Kenaikan Harga Tak Bisa Dihindari

Pemerintah Fokus Amankan Pasokan dan Distribusi

JAKARTA (BP) – Pemerintah tak menampik kenaikan harga bahan pokok jelang Ramadan dan Idul Fitri tak bisa dihindari. Namun Kementerian Perdagangan mengaku memiliki sejumlah strategi agar harga tak melambung hingga di atas batas kewajaran.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Tjahya Widayanti, menyatakan pemerintah telah mengantisipasi lonjakan harga dengan menjamin ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi bahan pokok.

”Saat ini kami fokus pada pasokan dan distribusi,” kata Tjahya pada Jawa Pos (grup Batam Pos), Minggu (21/5).

Dia menyebut, data historis 2013-2016 menunjukkan, menjelang bulan puasa biasanya terjadi kenaikan harga untuk beberapa barang kebutuhan pokok yang disebabkan karena peningkatan permintaan seperti daging sapi, daging ayam, dan telur ayam yang naik antara 0,97 persen-9,6 persen.

”Sedangkan untuk beberapa komoditi lainnya beras, gula pasir, minyak goreng, tepung terigu dan kedelai relatif stabil,” ujarnya.

Menurut Tjahya pemerintah koordinasi dengan instansi terkait berupa pemantauan barang kebutuhan pokok dengan Dinas Perdagangan Provinsi, persiapan dengan Kemenhub dalam pengaturan angkutan Lebaran.

Berikutnya adalah koordinasi dengan pelaku usaha tentang penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), melakukan sidak ke gudang bahan pokok, serta penugasan kepada Perum Bulog untuk melakukan penetrasi ke pasar-pasar pantauan BPS, dengan mendistribusikan beras, gula pasir, daging beku, bawang merah dan cabe, serta Importir bawang putih untuk mendistribusikan bawang putih ke pasar-pasar pantauan BPS, terutama di daerah-daerah yang tingkat inflasinya tinggi.

Dalam upaya meredam gejolak harga, Kemendag menggandeng Perum Bulog untuk menjalankan gerakan stabilisasi pangan dengan cara mendistribusikan sembako di sejumlah wilayah yang mengalami kekosongan pasokan dan dipusatkan di Bulog Divre DKI di Kelapa Gading Jakarta.

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti menyatakan bahwa pihaknya menjalankan gerakan stabilisasi pangan selama dua minggu penuh menjelang bulan Ramadan.

”Kami siapkan sejumlah komoditas yang paling banyak di konsumsi masyarakat selama bulan puasa dan hari raya Idul Fitri nanti, seperti beras, daging, dan bumbu dapur lainnya seperti bawang, gula, dan minyak goreng,” bebernya.

Ketua Komite Daging Sapi Jakarta Raya, Sarman Simanjorang, mengatakan pemerintah sebaiknya menambah stok daging sapi impor menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Dia beralasan karena ada potensi harga bergejolak akibat belum terbiasanya masyarakat mengkonsumsi daging kerbau.

”Saya takutnya masyarakat nanti tidak suka, lalu tetap berbondong-bondong cari daging sapi beku,” ujar Sarman.

Sarman menuturkan seharusnya kondisi stok daging sapi beku dan daging kerbau pada posisi yang sama. Saat ini kondisinya kurang lebih stok daging sapi impor ada sebanyak 12 ribu ton sementara daging kerbau sekitar 36 ribu ton. Sarman melihat bahwa hal tersebut yang dapat mencegah adanya potensi harga yang bergejolak.

”Pendapat saya minimal disamakan dengan jumlah stok kerbau,” tambahnya. (agf/jpgroup)


Suprizal Tanjung’s Surau