Delia Souvenia, Putri Sumbar Peraih Al Ahmadi Award 5 Kategori Young Start Up Business Bidang Talent Inovatif

Berawal Dari Keharusan Bayar SPP Sekolah

Usianya masih 20 tahun. Tapi karyanya sudah dikenal hingga luar Padang. Inilah secuil kisah inspiratif dari pengagum Bob Sadino.

WENNY C PRIHANDINA, BATAM

Delia Karni. Nama itu disebut paling akhir dalam acara puncak penghargaan Al Ahmadi Award di GGI Hotel, Minggu (4/12/2016) lalu. Pembawa acara memperkenalkannya sebagai pemenang Al Ahmadi Award 5 Kategori Young Start Up Business Bidang Talent Inovatif.

delia_dalil-3-ok-image

Lisya Anggraini (kiri) memberikan penghargaan kepada Delia Karni saat acara Al Ahmadi Award di GGI Hotel, Minggu (4/12/2016) lalu.

Seorang gadis mungil berpakaian adat Minangkabau melangkah maju. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum. Dari penampilannya, kita tahu, ia mewakili Provinsi Sumatera Barat. Logat bicaranya semakin menegaskan hal itu.

Delia, begitu ia biasa disapa, berbicara sangat cepat. Ia tampak bersemangat. Antara gugup juga senang.

Kamu senang?

“Senanglah, Kak. Bisa sampai di sini senang sekali,” jawabnya

Delia tak menyangka dirinya dapat terpilih sebagai pemenang. Ia tak yakin dengan presentasi penjurian finalnya, Sabtu (3/12) sebelumnya. Ia mengaku terlalu lelah menunggu giliran. Hingga ketika tiba waktunya presentasi, ia gagap.

“Tapi tidak tahu, ternyata menang,” tambahnya.

Gadis kelahiran Selatpanjang, 25 Desember 1996, itu bertanding di Al Ahmadi Award dengan bekal usaha pembuatan souvenir. Ia memberi brand usahanya Delia Souvenia. Galerinya beralamat di Jalan Sungai Tarung RT 01 RW 01 Kelurahan Bungopasang, Kecamatan Kototengah – Padang.

Ia menyodorkan sebuah kartu nama. Di sana tertera souvenir-souvenir yang biasa ia kerjakan. Seperti, misalnya, keranjang rotan, keranjang parsel, keranjang cinderamata, kotak mahar, dan aksesoris pernikahan.

“Di samping lift itu, ada meja. Di sana ada kotak mahar bentuk Ka’bah. Itu punya Delia tu, Kak,” katanya bersemangat.

Putri ke-8 dari pasangan Karni dan Anis itu lantas berkisah. Ia sudah memulai usahanya dari tahun 2011. Ketika itu ia masih duduk di bangku kelas 1 SMA.

Ia memilih berwirausaha karena keluarganya mengalami krisis keuangan. Mau tak mau ia harus mencari uang untuk membayar uang SPP sekolah. Ia pun mulai menjual boneka-boneka flanel ke teman-teman ataupun toko-toko di pasar. Hingga kemudian, ia melihat banyak sampah karton yang dibuang di pasar, ia memungutnya dan mulai bereksperimen. Ia lantas membuat kotak-kotak untuk mahar.

“Saya belajar otodidak untuk membuat kotak mahar itu,” katanya.

Ia banyak belajar dari Bob Sadino. Terutama tentang manajemen kerja pengusaha. Namun, ia lantas tak mengikuti Bob yang putus sekolah.

“Pendidikan itu tetap nomor satu. Makanya saya masih tetap kuliah,” lanjut gadis yang mandiri dengan membiayai kuliahnya sendiri itu lagi.

Delia berkuliah di Universitas Andalas. Ia memilih jurusan Agribisnis. Tahun ini tahun keduanya di sana. Ia berada di semester ketiga.

Di universitas itu, Delia bergabung dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Seorang senior kampus yang juga bergabung dalam organisasi itu kemudian memberi tahunya tentang ajang Al Ahmadi Award. Ia mengajak sebanyak-banyaknya mahasiswa Kampus Unand untuk bergabung.

“Bagaimana ya, Al Ahmadi itu ajang yang bergengsi. Makanya saya ikut,” tuturnya.

Delia lantas mengirimkan proposal pendaftarannya melalui email. Juri faktualnya, ia mendapat Zulfayetri, datang ke galerinya pukul 23.00 WIB. Dan ia tak menyangka bisa lolos ke tahap penjurian final.

Ia membawa sejumlah produknya untuk babak penjurian itu. Sekaligus juga untuk dipamerkan dalam acara puncak Al Ahmadi Award. Ia pun sudah siap dengan sekotak kartu nama.

Delia Souvenia telah memiliki sejumlah pelanggan. Ia melayani pemesanan kotak mahar. Ia telah membuka cabang di Pekanbaru, Bangkinang, dan Muarobungo. Dengan pesanan yang selalu bertambah setiap tahunnya, Delia tak mungkin mengerjakannya sendiri. Ia mengajak anak-anak sekitar rumahnya untuk menjadi pengrajin. Ia memilih anak-anak yang putus sekolah.

Total, kini ada enam anak yang bekerja untuknya. Dua anak menganyam, dua anak menjahit, dan dua lainnya merenda.

“Setelah ini, saya ingin membuka cabang ke berbagai daerah di Indonesia,” katanya lagi.

Ia juga ingin mengajak lebih banyak anak muda untuk berwirausaha. Untuk mengubah mindsetnya, dari hanya bekerja menjadi menciptakan lapangan kerja.

“Jadilah nakhoda di kapal kecil. Itu lebih baik daripada menjadi anak buah kapal di kapal besar,” tuturnya. ***


Suprizal Tanjung’s Surau