Warga Melchem Lukis Jalan Lingkungan

Program NUSP-2 KemenPU

Masyarakat RW 07 Tanjungsengkuang mengaku telah merasakan manfaat dari program Neighborhood Upgrading and Shelter Project fase kedua (NUSP-2). Program milik Kementerian Pekerjaan Umum tersebut telah berhasil membuat mereka nyaman dengan tempat tinggal mereka.

“Lingkungan kami sekarang berbeda sekali dengan sebelumnya. Tidak kumuh,” kata Ketua RW 07 Kelurahan Tanjungsengkuang, Safri Cahyono di Melchem, Tanjungsengkung, Senin (12/12/2016).

NUSP-2 merupakan program pembenahan kawasan kumuh. Safri mengatakan, pemerintah langsung menunjuk Kelurahan Tanjungsengkuang sebagai lokasi program. Selain di RW 07, program itu juga berlangsung di RW 21 Tanjungsengkuang.

Program itu berlangsung dari bulan Oktober dan selesai bulan November 2016 lalu. Ia terbagi menjadi dua kegiatan. Yakni, kegiatan swadaya dari masyarakat dan bantuan langsung dari pemerintah.

Bantuan dari pemerintah, sebut Safri, berupa semenisasi jalan. Sementara dengan dana swadaya sendiri, masyarakat membersihkan parit dan menghias jalan yang sudah disemen. Hiasan itu berupa permainan kanak-kanak. Misalnya, congklak raksasa dan ular tangga.

“Jadi, anak-anak sekarang bisa main di situ. Lingkungan jadi rapi sekarang,” tuturnya.

Safri berharap, program ini masih akan berlanjut tahun depan. Sebab, masih banyak RW dalam lingkup Kelurahan Tanjungsengkuang yang membutuhkan penanganan kekumuhan tersebut. Dengan adanya program tersebut, masyarakat jadi merasa memiliki terhadap jalan tersebut. Mereka kemudian peduli dengan lingkungan dan mau menjaga lingkungan tersebut dengan baik.

“Harapan kami, semoga program ini berlanjut karena manfaatnya sangat besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Program NUSP-2 di 6 Kelurahan

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Batam Ardiwinata mengatakan, program NUSP dimulai pada tahun 2015. Ketika itu, program hanya untuk skala lingkungan atau pola pemberdayaan masyarakat. Ada dua lokasi yang mereka sasar. Yakni, Mangsang Permai dan Seidaun di Kecamatan Seibeduk.

“Program pemberdayaan dilakukan dengan mengajak masyarakat ikut dalam pembangunan sebagai tenaga kerja. Serta ikut mempercantik kawasan dengan penghijauan dan pengecatan,” jelas Ardiwinata.

Tahun ini, kawasan yang dikerjakan bertambah tiga kali lipat. Yakni, di Mangsang Permai, Seidaun, Tanjungsengkuang, Seipelunggut, Seilekop, dan Kabil. Penanganan dilakukan dalam dua tahap. Yakni, bukan hanya pada pola pemberdayaan masyarakat. Melainkan juga dengan skala kawasan atau kontraktual berupa pembangunan infrastruktu.

“Tahun lalu hanya satu siklus. Tahun ini dua siklus,” kata Ardiwinata.

Setiap siklus atau tahapan, pemerintah pusat menggelontorkan dana sebesar Rp 500 juta per kawasan. Tahun 2017 nanti, Pemerintah Kota Batam akan mengajukan tiga siklus dengan menambahkan pola penanganan sampah. Lokasi yang diajukan masih sama. Yaitu Mangsang, Tanjungpiayu, Kabil, Tanjungsengkuang, Seipelunggut, dan Seilekop.

“NUSP-2 ini berbeda dengan program Kotaku. Jika Kotaku tersebar di semua kabupaten dan kota di Indonesia, NUSP-2 ini hanya ada di 20 kabupaten dan kota se-Indonesia,” pungkas Ardi. (ceu)


Suprizal Tanjung’s Surau