Sebuah Catatan Sederhana Bentuk Perhatian dari Seorang Insan untuk Pegawai Negeri

Home » Dokumentasi » Konsisten Menjunjung Marwah Memikul Adat
Advertisement

Panglima Gagak Hitam Provinsi Kepri, Arba Udin (Udin Pelor)

Nama Udin Pelor sangat familiar di kalangan masyarakat Melayu Kepri, terutama di Batam. Namanya unik, aneh, terkesan bertindak cepat, seram, dan keras. Namun, saat bertemu dan berdialog dengan Udin, kesan-kesan tadi seketika lenyap ditelan bumi. Yang ada hanyalah sosok lelaki tegap, berkumis, dan berjenggot yang suka berbicara lembut, santun, terkadang sangat merendah. Jauh dari kasar. Tapi, bila bicara Islam, adat, budaya, dan Melayu, baru terlihat siapa panglima ini sebenarnya. Ketika itulah, Udin menjadi lelaki yang tegas, keras, namun benar. Bagaimana pandangan Udin terhadap Islam, adat, budaya, dan Melayu? Berikut wawancara Redaktur Batam Pos, Suprizal Tanjung dengan lelaki yang memiliki nama asli, Arba Udin itu di Radisson Hotel, Batam Kota, Batam, Senin (9/1/2017).

udin-pelor-radisson-hotel-batam-senin-9-januari-2016-f-suprizal-tanjung-2-image3

Udin Pelor di Radisson Hotel, Batam, Senin (9/1/2017). F Suprizal Tanjung

~~~~~~~~~~ ooo000ooo ~~~~~~~~~~

Assalamualaikum Panglima
Waalaikumusallam, Pak.

udin-pelor-suprizal-senin-9-januari-2016-f-suprizal-tanjung-2-image

Udin Pelor dan Suprizal Tanjung di Radisson Hotel, Batam, Senin (9/1/2017). F Suprizal Tanjung

Jujur, saya agak aneh dengan nama Udin Pelor ini. Bagaimana kisahnya?
Saya masuk Batam tahun 1979. Kemudian bekerja sebagai Kepala Operasional Unit Armada Taksi Bima, Primkopad Kodim 0316 Batam tahu 2000-2012. Satu hari, sekitar tahun 2004, saya dipanggil Dandim 0316 Batam saat itu, Letkol Edy Rahmayadi. Beliau meminta saya membantu menguruskan surat menyurat mobil di Dinas Perhubungan (Dishub) Batam. Beliau bertanya bisa berapa hari? Saya  jawab tiga  hari. Itu lebih cepat dari orang-orang yang pernah beliau minta tolong sebelumnya. Ternyata betul tiga hari selesai. Pak Edy senang dan melengkapi panggilan saja menjadi Udin Pelor. Katanya, cuma ada dua Udin Pelor di dunia ini, satu di Aceh, dan satu lagi di Batam. Akhirnya, nama (saya) Udin Pelor lah yang terkenal sampai sekarang.

Sangat menarik dan berkesan. Bagaimana hubungan dengan Pak Edy saat ini?
Alhamdulillah. Saya tetap berkoordinasi dan menghormati Pak Edy Rahmayadi yang saat ini
berpangkat Letnan Jenderal dengan jabatan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Baik. Masuk ke inti  persoalan. Bisa diceritakan sejarah nama Gagak Hitam ini?
Gagak Hitam ini mempunyai arti Gerakan Gabungan Anak Kepulauan, Hidup Indah Tegaknya Adat Marwah. Secara resmi Gagak Hitam dibentuk tahun 2015 di Kaliban Hotel, Batam. Ketika itu diundang 30 orang untuk membentuk pengurus, namun yang hadir mencapai 300 orang. Sangat ramai dan semua antusias.

Kenapa memakai nama gagak. Agak seram kedengarannya?
Di India, gagak adalah burung terhormat. Lagipula gagak tidak memakan makhluk hidup. Gagak hanya memakan makhluk yang sudah mati. Artinya, gagak tidak menggangu, merusak, merampok, atau memeras siapapun. Gagak biarlah makan sedikit, itu pun dari sisa-sisa daging makhluk Allah yang sudah mati. Itulah kita, Gagak Hitam. Kita tidak mengganggu orang, masyarakat. Kita bukan  mencari kaya di sini. Kita malah mengeluarkan waktu, tenaga, pikiran, dan uang kita untuk masyarakat, putra-putri Melayu. Gagak beda dengan elang. Elang memakan makhluk hidup. Gagak nama dan posisinya terhormat.

Banyak yang mendukung kehadirannya?
Tentu. Banyak tokoh besar ikut membesarkan Gagak Hitam. Profesor DR Ir Jemmy Rumengan SE MM yang merupakan mantan Rektor Universitas Batam (Uniba) periode 2004-2014, dan Brigjen Yan Fitri  menjabat sebagai pembina. Lalu Ketua LAM Batam, Drs H  Nyat Kadir, Ketua Dewan Kehormatan LAM Kepri, Makmur Ismail, serta Ketua LAM Batam Kota, Wan Gamal Yardi SE, sebagai penasehat dan pelindung.

Kondisi Gagak Hitam sekarang bagaimana?
Sangat positif. Dicintai dan ditunggu masyarakat. Anggota kita sekarang se Kepri sudah mencapai 15.000 orang. Malah Tengku Saleh yang merupakan Keturunan Sultan di Kesultanan Padang Tebing Tinggi, Sumatera Utara, telah menyatakan bergabung menjadi keluarga besar Gagak Hitam. Siapapun boleh bergabung dengan Gagak Hitam, tanpa memandang suku, dan agama. Semua ini terjadi, salah satunya karena kita konsisten dan banyak berjuang dalam bentuk orasi, menyampaikan aspirasi, pendekatan secara pribadi, maupun imbauan kepada pengusaha, politisi, birokrat, dan Pemko, Pemkab se Kepri, dan Pemprov Kepri.

Perjuangan Gagak Hitam dalam bentuk apa?
Diminta atau tidak diminta, banyak permintaan masyarakat yang kita sampaikan. Paling sering adalah harapan agar Pemko, Pemkab, dan Pemprov bisa memberikan porsi lebih kepada anak-anak Melayu dan putra-putri tempatan. Angkat adat Melayu, dan junjung tinggi marwah negeri dan anak negeri ini.

Konkretnya?
Berdayakan anak-anak tempatan dan putra-putri Melayu. Libatkan dan berikan kesempatan putra-putri Melayu dan tempatan dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, politik, keamanan, agama, dan ketenagakerjaan di Tanah Bunda Melayu  ini. Jujur saja, kita kadang sedih. Sebagai anak di negeri ini, kita kadang hanya sebagai penonton pembangunan. Contoh mudah saja, di perusahaan-perusahaan, banyak tenaga kerja dari luar daerah yang memegang jabatan penting dan strategis. Sementara putra-putri tempatan hanya memegang jabatan rendah, pekerjaan biasa, malah kadang tidak mendapatkan kesempatan kerja. Padahal, kita memiliki kemampuan tidak kalah dengan pekerja-pekerja yang direkrut dari luar daerah, atau bahkan dari luar negeri. Kita berharap, kepada Gubernur Kepri, Nurdin Basirun, Wali Kota Batam, HM Rudi, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmat memperhatikan, cepat menanggapi, dan mencarikan solusi dari berbagai masalah masyarakat.

Perjuangan lain?
Cukup banyak. Beberapa di antaranya adalah menyampaikan aspirasi kepada Pemko Batam, 26 Agustus 2016. Saya datang bersama ribuan anggota. Isinya meminta Pemko memasukkan kembali Kampung Seranggung di Batam Centre ke dalam 37 titik Kampung Tua di Batam. Angkat dan promosikan cagar budaya Melayu seperti yang terjadi di Minang dan Riau.

Masih ada lagi?
Kita meminta kepada Wali Kota Batam, HM Rudi agar nama Jalan Orchard Boulevard di Batam Kota, dikembalikan lagi namanya menjadi Jalan Raja Ali Kelana atau Jalan Abul Yatama. Insya Allah, Pak Rudi akan mengabulkan dan merealisasikan keinginan masyarakat.

Masalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Kepri bagaimana?
Seperti tadi. Kita tidak kalah dengan putra-putri dari daerah lain. SDM kita banyak dan tidak diragukan lagi. Apalagi dengan dukungan Uniba, khususnya Profesor DR Ir Jemmy Rumengan SE MM. Prof Jemmy dan Uniba sangat peduli dengan SDM anak-anak Melayu dan tempatan. Banyak pendidikan, pengalaman, saran dan peluang, beliau berikan kepada kita, anak-anak Melayu. Beliau juga sangat mendukung terangkatnya budaya dan adat Melayu. Misalnya dengan memasangkan tanjak (topi khas Melayu, red) kepada Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Drs Budi Waseso SH (Buwas) dan beberapa profesor saat memberikan kuliah  umum di Uniba, Jumat (6/1/2017). Pak Buwas tetap memakai tanjak tersebut saat turun dari pesawat di Bandara Soekarno Hatta. Ini adalah penghargaan terhadap (produk) budaya Melayu. Dipakaikan tanjak.

Ada info, Anda juga melarang praktik prostitusi di belakang Jodoh Square?
Ya. Kami tidak ingin masalah prostitusi ini menggurita di Batam. Terlebih melihat pekerja seks komersial (PSK) itu berkeliaran di kawasan tersebut. Kehadiran mereka terlihat dan dilihat anak-anak, remaja di kawasan tersebut. Islam mencela dan melarang hal (prostitusi, red) tersebut.

Kabarnya, aparat keamanan sampai turun tangan menengahi agar pasukan Gagak Hitam tidak bentrok saat larangan beroperasinya prostitusi di Jodoh Square?
Betul, ada larangan dari kita di masa Hari Raya Idul Adha, 1437 H, atau September 2016 lalu. Aparat keamanan hanya memantau. Tidak ada keributan antara kita dengan pengelola hiburan di sana. Hanya ada dialog.

Lantaran larangan Anda, prostitusi di Jodoh Square bagai mati suri, tidak beroperasi lagi?
Pengelola hiburan dan PSK di sana menghargai kita. Kita terus mengawasi dan mendatangi kawasan tersebut, agar praktik prostitusi tidak jalan lagi. Ada pro dan kontra. Mereka (PSK, red) beroperasi saja lah di lokalisasi, di tempat yang ditentukan pemerintah, seperti di Sintai, Tanjunguncang. Jangan beroperasi di perumahan penduduk. Tidak baik secara adat, budaya, dan agama.

Anda juga pernah meredam agar masalah SARA tidak berujung bentrok besar di Batuaji dan Bagan Tanjungpiayu tahun 2016?
Kejadian itu biarlah kami dan aparat saja yang tahu, jangan masyarakat. Kami sudah bersabar dan mendinginkan suasana. Mari kita jaga dan bangun negeri Melayu ini, jangan ada konflik.

Anda nampaknya sangat tegas. Ada kaitannya dengan pengalaman Anda yang ikut mengamankan kawasan Robinson Ramayana Jodoh 2002-2009 lalu?
Itu masa lalu. Saya di sana dikenal dengan nama Udin Robinson. Cuma ikut mengamankan. Tidak lebih. Sama seperti sekarang, saya dan kawan-kawan menjadi pengawal pembangunan, pengontrol kebijakan pemerintah, sekaligus penyeimbang agar hak-hak masyarakat terpenuhi.

Harapan Anda?
Sebagai cucu veteran, almarhum Djafar, saya minta kepada birokrat, politisi, DPRD, DPR tetap lah melihat ke bawah ke masyarakat. Lihat, dengar, dan carikan solusi masalah masyarakat. Jangan datang ketika kampanye saja. Janji saat kampanye, bukan hanya  janji kepada manusia, tapi juga kepada Allah. ***

~~~~~~~~~~ ooo000ooo ~~~~~~~~~~

Biodata

Nama Tenar: Udin Pelor
Nama Asli: Arba Udin
Anak: Kedua dari tujuh bersaudara
Tempat Lahir: Sungai Ungar, Tanjungbatu, Kabupaten Karimun
Tanggal lahir: 9 September 1976
Istri: Dewi Safitri
Anak: 3 orang

Organisasi lain

Ketua Pagar Negeri untuk Pembasmi Paham Komunis
Sekjen Jembatan Bersatu Anak Tempatan (Jebat).

~~~~~~~~~~ ooo000ooo ~~~~~~~~~~


Suprizal Tanjung’s Surau

Komentar

Advertisement
File added : Sunday, January 15th 2017.
Category : Dokumentasi
tags: , , , ,

Related Post Konsisten Menjunjung Marwah Memikul Adat

February 14th
2017

Kejaksaan Kapuas Ancam Tahan Mantan Kepala Disbunhut Kapuas Andreas Lempang

Kejaksaan Negeri (Kejari) Kuala Kapuas mengancam akan dan menahan mantan Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) setempat, Andreas Lempang yang disangkakan telah melakukan tindak
January 23rd
2017

Bangga Wakili Kalteng di SU Interpol

BRIPTU Veronica Evan Saputri mampu mengharumkan nama daerah Kabupaten Kapuas dan Provinsi Kalteng. Polwan Polres Kapuas tersebut pernah ditunjuk mewakili Polda Kalteng dalam Sidang
January 12th
2017

Buron 3 Bulan, Ayah Tiri Pelaku Persetubuhan Anak di Bawah Umur Ditangkap

Berkat kejelian dan kesabaran anggota di lapangan, akhirnya Satreskrim Polres Kapuas melalui satuan Resmob berhasil mengamankan seorang pria bernama Isran alias Burak (23). Pemuda
May 17th
2017

Penjualan Miras di Kuala Kapuas Ditutup Selama Ramadan

Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang diselenggarakan, Jumat (12/5/2017) DPRD Kapuas bersama HMI Cabang Kuala Kapuas, terkait Perda Miras berbuah hasil penutupan penjualan miras pada
February 27th
2017

289 Guru Kontrak Laksanakan MoU dengan Dinas Pendidikan, Soal Apa?

Dari sejumlah 1.261 guru kontrak yang statusnya diangkat menjadi guru honorer, untuk tahapan ke-II ini sebanyak 298 orang dari 5 kecamatan. Dengan mengambil tempat