Proses Membatik dari awal hingga akhir

Mori yang sudah dikemplongi dan digarisi, apabila akan dibatik dengan motif jenis parang-parangan atau motif lain, membutuhkan bidang tertentu serta lurus, umumnya “dirujak”. Dirujak artinya membatik tanpa menggunakan pola; orang yang membatik disebut “ngrujak”. Orang yang ngrujak adalah orang yang sudah ahli, sedangkan orang yang baru taraf belajar atau belum mahir biasanya hanya “nerusi” atau “ngisen-iseni”. Sedangkan membatik dengan memper- gunakan pola sudah diterangkan di muka. Baik membatik rujak maupun membatik mempergunakan pola, biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah ahli, sebab taraf permulaan ini merupakan penentuan buruk-baiknya bentuk batikan secara keseluruhan. Seperti yang di paparkan oleh pemilik batik cap berikut :

A. Persiapan Membatik
Keren/anglo atau kompor minyak dan wajan berisi lilin/ malam lalu dipanaskan sampai mencair (lilin harus sem- puma cairnya), supaya lancar keluarnya melalui cucuk can¬ting dan cepat meresap dengan sempuma dalam kain mori, kita baru siap untuk mulai membatik. Api dalam anglo/kere harus dijaga tetap membara, tetapi tidak boleh menyala,
karena berbahaya kalau menjilat malam dalam wajan, apabila menggunakan kompor maka nyala api harus stabil.

1. Kain mori (katun) yang siap dibatik harus sudah berada di atas gawangan dan malam yang sudah cair, anglo/ kompor diletakkan di sebelah kanan pemba tik, pembatik duduk di antara gawangan dan anglo, setelah semua siap pembatik mulai bekerja, pekerjaan membatik disebut pengobeng.

2. Setelah semuanya beres pembatik mulai bekerja. Pertama memegang canting. Cara memegang canting berbeda dengan cara memegang pensil atau pulpen untuk menulis. Perbedaan itu disebabkan ujung cucuk canting bentuknya melengkung dan berpipa besar, sedang pensil atau pulpen lurus. Memegang canting dengan ujung-ujung ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah seperti memegang pensil untuk menulis, tetapi tangkai canting horizontal, sedangkan pensil untuk menulis dalam posisi condong. Posisi canting demikian itu, untuk menjaga agar malam dalam nyam- plungan tidak tumpah.

3. Dengan canting itu pengobeng menciduk malam yang mendidih dalam wajan, kemudian dibatikkan di atas mori. Sebelum dibatikkan canting ditiup lebih dahulu, cara meniup pun dengan aturan tertentu, agar malam dalam nyamplungan tidak tumpah pada bibir pengobeng.
B. Maksud Tujuan Ditiup
1. Untuk mengembalikan cairan malam dalam cucuk ke dalam nyamplungan, supaya tidak menetes sebelum ujung canting ditempelkan pada mori.
2. Untuk menghilangkan cairan malam yang membasahi cucuk canting; karena cucuk canting yang berlumuran cairan malam akan mengurangi baiknya goresan, terutama ketika permulaan canting diproseskan pada mori.
dah ditusuk ditiup kembali, atau langsung dibatikkan pada mori. Keistimewaan menusuk ialah memakai tangan kiri dengan cara tertentu dalam waktu yang cepat.
3. Untuk mengontrol cucuk canting dari kemungkinan tersumbat oleh kotoran malam. Kalau tersumbat, maka cairan dalam nyamplungan tidak bersuara, karena udara tidak dapat masuk. Maka lubang ujung cucuk ditusuk memakai ijuk, atau serabut kelapa sampai masuk sepanjang cucuk. Biasanya sesu-
4. Canting yang sudah beres keadaannya, baru digoresLin pada mori. Tangan kiri terletak di sebalik mori sebagai landasan (penguak) mori yang baru digores dengan canting. Jika cairan malam dalam nyamplungan habis, atau kurang lancar mung-kin karena pendinginan, malam itu dikembalikan ke dalam wajan; kemudian cidukkan kembali dengan canting pada cairan malam dalam wajan itu. Pengembalian cairan malam yang sudah dingin tadi, tidak besar pengaruhnya terhadap malam dalam wajan. Hal itu, dilakukan sampai selesai, membatik, pengerjaan itu disebut nemboki.

C. Tahap-Tahap Membatik
Di sini akan diterangkan bagaimana tahapan membatik dalam mengerjakan sepotong kain mori? Setiap tahapan, dapat dikerjakan oleh orang yang berbeda, tetapi tidak bisa dikerjakan bersamaan dalam waktu yang sama.
Tahap-tahap itu adalah sebagai berikut.
1. Membatik kerangka
Pada tahap awal membatik, dilakukan dengan pembuatan pola (gambar lukisan motif batik). Membatik kerangka dengan memakai pola disebut mola, sedang tanpa pola disebut ngrujak, kain mori yang sudah dibatik seluruhnya berupa kerangka, baik bekas memakai pola maupun dirujak, disebut batikan kosongan atau klowongan. Canting yang diperguna¬kan ialah canting cucuk sedang disebut juga canting klowongan.

2. Ngisen-iseni
Tahap ini adalah memberi isi atau disebut ngisen-iseni dari kata isi, yang berarti memberi isi dengan mempergunakan canting cucuk kecil disebut juga canting isen. Canting isen bermacam-macam, tetapi sepotong mori belum tentu mem¬pergunakan seluruh macam canting isen, karena tergan tung pada motif yang akan dibuat, umpama memerlukan ber¬macam-macam canting isen karena motifnya beraneka ragam. Adapun membatik pengerjaannya harus satu per satu, setiap bagian hams selesai sebelum bagian lain dikerjakan dengan canting lain, misalnya kalau nyeceki (membuat motif yang terdiri atas titik-titik), bagian cecekan ini harus selesai seluruhnya. Setelah cecekan selesai, kemudian mengerjakan bagian lain yang mempunyai nama masing-masing, nama tersebut diambil menurut nama canting yang dipergunakan. Proses pemberian nama ialah dengan mengubah nama benda (nama canting) menjadi kata kerja, sedang hasil kerjanya diambil dari nama canting yang dipergunakan. Nyeceki, yaitu mempergunakan canting cecekan hasilnya bernama cecekan. Neloni ialah mempergunakan canting telon, hasilnya disebut neloni. Mrapati ialah mempergunakan canting prapatan, hasilnya disebut prapatan, dan seterusnya. Akan tetapi, mempergunakan canting galaran atau canting renteng, selalu disebut nggalari dan tidak pernah disebut “ngrentengi”; sedang hasilnya selalu disebut galaran, tidak pernah disebut rentengan.
Cara penggunaan canting bertahap itu banyak keun- tungannya. Keuntungan pertama ialah canting dapat dipergunakan bergantian dalam satu rombongan pengobeng (pembatik) yang berbeda-beda tugasnya tahap batikan yang dikerjakan. Keuntungan kedua ialah mengurangi jumlah canting yang semacam meskipun anggota pengobeng cukup banyak. Kalau dua orang bersamaan akan menggunakan canting semacam, sedangkan canting hanya sebuah, maka salah satu dapat menundanya dan mengerjakan bagian yang lain dengan canting yang lain pula.
Batikan yang lengkap dengan isen-isen disebut reng- rengan, karena namanya reng-rengan maka pengobeng yang membatik dari permukaan sampai penyelesaian (akhir) memberi isen-isen disebut ngengreng. Jadi, ngengrengan merupakan kesatuan motif dari keseluruhan yang dikehen- daki. Hal itu merupakan penyelesaian yang pertama.

3. Nerusi
Batikan yang berupa ngengrengan kemudian dibalik permukaannya, dan dibatik kembali pada permukaan ked ua itu disebut nerusi. Nerusi ialah membatik mengikuti motif pembatikan pertama pada bekas tembusannya. Nerusi tidak Ik rbeda dengan mola, dan batikan pertama berfungsi sebagai pola. Batikan yang selesai pada tahap ini pun masih disebut ngengrengan. Pengobeng yang membatik dari permulaan sampai selesai nerusi disebut ngengreng.

4. Nembok
Sebuah batikan tidak seluruhnya diberi warna, atau diberi warna yang bermacam-macam pada waktu penyelesaian menjadi kain. Maka bagian-bagian yang tidak diberi warna bercucuk besar. Orang yang mengerjakan disebut nembokatau nemboki, dan hasilnya disebut tembokan. Bagian yang ditembok biasanya di sela-sela motif pokok. Menembok biasanya mempergunakan malam kualitas rendah. Meskipun malam penuh kotoran, tetapi canting bercucuk besar tidak banyak terganggu. Selain itu, bagian tembokan cukup lebar dan tebal sehingga malam untuk nembok dapat diatasi.

5. Bliriki
Bliriki ialah nerusi tembokan agar bagian-bagian itu tertutup benar-benar. Bliriki mempergunakan canting tembokan dan caranya seperti nemboki. Apabila tahap terakhir ini sudah selesai berarti proses membatik juga selesai. Hasil bliriki disebut blirikan tetapi jarang disebut demikian, lebih biasa disebut “tembokan”. Membatik dianggap selesai
apabila proses terakhir tadi selesai, batikan dijemur sampai malamnya hampir meleleh. Maksud penjemuran itu agar lilin pada mori tidak mudah rontok atau hilang. Sebab malam mendidih waktu dipergunakan untuk membatik, dan bersinggungan dengan mori dingin akan membeku seketika karena proses “kejut”. Pembekuan malam demikian itu kurang baik, karena batikan sering patah-patah dan malam mudah rontok. Tetapi jika dijemur, pemanasan terjadi secara merata, dan mori ikut terpanasi. Mori yang mengalami pemanasan sinar matahari akan mengembang, dan mempunyai daya serap. Proses mengembang ini memperkuat melekatnya malam yang akan mulai meleleh, sebelum malam itu meleleh, batikan harus diangkat dengan hati-hati ke tempat teduh.
Di tempat teduh, batikan secara serentak akan mendingin. Proses pendinginan ini pun ada keuntungannya, karena antara mori dan malam saling memperkuat daya lekat. Selesailah kerja membatik.

6. Mbabar
Mbabar ialah proses penyelesaian dari batikan menjadi kain. Selesai batikan dibliriki, pengerjaan selanjutnya, yaitu memproses menjadi kain. Di beberapa daerah cara mbabar pada garis besarnya sama. Perbedaannya hanya terletak pada perbandingan bahan adonan yang dipergunakan. Ada suatu daerah di mana perbandingan bahan adonan sudah tertentu sesuai dengan kain yang diinginkan. Akan tetapi, ada pula daerah yang mempergunakan perbandingan tidak menentu dan hanya berdasarkan perkiraan saja menurut pengalaman.
Selain itu, perbedaan terletak pada jangka waktu yang dibutuhkan setiap tahap-tahap mbabar. Ada pula yang mempergunakan jangka waktu tertentu, tetapi ada pula yang berdasar perkiraan saja. Perbedaan-perbedaan itu memenga- ruhi kualitas kain yang diproduksi dari setiap daerah. Hal itu tidak mustahil, karena mbabar terdapat proses kimia, sedangkan waktu adalah sangat besar pengaruhnya terhadap proses kimia. Akan tetapi, proses ini belum diketahui secara mendalam oleh para pembabar masa silam.

a Bahan untuk mbabar
Pada umumnya, untuk mbabar batikan dipergunakan bahan hasil alam dengan pengolahan sederhana. Memang bumi Indonesia kaya akan hasil alam yang bermacam-macam.
Bahan untuk mbabar, adalah sebagai berikut.
1) Nila dari tumbuh-tumbuhan tarum (Jawa tom). Sudah sejak zaman purbakala tarum dipakai untuk membuat warna pakaian. Nila dipergunakan untuk medel batikan dengan campuran bahan yang lain.
2) Tebu diambil gulanya atau tetes sebagai campuran.
3) Enjet (kapur sirih) digunakan untuk campuran.
4) Tajin adalah semacam kanji yang diambil dari air rebusan beras.
5) Soga adalah soga sama tumbuh-tumbuhan dari keluarga Papilionaceae dan mempunyai warna kuning.
6) Saren dari kata sari berarti inti atau pati. Di Jawa terdapat istilah “saren” yang dimaksud adalah darah lembu (kerbau) yang dipotong dan dimasak. Di sini saren adalah suatu ramuan atau adonan dari beberapa bahan untuk mencelup batikan sesudah disoga, dan tahap ini adalah tahap menghilangkan “malam” atau mendekati penye¬lesaian.
b. Proses mbabar batikan menjadi kain
Proses ini terbagi dalam beberapa tahap dan harus diselesaikan secara urut. Kalau batikan sudah dibliriki, pekerjaan selanjutnya adalah tahap pertama proses mbabar sebagai berikut.
1) Medel dan mbironi
Bahan pokok untuk medel ialah nila (tarum). Lebih dahulu disediakan air 960 liter. Sebuah jambangan diisi air 440 liter, dan sebuah lagi tetap dikosongkan. Jambangan yang berisi air kemudian diberi latak. Latak ialah endapan cairan nila. Banyaknya latak 120 liter, diaduk pagi dan sore selama 2 atau 3 hari. Pada pagi hari ke-3 atau 4, jika keadaan latak dalam campuran tersebut sudah kelihatan hitam, maka air di atas endapan diambil dan dipindah ke jambangan yang kosong. Endapan latak campuran ditambah lagi dengan latak baru sebanyak 80 liter dan gula tetes sebanyak sebatok (batok ialah tempu- rung kelapa dibelah dua dan diambil dagingnya). Warna campuran akan menjadi kuning. Sore harinya ditambah lagi dengan nila yang amat hitam sebanyak 1,5 pinggan besar (pinggan ialah mangkok besar).
Keesokan harinya, kira-kira jam 06.00, nila dalam jam¬bangan sudah dapat dimasuki batikan. Nila sebanyak itu untuk batikan sebanyak 30 potong, masing-masing 2,5 kacu. Pencelupan ini memakan waktu kira-kira 2 jam, setelah itu diangkat dari rendaman dan ditaruh pada suatu sampiran tanpa dibentangkan, sampai air tidak menetes (atus). Pengangkatan dari rendaman dan penem- patan sampai “atus” disebut “kasirep” (kasirep dari kata sirep berarti “reda”). Jika sudah atus atau tidak menetes airnya, kemudian dimasukkan ke dalam nila kembali selama dua jam. Setelah itu diangkat dan dijemur sampai kering. Pengangkatan kedua dan penjemuran sampai
kering disebut “kageblogi” (kageblogi dari kata “geblok” berarti suatu cara memukul, atau suatu ukuran kelompok).

Setelah batikan kering, dimasukkan lagi ke dalam nila. Pekerjaan ini dilakukan beberapa kali sampai batikan mencapai warna hitam. Kalau batikan sudah berwarna hitam, barulah kerja tersebut berhenti. Nila bekas pence- lupan segera ditambah dengan endapan nila sebanyak 1,5 pinggan besar. Penambahan ini disebut “nglawuhi” (nglawuhi dari kata lawuh berarti lauk-pauk untuk makan). Tetapi arti atau fungsi nglawuhi dalam proses membabar kain ini adalah sebagai penyempurna. Sekarang nila berwarna kuning. Kalau terlalu kuning akan berbahaya sebab dapat merontokkan malam, sedangkan tugas “malam” pada mori belum selesai. Warna terlalu kuning disebabkan kurang enjet (kapur sirih). Tetapi jika terlalu banyak enjet, warnanya akan menjadi hijau, tidak
dapat untuk menghitamkan batikan. Untuk mengembali- kan warna menjadi kuning, cukuplah diberi cuka jawa atau gula tetes.
Seandainya belum juga kuning, diberi gula tebu dan asam sampai warna berubah menjadi kuning kembali sesuai dengan kebutuhan. Setelah itu, batikan dimasukkan kembali dalam adonan nila seperti kerja di atas.

Sekarang batikan benar-benar berwarna hitam. Setelah cukup batikan diangkat dan dicuci dalam air tawar dan dikeringkan pada tempat teduh. Batikan yang sudah kering direndam dalam air tawar sampai malam bluduk (bluduk seperti keadaan akan rontok). Malam pada batikan reng- rengan dan terusan dikerok memakai alat tertentu sampai bersih, sedangkan malam pada tembokan dan blirikan tidak dikerok. Batikan yang sudah dikerok terus dibilasi (dibilasi ialah pencucian yang kedua kali) sampai air cucian kelihatan bersih, dan dikeringkan kembali pada
tempat yang teduh. Setelah batikan kering, lalu dikanji memakai “tajin busuk” (basi) dengan gula tebu. Perbandingan campuran ialah 3 gelas tajin: gula seberat 3 buah uang sen. Setelah dikanji batikan dikeringkan kembali. Sesudah kering dibironi pada bagian-bagian yang membutuhkan warna biru (dibironi diberi warna biru). Sebelum dibironi, bagian-bagian yang tidak membutuh¬kan warna biru ditutup dengan malam. Cara menutup seperti membatik tembokan dan bliriki. Selesai dibironi, meningkat ke tahap ketiga, yaitu disoga.
Kemudian batikan dibironi. Reng-rengan batikan dikerok sampai bersih, seperti cara yang sudah diterangkan. Sesudah dikerok terus dicuci dan dikering¬kan, atau tanpa dikeringkan langsung disekuli, yaitu dicelupkan dalam “tajin”, kemudian dikeringkan. Apabila sudah kering, terus dibironi. Perbedaan dengan cara di atas ialah tanpa mengalami pengeringan yang pertama. Selain itu, perbandingan bahan-bahan ramuan nila tidak tentu, tetapi tergantung dari perkiraan yang mengerjakan. Hal itu mungkin merupakan kekalahan dalam tahap wedelan.
2) Nyoga
Sesudah dibironi dan kering, batikan itu disoga. Caranya: Batikan diwiru, yaitu dilipat bolak-balik (lipatan spiral). Selesai diwiru, dimasukkan ke dalam wadah yang berisi soga hangat, ditekan-tekan sedemikian rupa agar merata. Sesudah cukup rata diangkat, dan disampirkan di atas wadah tersebut, supaya soga dapat menetes
kembali ke dalam wadah tadi. Jika cairan soga tidak menetes lagi, maka batikan dijemur pada sinar’matahari sampai setengah kering, kemudian dipindah ke tempat teduh sampai kering. Di sini barulah satu tahap nyoga; sedang penggunaan masing-masing soga akan berbeda pula tingkat-tingkatnya.

Setelah selesai menyoga, segera batikan disareni. Kapur dan gula tebu dituangi air jambangan, diaduk sampai hancur. Sesudah mengendap, maka air rendaman dituangkan dalam kenceng. Batikan dimasukkan dalam kenceng sampai merata; kemudian diangkat sampai atus. Sesudah atus, terus dipukul-pukul dalam air panas supaya malam hilang. Memukulkan pada air panas disebut “nglorot atau”nglungsur”. Setelah batikan dilorot terus di cuci dan dijemur. Penjemuran batikan itu disebut “dikemplang”. Sampai tahap ini disebut “ambabar”. Sel iap pagi hari batikan yang sudah berupa kain itu diembun- embunkan. Selesailah proses mbabar batikan.