Berbagai Upacara Adat Warnai HUT Kapuas

Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-211 Kota Kuala Kapuas dan HUT ke-66 Pemerintah Kabupaten Kapuas berbagai acara adat dilakukan sebagai mana kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahunnya, Selasa (21/3).  Adapun acara adat yang dilakukan pada kesempatan itu antara lain adalah Mamapas Lewu, Laluhan dan Mangarunya.

Berbeda dengan Laluhan dan Mangarunya pelaksanaan Mamapas Lewu dilaksanakan sehari sebelumnya yaitu Senin (20/3) Mamapas Lewu merupakan manifestasi tatanan kehidupan masyarakat Dayak dalam berinteraksi dengan komunitas sesama, ini merupakan gambaran kehidupan masyarakat dari sejak nenek moyang suku dayak dulu yang memang cinta damai, terbuka, suka bergaul serta dapat menjalin persatuan dan kesatuan (falsafah Rumah Betang) secara utuh. 

Kegiatan tersebut bertujuan untuk membersihkan alam dan lingkungan hidup (Petak Danum) beserta segala isinya dari berbagai sengketa, mara bahaya, sial wabah penyakit (Rutas Pali) untuk menciptakan suasana panas jadi dingin, gerah menjadi sejuk.

Upacara tersebut juga dapat berkonotasi doa yang dipanjatkan kepada Sang Maha Pencipta agar terciptanya kehidupan yang abadi di muka bumi ini, terhindar dari segala musibah, pertikaian, iri dan dengki, sehingga terciptalah kerukunan dan keharmonisan hidup antar sesama umat manusia dan alam lingkungannya, saling mengasihi, saling menghormati dan saling menghargai antar sesama.

Diharapkan bagi segenap umat manusia dapat menjalin keseimbangan dan kelestarian alam dan lingkungan sekitarnya dengan tidak merusak tatanan habitat alam, flora dan  fauna serta menjaga kelestarian, keseimbangan ekosistem kehidupan yang berkesinambungan.

Sedangkan untuk Pelaksanaan Laluhan  yang bertepatan dengan Hari Jadi ke-211 Kota Kuala Kapuas dan HUT ke-66 Pemerintah Kabupaten Kapuas, Selasa (21/3) yang berdasarkan berbagai keterangan disebutkan bagi warga Dayak Ngaju, tradisi laluhan berkaitan acara adat yang disebut tiwah, semacam upacara pengangkatan tulang belulang seseorang yang sudah meninggal dan dikubur kemudian dipindahkan ke suatu bangunan kecil yang disebut sandung. Upacara ini terkait dengan kepercayaan nenek moyang suku Dayak setempat “Kaharingan” guna memindahkan tulang belulang tersebutlah maka dilakukan acara Laluhan. Laluhan adalah pengantaran barang-barang pemberian dari warga desa yang satu kepada warga desa yang lain yang lagi menggelar upacara ritual tiwah, pemberian sebagai ungkapan kebersamaan dan kegotong-royongan. Dalam upaya ini biasanya dipimpin tokoh adat tokoh agama dengan cara menfaatkan sarana air berupa, klotok, tongkang, sampan, rakit, atau perahu yang penuh dengan berbagai hiasan berornamen budaya Dayak setempat.Barang-barang sumbangan tersebut dibuat ke dalam angkutan air itu, kemudian di dalam angkutan air seperti perahu terdapat sejumlah orang yang memainkan alat musik tradisional setempat seperti gong, kenong, babun, seruling, biola dan sebagainya seraya bernyanyi dengan lagu khas setempat. Maksudnya, upacara Laluhan adalah untuk membantu meringankan beban bagi kampung lain yang sedang menyelenggaraan upacara ritual tiwah, karena dalam upacara ritual ini menelan biaya yang cukup besar.Selain sebagai bagian ritual upacara adat tiwah, acara laluhan kini sudah dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi atraksi budaya lainnya seperti di antaranya menampilkan pesta perang adat, perang air, saling melempar batang tanaman suli sebagai simbol pengganti senjata tombak.Kegiatan perang-perangan ini sebagai simbol, begitu gigihnya warga Dayak dalam mempertahankan wilayahnya dari gangguan musuh, atau sebagai simbol begitu gigihnya warga setempat memerangi kemiskinan dan keterbelakangan agar menjadi sebuah masyarakat yang maju dalam upaya memajukan pembangunan khususnya Kabupaten kapuas dan secara umum Provinsi Kalteng.

Setelah selesai kegiatan laluhan juga dilakukan acara Mangarunya yang dilakukan oleh tujuh orang basir dengan makna sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkah dan rahmat serta penyertaannya selama perjalanan Kabupaten Kapuas serta doa-doa yang ditujukan kepada Pimpinan Daerah agar diberikan kekuatan dan kesehatan serta hikmat agar dapat memimpin Daerah khususnya Kabupaten Kapuas dan Kalteng umumnya dengan baik dan sukses serta dijauhakn dari halangan dan rintangan serta bahaya.

Gubernur Kalimantan Tengah H Sugianto Sabran yang mengikuti kegiatan Laluhan serta Mangarunya pada hari itu menyampaikan bahwa Kalimantan Tengah adalah Provinsi terluas ke-2 setelah Provinsi Papua. “Kalimantan Tengah merupakan berkah dari yang maha kuasa,” ungakapnya. Pada kesempatan itu ia juga menyampaikan ingin membangun Kalimantan tengah yang lebih bermatabat, lebih kuat secara ekonomi dan harmoni.

Sebelumnya masih dihari sama Bupati Kapuas Ir Ben Brahim S Bahat MM MT juga mendapatkan  Penganugerahan Gelar Adat ‘Tamanggung Panunjung Tarung’ oleh Damang Kepala Se-Kabupaten Kapuas melalui keputusan bersama Damang Kepala Adat yang ada di Kabupaten Kapuas. Orang nomor satu di Kota AIR tersebut menyampaikan rasa terharu dan bangganya atas Penghargaan yang diberikan Damang Kepala Adat kepada dirinya. “ini merupakan pendorong semangat bagi saya untuk menghimpun dan menjaga Kabupaten Kapuas ini agar rukun, damai dan

selalu dalam kebersamaan untuk membangun Kabupaten Kapuas mencapai masyarakat yang sejahtera,” ungkap Ben. Ia juga menerangkan bahwa keberadaan para Damang sangat penting dan membantu Pemerintah dalam hal menyelesaikan masalah-masalah, lebih lanjut ia juga menerangkan bahwa para Daman, Mantir Adat juga Dewan Adat Dayak harus terus diperhatikan.

Sumber: http://kapuaskab.go.id


Info Kabupaten Kapuas