Pegawai Negeri

Informasi Pegawai Negeri

Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

SIAPA YANG HARUS BERUBAH???

May
31
2017
by : .... Posted in : Blog

Prakata

Manusia memiliki   tingkat atau derajat yang lebih tinggi dari makhluk lain, termasuk Malaikat atau Dewa sekalipun. Hal ini dikarenakan manusia lahir dengan potensi kodratnya berupa cita, rasa, dan karsa. Cipta adalah kemampuan spiritual, yang secara khusus mempersoalkan nilai ‘kebenaran’. Rasa adalah kemampuan spiritual, yang secara khusus mempersoalkan nilai ‘keindahan’, Sedangkan, karsa adalah kemampuan spiritual, yang secara khusus mempersoalkan nilai ‘kebaikan’.

Dengan ketiga potensinya itu, manusia selalu terdorong untuk ingin tahu dan bahkan mendapatkan nilai-nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan yang terkandung didalam segala sesuatu yang ada (realitas). Ketiga jenis nilai tersebut dibingkai dalam suatu sistem, selanjutnya dijadikan landasan dasar untuk menciptakan filsafat hidup, menentukan pedoman hidup, dan mengatur sikap dan perilaku hidup agar senantiasa terarah ke pencapaian tujuan hidup.

Berdasarkan hal-hal di atas, setiap manusia berupaya untuk meningkatkan atau menggali potensi dirinya, termasuk kaitannya dalam kehidupan bermasyarakat ataupun berorganisasi. Upaya penggalian potensi diri setiap individu, dalam organisasi, terkait dengan asumsi-asumsi yang menyatakan bahwa: (a) setiap individu/person dapat belajar untuk memiliki kompetensi di segala bidang; (b) setiap individu/person memiliki kesempatan yang luas untuk bertumbuh dari keterbatasan-keterbatasan atau kelemahan-kelemahan yang dimilikinya (Buckingham and Donald O. Clifton, 2007).

Selanjutnya, Buckingham and Donald O. Clifton menyatakan bahwa pengembangan bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga harus ditujukan kepada orang lain. Dalam konteks ini, setiap pimpinan atau manajer harus pula berupaya mengembangkan pegawai/bawahannya. Dua asumsi yang memandu pimpinan atau manajer terbaik dalam menggali kekuatan-kekuatan orang lain yang dipimpin adalah: (a) setiap individu/person memiliki talenta/potensi yang besar dan unik; (b) setiap individu/person memiliki kesempatan yang luas untuk tumbuh di bidangnya masing-masing.

Kedua asumsi tersebut merupakan dasar/fondasi bagi keseluruhan upaya yang dilakukan bagi orang lain yang dipimpinnya. Kedua asumsi tersebut juga menjelaskan mengapa seorang manajer yang besar secara hati-hati memperhatikan talenta/potensi seseorang dalam setiap waktu, mengapa mereka memfokuskan pada kinerja seseorang melalui output yang dihasilkan daripada menekan mereka pada suasana yang tidak menyenangkan, mengapa mereka menghindari aturan yang baku dan memperlakukan pegawai secara berbeda, dan mengapa mereka menyediakan sebagian besar waktunya dengan bawahan-bawahannya. Dengan kata lain, kedua asumsi tersebut menjelaskan mengapa para manajer terbaik dunia mematahkan semua aturan konvensional pada kebijakan manajemen organisasi.

            Uraian-uraian di atas menerangkan kepada kita bahwa manusia secara alamiah dan naluriah butuh adanya perkembangan atau kemajuan dalam kehidupannya. Manusia ingin dihargai harkat dan martabatnya dihadapan manusia lainnya. Sebagai individu dari keseluruhan anggota suatu organisasi, manusia juga memiliki keinginan untuk memajukan organisasinya. Apalagi, ia merepresentasikan sebagai pimpinan atau atasan dalam lingkup organisasi tersebut. Oleh karena itu, perubahan (baca: peningkatan kualitas) dalam diri manusia dan perubahan dalam diri orang lain dalam organisasi merupakan hal yang semestinya dilakukan secara terus menerus.

Siapa yang Harus Berubah?

            Barangkali kita teringat pameo, ”….tidak ada prajurit yang bodoh, akan tetapi hanyalah ada jenderal yang tidak pintar!” Paling tidak, hal ini menggambarkan pada hakekatnya tidak ada seorang-pun yang tidak bisa dikembangkan, kecuali kita sendiri yang tidak bisa melakukannya. Tidak ada seorang pegawai/bawahan-pun yang tidak bisa dikembangkan, kecuali pimpinan/atasan itu sendiri yang tidak dapat mengerjakannya. Oleh karenanya, kita atau pimpinan/atasan-lah yang semestinya bergerak terlebih dahulu dibandingkan orang-orang disekitar kita atau pegawai/bawahan.

Mengapa pimpinan/atasan yang harus memulai untuk melakukan perubahan? Dalam lingkup organisisi publik (birokrasi), alasan yang barangkali lebih masuk akal untuk memberikan “dalih”nya adalah mengacu pada patologi birokrasi sebagaimana dikemukakan oleh Siagian (1994), yakni adanya kekuasaan kepemimpinan yang sangat besar dalam tubuh birokrasi oleh seorang pimpinan/atasan. Pimpinan/atasan memiliki otoritas/kewenangan yang sangat besar dalam mengendalikan organisasi dan mengontrol arah setiap keputusan ataupun kebijakannya. Disisi lain, pegawai atau bawahan selalu menjadi sosok sub-ordinasi, yang tidak mempunyai kewenangan atau otoritas sama sekali, sehingga mereka harus menerima instruksi/perintah dari seorang pimpinan/atasannya, tanpa daya dan tanpa ada alasan untuk menolaknya.

Dalam konteks pengembangan kualitas dan pengembangan karier pegawai/bawahan, pun pimpinan/atasan memiliki kewenangan yang sangat besar terhadap siapa yang “dipilihnya”. Ini didukung adanya kecenderungan hubungan yang terbentuk dalam pola hubungan patronase atau pun tindakan pilih kasih dalam interaksi hubungan antar anggota organisasi (Siagian, 1994). Pilihan terhadap sosok yang dipilih seringkali lebih didasarkan pada pilihan “spoil system” daripada “merit system” yang selama ini diwacanakan. Dengan demikian, sesungguhnya peran pimpinan/atasan untuk memajukan organisasi dan semua sumber daya yang ada didalamnya adalah sangat besar dan menentukan.

Pada tataran tersebut, pimpinan/atasan merupakan “teladan” sekaligus subyek penggerak pegawai/bawahan dalam melakukan perubahan-perubahan. Dan, pegawai/bawahan sebagai obyek, pun sekaligus dapat memerankan sebagai subyek (agent of change), akan mengikuti alur perubahan yang digulirkan dalam organisasi.

Siapkah Kita Berubah?

Terkait dengan gaung reformasi birokrasi yang sedang trend dilakukan dalam tubuh birokrasi, maka pimpinan/atasan mempunyai tanggung jawab terhadap perubahan yang harus dilakukan. Birokrasi harus meninggalkan paradigma serta “postur” yang selama ini “terjaga” dan berubah menjadi birokrasi yang profesional serta melayani masyarakat.

Lantas, bagaimana upaya yang dapat dilakukan pimpinan/atasan untuk melakukan perubahan tersebut? Ada banyak tulisan yang menerangkan tentang hal ini. Namun, penulis lebih senang dengan uraian mengenai serangkain tindakan yang bisa dilakukan untuk mendukung proses perubahan tersebut, yaitu: pertama, menciptakan sistem penghargaan yang mendukung proses perubahan. Ini menjadi salah satu alat dan merupakan sarana manajemen yang sangat kuat untuk meningkatkan buy-in serta komitmen pegawai/bawahan. Kedua, membuat anggaran yang lebih mendukung proses perubahan menjadi bagian yang krusial dari proses implementasi. Ketiga, membuat aturan dan prosedur pengoperasian yang lebih baru dan lebih sesuai dengan arah implementasi perubahan. Kebijakan dan aturan yang kondusif akan sangat membantu menciptakan iklim kerja dam kultur organisasi yang mendukung proses perubahan. Keempat, tahapan terakhir yang harus dilakukan adalah memelihara momentum perubahan. Fase ini perlu dilakukan agar proses perubahan yang telah dijalankan tetap berada on track, dan tidak mundur lagi ke belakang. Bebarapa tindakan konkrit yang dapat dilakukan disini antara lain adalah membangun support system bagi para change agent. Selain itu juga perlu dikembangkan kompetensi dan perilaku baru yang lebih sesuai dengan tujuan perubahan yang hendak diraih (http//rajapresentasi.com).

Dari beberapa hal yang ditawarkan di atas, maka semestinya pimpinan/atasan dalam setiap organisasi dapat lebih mudah untuk mengimplementasikan perubahan dalam organisasi/unit kerja masing-masing. Persoalannya adalah, apakah kita (pimpinan/atasan) mau melakukan perubahan dengan segala resistensi perubahan (resistance to change) yang dihadapi, baik resistensi dari individu maupun resistensi dari organisasi itu sendiri?. Dengan demikian, pertanyaan selanjutnya adalah, siapkah kita untuk berubah….???


muhlisirfanbkn

loading...


bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya SIAPA YANG HARUS BERUBAH???

Tuesday 10 October 2017 | Blog

Keputusan Dirjen Pendis Tentang Juknis Pembayaran Tunjangan Profesi Guru Dan Inpassing Terhutang Tahun 2017 Juknis Pembayaran…

Sunday 29 October 2017 | Blog

Download  Peraturan Menteri Keuangan Nomor 144/PMK.07/2017 tanggal 23 Oktober 2017, tentang Rincian Kurang Bayar Dana Bagi…

Saturday 3 May 2014 | Blog

Adalah kegunaan dari motif klitik digunakan untuk dipakai di acara resmi pada acara kerajaan. Nilai makna…

Saturday 17 June 2017 | Blog, Diklat, Dokumentasi

Namanya BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya,…