Perspektif Ekonomi Kegiatan Prasarana Desa

prof

 

 

 

 

Oleh: Lendy W Wibowo

 

I. Pendahuluan

Tidak dipungkiri, hasil kegiatan prasarana memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat perdesaan. Tetapi dari sekian banyak prasarana yang telah dibangun, berapa persen memberikan pengembalipiramidaan dari biaya-biaya yang telah dikeluarkan?. Beberapa hasil kegiatan prasarana punya potensi pengembalian biaya yang telah dikeluarkan, misalnya pasar desa, air bersih, listrik desa dan sebagainya. Akan tetapi dalam prakteknya, kegiatan-kegiatan tersebut baru menghasilkan pendapatan kecil saja. Pendapatan dari retribusi misalnya, merupakan pemasukan untuk subsidi biaya pemeliharaan dan kebersihan, jadi masih jauh dari yang diharapkan.

Ruang lingkup manfaat ekonomi kegiatan prasarana Desa ditentukan dari pengambilan sudut pandang serta kebutuhan penilaian terhadap jenis kegiatan tersebut. Kini mulai banyak pihak menganggap bahwa kegiatan prasarana kurang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara langsung saat kegiatan tersebut dilaksanakan/dibangun.

Sementara mulai berkembang pemikiran untuk menempatkan nilai tambah dari kegiatan prasarana yang digunakan untuk mengukur manfaat ekonomi termasuk pendapatan masyarakat. Bahkan juga sudah mulai berkembang pemikiran baru lagi yang mengatakan, bahwa manfaat ekonomi prasarana Desa dilihat dari multiplier effect ekonomi yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut.

Karena hal-hal ini belum banyak dipikirkan dan digarap para pemangku kepentingan program pemberdayaan selama ini, maka penulis mencoba menawarkan suatu perspektif ekonomi kegiatan prasarana di Desa, agar dapat dielaborasi lebih lanjut.

II. Perspektif Ekonomi Kegiatan Prasarana Desa

Perspektif ekonomi kegiatan prasarana Desa mencakup sudut pandang tersebut secara komprehensif, dimana kegiatan prasarana selain memberi pengaruh terhadap peningkatan pendapatan langsung masyarakat, peningkatan terhadap nilai tambah, juga mendorong adanya multiplier effect secara ekonomi bagi masyarakat Desa. Bahkan selanjutnya perspektif kualitas kegiatan prasarana Desa secara ekonomi juga membicarakan sejauh mana kegiatan prasarana Desa mampu memberikan pengembalian biaya-biaya investasi yang telah dikeluarkan.

Dalam hal ini perspektif biaya pengadaan prasarana bukan sebagai beban yang harus ditanggung masyarakat Desa akan tetapi digeser menjadi biaya investasi sekaligus prasarana sebagai aset produktif yang memberikan manfaat langsung dan tidak langsung bagi masyarakat. Keberhasilan menggeser paradigma biaya menjadi aset produktif mendudukkan kegiatan prasarana Desa sebagai sumber modal bagi masyarakat dan Desa.

Dalam perspektif prasarana sebagai aset Desa, maka perlakuan terhadap pengembalian biaya yang telah dikeluarkan untuk kegiatan tersebut tidak boleh menjadi beban masyarakat, justru yang perlu dipikirkan adalah bagaimana menjadikan aset prasarana menjadi modal bagi Desa.

Dalam rangka perspektif yang selaras dengan UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa, upaya pembangunan dan pemberdayaan Desa terutama pada jenis kegiatan prasarana diharapkan mencakup aspek investasi produktif lintas sektoral sebagai perwujudan kewenangan Desa berskala lokal dan pelaksanaan azas subsidiaritas. Perspektif ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi Desa untuk menjadikan kegiatan prasarana sebagai lompatan menuju kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan-kegiatan prasarana Desa ke depan perlu mengarah pada jenis prasarana yang berkaitan langsung dengan usaha ekonomi masyarakat, misalnya prasarana yang berkaitan dengan usaha riil masyarakat atau mendukung mata pencaharian utama seperti prasarana pertanian, perikanan, peternakan dsb. Mata pencaharian masyarakat pada sektor-sektor itu biasanya terkait dengan potensi dominan yang ada di Desa.

Dengan demikian keberhasilan prasarana harus terlihat secara langsung dari meningkatnya pendapatan masyarakat karena masuknya variabel input biaya-biaya proyek (belanja material, tenaga kerja dsb) dan dampak hasil kegiatan terhadap nilai tambah ekonomi serta multiplier effect ekonomi yang dirasakan masyarakat sebagai pemanfaat. Selama ini prasarana dianggap kurang mampu mendorong kesejahteraan dan meningkatkan pendapatan masyarakat dikarenakan kegiatan prasarana tersebut kurang menciptakan efek pengganda ekonomi berupa kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha baru.

Dalam istilah lain, kegiatan prasarana di Desa harus menghadirkan dampak kepada masyarakat sampai ke meja makan mereka.

 

III. Kesimpulan

Dalam perspektif ekonomi, kegiatan prasarana di Desa diharapkan dapat mendorong lapangan kerja yang berkualitas. Lapangan kerja perdesaan yang berkualitas dapat dikembangkan melalui tumbuhnya sektor dan kawasan ekonomi perdesaan, dimana usaha-usaha ekonomi lokal (produksi/industri, perdagangan, jasa) berkembang melalui jaminan adanya kualitas, kontinuitas dan kuantitas.

Semuanya itu dapat dilakukan melalui suatu treatment pola, model bentuk, sistem produksi dengan ditopang kegiatan prasarana pendukung yang memadukan aspek sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki Desa-Desa serta berkembangnya (sistem) pasar yang sinergis serta mampu menampung produk-produk yang telah dihasilkan Desa dalam skala lokal, kawasan, regional bahkan ekspor. Bagimana pendapat kawan-kawan?. (Lendy W Wibowo, Hutan Lodoyo, tulisan bagian pertama).


Desa Membangun Indonesia