Forensic Linguistics

Jun
04
2017
by : .... Posted in : Blog

Sekitar awal 2009, seorang pria bernama Chris Coleman bercerita kepada teman-teman dan rekan kerjanya terkait kekhawatirannya terhadap keselamatan keluarganya. Coleman selama beberapa waktu terakhir menerima ancaman pembunuhan secara online dari orang yang tidak diketahui.

Sampai akhirnya email-email ancaman tersebut juga menyebut-nyebut nama istri Coleman, Sheri serta kedua anaknya yang berusia 9 dan 11 tahun, Garret dan Gavin. Coleman lalu meminta bantuan tetangganya yang seorang polisi untuk memasang CCTV di bagian depan rumahnya.

Pada 5 mei 2009, Coleman yang sedang fitness di gym menelpon istrinya di rumah. Tidak ada yang mengangkat telepon itu. Ia lalu meminta tolong pada si polisi tetangganya untuk mengecek rumahnya. Si polisi menemukan Sheri, Gavin dan Garret telah tewas di kamar tidur mereka. Dibunuh dengan cara dicekik. Sebuah jendela di bagian belakang rumah nampaknya telah dibuka paksa oleh seseorang.

Penyelidikan polisi ternyata mengarahkan dugaan kuat pelaku pembunuhan justru pada Chris Coleman sendiri. Coleman diketahui berselingkuh dengan seorang pelayan restoran. Selain itu, Coleman yang bekerja di sebuah lembaga keagamaan juga terancam dipecat dan kehilangan pendapatan ribuan dolar jika ia menceraikan istrinya karena lembaga tersebut memiliki kebijakan anti-perceraian yang sangat ketat terhadap karyawannya.

Pada Februari 2009, Sheri juga diketahui mengadu kepada salah satu temannya tentang ketakutannya terhadap suaminya. Ia berkata jika terjadi sesuatu padanya maka pelakunya adalah Chris.

Namun Coleman bersikeras ia tidak bersalah. Bukti-bukti yang ada tidak cukup kuat untuk memberatkannya. Tidak ada DNA-nya yang ditemukan, email-email ancaman yang sebelumnya disebutkan juga sulit dibuktikan apakah dikirimkan dari komputer miliknya.

Sekitar 40 orang saksi termasuk saksi ahli memberikan pendapat mereka di persidangan Coleman, mulai dari polisi, teman-teman dekat, tetangga, dokter, dan ahli-ahli lainnya. Belum ada kepastian yang bisa meyakinkan para juri bahwa Coleman bersalah.

Hingga akhirnya jaksa mengajukan satu saksi ahli lagi, Robert Leonard. Robert adalah ahli di bidang yang masih belum banyak dikenal: forensic linguitics.

Dengan keahliannya itu, Robert menganalisis perbandingan antara surat-surat ancaman yang dikirimkan dengan email-email yang resmi ditulis oleh Coleman. Analisis khususnya difokuskan pada diksi, ejaaan dan tata bahasa yang digunakan. Dari situ Robert berkesimpulan, surat-surat ancaman tersebut memiliki kemiripan yang sangat banyak dengan gaya bahasa tulisan Coleman.

Di antara kesamaan yang ditemukan adalah cara menuliskan “you” menjadi “U”, serta kesalahan peletakan tanda baca yang unik “cant’” dan “doesnt’”.

Juri akhirnya memutuskan Coleman bersalah dan dihukum seumur hidup tanpa ada kesempatan banding.

***

Kasus lain yang juga melibatkan ahli bahasa dalam pemecahannya adalah kasus pengeboman oleh Unabomber. Unabomber diketahui menjadi pelaku belasan pengeboman antara tahun 1980-1990an yang membuat setidaknya 3 orang tewas dan puluhan lainnya luka parah. Unabomber juga dikenal dengan kebiasaannya mengirimkan surat manifesto ke berbagai universitas berisi kecamannya terhadap modern tekhnologi, industrialisasi dan pengrusakan alam.

Atas desakan ahli bahasa James Fitzgerald, FBI akhirnya memutuskan untuk menyebarkan surat-surat manifesto Unabomber ke media-media. Dari situ, puluhan pembaca memberikan laporan ke FBI menyatakan mereka mengenali gaya penulisan si Unabomber ini. Fitzgerald menganalisis sintaksis, diksi dan pola-pola linguistik lainnya dari nama-nama yang dilaporkan oleh puluhan pembaca tadi dan akhirnya berkesimpulan, Unabomber adalah Ted Kaczynski, seorang jenius matematika yang beraliran anarkis.

Dari pilihan kata yang digunakan dalam surat manifestonya, dapat diketahui kisaran usia Unabomber, background pendidikannya, dan beberapa latar belakang lainnya. Berbekal bukti awal ini, FBI diperbolehkan melakukan penggeledahan di Kabin milik Ted Kaczynski dan akhirnya menemukan bukti-bukti yang cukup untuk menempatkan si Unabomber di penjara seumur hidup.

***

Salah satu pionir forensic linguistics, Roger Shuy ketika ditanya mengenai awal mula bidang keilmuan ini menggambarkan salah satu peristiwa yang diceritakan pada kitab Perjanjian Lama (tolong dikoreksi jika ada kesalahan). Dalam kitab Perjanjian Lama diceritakan peperangan antara orang-orang Gilead dan Efraim. Karena tidak bisa membedakan antara musuh dan kawa, peperangan tersebut sempat kacau balau dan menimbulkan kebingungan. Namun akhirnya orang-orang Gilead menemukan cara untuk menentukan apakah seseorang musuh atau teman. Caranya mereka diminta melafalkan kata dalam bahasa Ibrani “Shibboleth”. Jika mereka melafalkan suku kata pertamanya dengan dialek Efraim yaitu “sib” maka mereka akan dibunuh. Karena dialek Gilead membaca kata tersebut dengan awalan “Syib”. Konon 42 ribu orang Efraim yang gagal dalam test linguistik pertama dalam sejarah ini.

Kasus serupa konon juga terjadi ketika ada pertikaian dan kerusuhan masal di Sampit beberapa tahun lalu. Orang-orang yang dicurigai sebagai suku lain diminta melafalkan kosakata tertentu yang jika mereka melafalkannya dengan dialek suku yang dicurigai, maka nasibnya akan sama seperti nasib orang Efraim.

Kembali ke bahasan forensic linguistics, sampai saat ini bidang keilmuan ini masih terus berkembang. Karena bahasa adalah sesuatu yang sangat rumit untuk dijelaskan apa dan kenapanya. Sementara tujuan dari bahasa itu sendiri sangat sederhana: agar kita saling mengerti dan memahami. Namun pada prakteknya, agar sampai pada tahap mengerti dan memahami itu kita harus melalui banyak sekali ketidakmengertian dan kesalahfahaman.

Bahasa bukan sekedar susunan huruf menjadi kata dan kata menjadi kalimat. Ada konteks yang lebih luas dari situ. Ada bahasa lisan, bahasa tulisan, dan bahasa simbol.

Karena itu, daripada menjadi gampang tersinggung hanya karena ada pesan yang kita tidak fahami dari salah satu bentuk bahasa, bukannya akan jauh lebih mudah jika kita meminta si pengantar pesan untuk mengulangi pesannya agar kita menjadi lebih mengerti?

Daripada tersinggung karena bendera ditulis-tulisi kata-kata yang kita belum tahu tujuannya, bukankan sebaiknya mencoba mengerti pesan apa yang ingin disampaikan si pembawa bendera?

Bendera ditulisi kalimat dalam bahasa arab, misalnya. Bukannya bisa dimaknai jika itu adalah simbol bahwa ia adalah Islam dan juga adalah orang Indonesia?

Daripada marah karena dasar negara dituduh sebagai sesuatu yang sia-sia bukankah sebaiknya kita duduk bersama-sama dan mencari jalan agar bisa menjadi lebih berguna buat bangsa?

Daripada rusuh karena ada orang yang dianggap menghina agama, kenapa tidak difahami sebagai ketidakmengertian yang besangkutan dan menjadi kewajiban kita sebagai yang lebih mengerti untuk membantunya belajar agar menjadi lebih tahu?

Karena tujuan bahasa itu sederhana, agar kita menjadi saling mengerti dan memahami.


A Journal of A Not-Superman Human

loading...


bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya Forensic Linguistics

Wednesday 14 June 2017 | Blog, Diklat, Dokumentasi

Berikut ini kami sampaikan materi Bimbingan Teknis SIMPATIKA¬† yang dilaksanakan pada hari senin tanggal 27 Maret…

Wednesday 19 March 2014 | Blog

Untuk mencuci kain batik banyak menyarankan untuk menggunakan buah lerak. Pada artikel ini akan dibahas lebih…

Wednesday 2 April 2014 | Blog

MOTIF BATIK indokabana 0042 batik tulis Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang…

Saturday 3 May 2014 | Blog

Motif batik pamiluto mempunyai kegunaan dipakai pada saat upacara pertunangan penganten jawa. Nilai makna filosofis pamilut…