Home » Blog » Beberapa yang Tersisa dari L.A. Lights Meet the Labels 2014 Regional Banjarmasin
Advertisement
loading...

“Ngapain mabuk ? Musisi top itu terkenal dulu baru mabuk, Lu terkenal aja belum udah mabuk-mabukan.”

Entah kenapa kalimat itu terus yang teringat di kepala selama beberapa saat ketika menyaksikan L.A Lights Meet the Labels 2014 regional Banjarmasin hari minggu 7 September kemarin. Itu kalimat diucapkan kawannya Abdee Negara yang kesal melihat kelakuan si Abdee sebelum terkenal dan jadi gitarisnya Slank.

Kenapa malah kalimat itu yang terngiang? Sekali lagi entahlah. Mungkin karena melihat para peserta program offline L.A Lights Meet the Labels yang keluyuran tanpa lepas kacamata hitam padahal pagi itu cuaca sedang mendung-mendungnya. Atau karena menyaksikan para mbak-mbak muda kelayapan ke sana kemari ngintilin mas-mas yang bawa gitar atau stik drum macam groupie-wanna-be. Atau sederhana saja, karena iri 😛

Lalu mendadak teringat, kalimat di atas pertama terbaca adalah pada medio akhir 90-an. Di sebuah majalah yang sedang khusus mengulas Slank. Ah iya, mungkin rasa tidak nyaman ini juga karena faktor usia. Ada yang sudah tua, dan terperangkap di tengah-tengah mereka yang masih (merasa) muda.

Jadi sudahlah. Terlepas dari niatan para peserta L.A Lights Meet the Labels Banjarmasin ini, entah mau terkenal, entah mau kaya, entah mau punya banyak pacar dan lain sebagainya, yang jelas acara ini sungguh membuka banyak jalan bagi para musisi lokal luar Jawa untuk bisa mengejar mimpi mereka. Seperti yang sejak awal diutarakan, Meet the Labels diadakan karena disadari, ada kesenjangan di Indonesia. Antara Jawa dan luar Jawa, di mana yang satu berlimpah kesempatan dan sarana prasarana, sementara yang lain cenderung dipandang sebelah mata bahkan kadang dianggap tidak ada. Jadi acara ini dimaksudkan untuk menjadi jembatan bagi perusahan rekaman menjemput bola, mendatangi kota-kota di sudut kanan dan kiri Indonesia, dan melihat bahwa mungkin saja ada di sini bakat-bakat musik yang luar biasa.

Dan benar saja, dari sekitar 50-an band, duo dan musisi solo yang tampil di depan juri perwakilan label-label ternama Indonesia hari itu, banyak yang skill musik mereka cukup mumpuni. Para juri yang terdiri dari mas Iman (Universal), mas Ali (AlfaRecords) & dan Richard (267Musikindo) berulang kali sempat memuji para musisi yang tampil. Contoh salah satunya adalah mbak Putri, drummernya The Pabo yang sempat diminta tampil solo memperlihatkan skill menggebuk drumnya.

DSCF5249 aAda juga band yang isinya bidadari semua, Calysta, yang dibilang secara visual sudah cukup menjual. Tinggal perlu peningkatan skill musik masing-masing personil serta memilih genre yang tepat. Soalnya waktu tampil di panggung, mbak-mbak ini bawain lagu yang lumayan keras. Padahal menurut mas Iman, cocoknya mereka membawakan lagu-lagu yang kesannya manis.

calistaTapi ya itu tadi. Kelemahan musisi lokal biasanya ada dua; kurang pengalaman tampil di panggung dan kurang percaya diri. Selain itu, menurut mas Ali, yang penting diperhatikan calon pemusik profesional adalah soal hati. Jaman sekarang, kalau ada kelemahan tekhnis itu gampang diperbaiki. Peralatan studio musik sudah digital semua. Suara miring-miring dikit, autotune ada. Muka rada kucel tinggal make-up sama kostum maksimal sudah bisa. Tapi soal hati, ini yang tidak bisa pura-pura. Mau pas perform, mau pas bikin lagu, kalau tidak pakai hati, ya tidak bisa dinikmati.

Soal hati ini juga yang banyak dibahas waktu Sharing Season L.A Lights Meet the Labels Banjarmasin ini. Selain tiga orang juri dari perwakilan labels, sharing season yang dilaksanakan malam hari sebelum pengumuman Golden Tickets ini juga diisi oleh 3 orang bintang tamu; Kiki the Potters, Steven dari Steven Jam sama Firza Idol. Hampir semuanya menekankan pentingnya main musik pake hati.

sharing season

Selain itu, disinggung juga soal pentingnya sabar. Ada cerita tentang Sheila on 7 yang kaset demo mereka mengendap selama dua tahun di gudang label sebelum akhirnya ada satu produser yang iseng bongkar-bongkar dan akhirnya tertarik merekrut mereka rekaman. Juga Kiki the Potters yang menceritakan, bahkan setelah resmi dikontrak, mereka masih harus menunggu 1,5 tahun sebelum master album pertama mereka selesai direkam, dan setelahnya, harus menunggu 1 tahun lagi sampai single promo pertama mereka dilempar ke pasaran.

Dari sisi tekhnis, calon musisi yang ingin mengirimkan sample musik mereka ke label diingatkan untuk serius dalam packaging. Jangan cuma mengirimkan CD dan data band. Tapi juga cantumkan hal-hal lain yang dirasa bisa menarik.

Juga perbedaan-perbedaan jenis kontrak antara artis dan perusahaan rekaman. Diantaranya tipe Direct Signing dimana semuanya dihandel label, mulai dari rekaman, hak cipta, promosi sampai akomodasi konsumsi. Lalu ada tipe kontrak Master licence, yaitu ketika copyright lagu dimiliki artis tapi biaya produksi lagu juga ditanggung artis yang bersangkutan sementara label menangani urusan promosi. Serta tipe Join venture yang membagi biaya yang serta keuntungan yang ada secara persentasi.

Diingatkan pula, sekarang jamannya media sosial berpengaruh besar. Perusahaan rekaman juga sedang aktif memantau internet. Karenanya mereka yang ingin punya kesempatan lebih besar untuk menjadi profesional harus rajin upload video dan rekaman mereka di media-media yang tersedia.

Setelah Sharing Season selesai, akhirnya diumumkan 3 band yang berhak menerima Golden Ticket rekomendasi untuk maju ke 50 besar nasional L.A Lights Meet the Labels. Mereka adalah Querty, The Mafia dan LOL. The Mafia sejak awal sudah saya prediksi sih, dibuktikan dengan twit saya pagi ketika mereka tampil. Keren soalnya.

winnerAkhirnya L.A Lights Meet the Labels regional Banjarmasin ditutup dengan penampilan Steven dari Steven Jam yang reggae abis, dan Virza Idol yang membawakan lagu Somebody That I Used to Know dan Kangennya Dewa 19. Sial memang. Mana acara ini diadakan di Kawasan Wisata Kuliner Kayutangi Banjarmasin yang dekeeeet banget sama kampus jaman S1 dulu. Lalu lah memori membuncah mendera hati… Halah…

Oh iya, satu lagi, kalau dari obrolan dengan kawan-kawan dari kota lain yang juga mengadakan L.A Lights Meet the Labels, salah satu keluhannya adalah kurangnya peserta cewek. Kalau di Banjarmasin, separo lebih band yang tampil ada anggota perempuannya. Bahkan ada duo dan band yang isinya cewek semua. Jadi soal cewek dan pemandangan sepertinya tidak ada keluhan. Paling yang dipermasalahkan adalah panggung yang kelewat sempit dan tidak beratap, panas brai *_*

PicsArt_1410920649594

 

Untuk lebih lengkapnya sekalian aja ke http://meetthelabels.com gih. Banyak videonya juga di sana, lumayan buat ngayal 😛


A Journal of A Not-Superman Human

File added : Monday, June 19th 2017.
Category : Blog
tags: , , , , , , , , , ,

Related Post Beberapa yang Tersisa dari L.A. Lights Meet the Labels 2014 Regional Banjarmasin

June 20th
2017

Semanis Teh Manis Salman

Teh Manis Salman (TMS), ya. Bukan Teh Manis “Masjid Salman”. Bukan, sama sekali bukan. Salman itu nama masjid di seberang Institut Teknologi Bandung, iya.
May 31st
2017

UPAYA BANTUAN HUKUM BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL

Secara jelas diungkapkan dalam konstitusi kita bahwa semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di depan hukum (equality before the law). Selanjutnya, setiap warga
April 17th
2014

Budaya Indonesia telah dibentuk oleh interaksi panjang antara kebiasaan adat asli dan berbagai pengaruh asing – motif batik

Budaya Indonesia telah dibentuk oleh interaksi panjang antara kebiasaan adat asli dan berbagai pengaruh asing “ . “ Indonesia terletak di pusat – terletak
September 10th
2014

Proses Membatik dari awal hingga akhir

Mori yang sudah dikemplongi dan digarisi, apabila akan dibatik dengan motif jenis parang-parangan atau motif lain, membutuhkan bidang tertentu serta lurus, umumnya “dirujak”. Dirujak
June 9th
2017

Love is not a sprint

“Love is not a sprint, it’s a marathon. A relentless pursuit that only ends when she falls into your arms” -TBBT rockypermata