Ribuan Rumah Terendam Banjir di Batam

HUJAN deras yang menguyur Batam pada Senin (20/3/2017) pagi membuat ribuan rumah di sejumlah lokasi terendam banjir. Ketinggian banjir beragam, antara 30 cm hingga 1 meter.

Di antara permukiman yang terendam banjir kemarin adalah kawasan Melcem, Kelurahan Tan­jungsengkuang, Kecamatan Ba­tuampar. Di kawasan ini se­dikitnya ada 1.500 rumah terkena banjir.

”Kalau berapa jumlah jiwa yang terdampak banjir ini, saya kurang tahu. Jumlah rumahnya mencapai 1.500,” kata Camat Batuampar, Tukijan, kemarin.

Tukijan mengakui, kawasan itu memang menjadi langganan banjir sejak beberapa tahun terakhir. Selain karena lokasi permukiman yang rendah, drainase di wilayah itu juga kurang maksimal. Karenanya, Tukijan menyebut pihaknya akan segera memperlebar drainase.

”Sekarang masih dalam tahap proses lelang,” katanya. Sebanyak 1.500 rumah yang kebanjiran tersebut terbagi di dalam wilayah RW 06, RW 07, RW 09, RW 18, dan RW 19.

Warga setempat, Wardiah, mengaku banjir di rumahnya sudah sering terjadi. Terutama sejak tujuh tahun terakhir.

”Setiap hujan lebat sudah pasti masuk (rumah). Banjir hari ini, tingginya hingga mencapai betis,” katanya.

Menurutnya, air yang masuk ke rumahnya itu akibat luapan air dari drainase di belakang rumahnya. Ia berharap, pemerintah dapat mengeruk drainase tersebut, agar banjir tidak terus menggenang rumahnya.

Lurah Tanjung Sengkuang, Alim Ridwan, mengatakan banjir mulai menggenangi rumah warga dan jalan pada pukul 07.00 WIB. Menurut dia, banjir juga terjadi karena aliran sungai mengalami penyempitan akibat kegiatan reklamasi.

Selain di Batuampar, sekitar 30 rumah warga di Perumahan Anggrek, Kecamatan Sekupang juga terendam banjir, kemarin. ”Mulai subuh air sudah masuk rumah,” kata warga setempat, Aminah, sambil membersihkan rumahnya yang kebanjiran.

Camat Sekupang, Muhammad Arman, mengatakan banjir di wilayahnya lebih disebabkan oleh aktivitas pembangunan permukiman oleh para pengembang. Menurut dia, banyak pengembang yang kurang memperhatikan rencana pembangunan yang berpotensi menimbulkan banjir.

”Kami sudah peringatkan tapi developer tidak mengindahkan. Ini masih masalah developernya,” kata Arman.

Sementara Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengakui titik banjir di Batam terus bertambah. Jika tahun lalu hanya ada 26 titik banjir yang terdeteksi, tahun ini jumlahnya menjadi 33 titik. ”Bertambah bukan berkurang, karena sekarang pemilik lahan gencar membangun,” ucap Amsakar, kemarin.

Menyikapi fenomena ini, Amsakar menyebut Pemko Batam melakukan beberapa antisipasi. Salah satunya dengan membeli tujuh eskavator untuk menormalisasi sungai atau drainase. Satu di antaranya merupakan eskavator amfibi.

Kemarin, Amsakar turut memantau banjir di Melcem, Batuampar. Menurut dia, banjir di kawasan itu dikarenakan penyempitan drainase. Juga karena banyaknya bangunan dan kios liar yang dibangun di atas drainase.

Anggaran Rp 43 Miliar

Anggota Komisi III DPRD Batam, Rohaizat, menyayangkan masih banyaknya kasus banjir di Batam. Sebab anggaran untuk pengendalian banjir tahun ini cukup besar, yakni Rp 43,5 miliar. Anggaran tersebut berada di Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air. ”Jumlahnya Rp 43.516.055.305,” ujar Rohaizat, usai menggelar rapat paripurna DPRD Kota Batam, Senin (20/3).

Menurut dia, anggaran dari APBD Kota Batam 2017 ini dibagi per lima wilayah. Wilayah I meliputi Batuampar dan Bengkong dengan anggaran Rp 10,2 miliar, wilayah II Lubukbaja dan Batamkota Rp 8,098 miliar, dan wilayah III meliputi Seibeduk, Nongsa, dan Galang Rp 6,69 miliar.

Kemudian wilayah IV mencakup Sagulung dianggarkan sebesar Rp 9,4 miliar. Sedangkan wilayah V yang terdiri dari Kecamatan Sekupang, Batuaji, dan Belakangpadang dengan anggaran sebesar Rp 3,86 miliar. Selain itu, pemko juga menganggarkan Rp 4,74 milar untuk pemeliharaan dan perencanaan drainase. (cr1/cr17/cr13/rng)


Suprizal Tanjung’s Surau