Mengenal Batik Tulis dan Cap Tradisional

Mari belajar Membatik
Batik tradisional yang indah, tercipta melalui serangkaian proses. Pemilihan kain yang baik dan terjamin kualitasnya, menentukan juga kualitas batik jadinya. Setelah kain berkualitas baik terpilih dan dipotong sesuai kebutuhan, selanjutnya kain diproses sebagai berikut.
A. Loyor
Siapkan kain mori (katun) lalu bersihkan dari sisa kanji dengan air panas dicampur dengan merang (jerami). Catatan: Kain katun pabrikan dan sutra biasanya sudah bersih.

B. Kemplongan
Setelah dibersihkan kain mori dipadatkan seratnya.

C. Memola
Memola yaitu membikin pola atau melukis motif batik pada kain mori lihat gambar!

D. Membatik / Nglowong
Nglowong yaitu menggambari kain dengan lilin, baik menggunakan canting tangan atau cap (stempel), sifat lilin yang digunakan dalam proses ini harus cukup kuat dan renyah supaya lilin mudah dilepaskan dengan cara dikerok,
karena bekas gambar dari lilin ini nantinya akan diberi warna cokelat (soga). Lihat gambar berikut!

E. Nembok
Nembok yaitu menutup bagian dari pola yang tetap dibiarkan putih saja dengan lilin, batik tembokan atau proses ini hampir sama dengan nglowong, tetapi lilin yang digunakan lebih kuat. Karena lilin ini dimaksudkan untuk menahan warna biru (indigo) dan cokelat (soga) agar tidak menembus kain. Bedanya dengan nglowong adalah nembok untuk menahan warna, sedangkan nglowong untuk meng- gambar dan menjadi tempat warna cokelat setelah dikerok. Lihat gambar
F. Medel / Wedelan
Medel yaitu mencelup mori yang sudah diberi lilin batik ke dalam warna yang dikehendaki, biasanya warna gelap memakai nila. Tahap ini untuk memberi warna biru dengan menggunakan indigo yang disesuaikan dengan tingkat warna yang dikehendaki. Pada waktu dahulu dengan menggunakan indigo alami, dan proses ini berlangsung lebih dari satu minggu untuk warna biru yang lebih tua. Kemudian setelah ada indigo pasta/puder warna biru dapat diperoleh hanya dalam waktu 1-2 hari. Setelah tahun 1965, sedikit sekali orang memakai indigo. Untuk memperoleh warna biru biasanya menggunakan warna kimia yang lebih cepat, seperti naftol, dengan warna naftol dapat mempercepat proses hanya beberapa menit. Lihat gambar!

G. Ngerok dan Nggirah
Ngerok dan nggirah yaitu menghilangkan lilin dari bagian- bagian yang akan diberi warna dengan alat kerok/serut atau menghilangkan lilin klowongan untuk tempat warna cokelat, pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan potongan
kaleng dengan lebar 3 cm, panjang 30 cm yang ditajamkan sebelah lalu dilipat menjadi dua, alat ini disebut cawuk, lihat gambar!

H. Mbironi
Mbironi yaitu menutup bagian-bagian yang akan dibiarkan tetap berwarna putih, dan tempat-tempat yang ter dapat cecek (titik-titik) lihat gambar!

I. Nyoga
Nyoga yaitu mencelup kain mori ke dalam pewarna cokelat, atau kain yang telah dibironi lalu diberi warna cokelat (disoga) dengan ekstrak pewarna yang terbuat dari kulit kayu, soga, tingi, tegeran, dan lain lain (zat warna alam). Kain tersebut, dicelup dalam bak pewarna hingga basah seluruhnya kemudian ditiris hingga kering. Proses ini diulang-ulang hingga sampai mendapatkan warna cokelat yang diinginkan. Untuk warna tua sekali proses ini dapat memakan waktu 2 minggu. Jika menggunakan pewarna kimia (zat warna sintetis) proses ini dapat selesai dalam waktu satu hari. Lihat gambar!
J. Nglorod / Mbabar / Ngebyok
Nglorot yaitu menghilangkan lilin batik dengan air mendidih ±
ditambah air tapioka encer agar lilin tidak melekat kembali pada kain, lihat gambar!

Desain Produk
Desain motif batik adalah proses pembuatan motif batik yang mempunyai nilai seni, dan diharapkan dapat menarik untuk dilihat dan menimbulkan rasa keinginan untuk memiliki. Untuk mendapatkan hasil yang baik/bagus, maka yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
1. Kualitas bahan dasar kain baik katun maupun sutra.
2. Bahan pewarna batik yang tidak berkualitas karena akan memengaruhi hasil wama yang kurang jelas pada motif batik.
3. Proses pembuatan yang terburu-buru karena target pesanan.
4. Faktor psikologis si pelukis batik itu sendiri.
5. Jiwa seni pada pelukis batik, juga dibutuhkan kesabaran. Berangkat dari motif batik dan kualitas perwarnaan yang
baik, maka diharapkan dapat mempermudah inspirasi untuk desain produk. Lihat gambar produk batik berikut ini!
Mengenal Batik Tulis dan Cap Tradisional

Marketing (§1 (Peluang Pasar)
esuai dengan berkembangnya dunia modeling, maka peluang batik tulis mempunyai peluang besar, baik pasar lokal maupun untuk ekspor. Namun harus disertai dengan kreasi- kreasi baru untuk produk yang berbahan baku kain batik.
Dunia elektronika yang disertai sistem informasi yang sangat pesat, bisa dimanfaatkan oleh kita untuk memperkenalkan produk, seperti web. internet, televisi, radio, atau dunia periklanan.
Periklanan adalah fenomena bisnis modern. Tidak ada perusahaan yang ingin maju dan memenangkan kompetisi bisnis tanpa mengandalkan iklan. Demikian pentingnya peran iklan dalam bisnis modern, sehingga salah satu bonafiditas perusahaan terletak pada berapa besar dana yang dialokasikan untuk iklan tersebut. Di samping itu, iklan merupakan jendela kamar dari sebuah perusahaan. Keberadaannya menghubungkan perusahaan dengan masyarakat, khususnya konsumen.
Periklanan selain merupakan kegiatan pemasaran juga merupakan kegiatan komunikasi. Kegiatan pemasaran, meliputi strategi pemasaran, yakni logika pemasaran yang dipakai unit bisnis untuk mencapai tujuan pemasaran.

Batik Tulis dan Cap Tradisional

Daftar Pustaka
G.P. Rouffear. En. H.H. 1914. Juyriboll De Batikkunst.
Hamzuri, Drs. 1981. Batik Klasik. Jakarta: Djambatan.
Industri Batik, Trusmi Cirebon, Batik Puri Masina dan Butik Ank
Rejksblad van Djok. 1927. Jakarta.
Glcsarium
abstrak
anglo
batik
bliriki
canting
enjet
historis
malam
mbabar
mola
motif
nembok
nerusi :
ngisen-ngiseni :
ngrujak :
pengobeng : soga :
tidak berwujud, tidak berbentuk, mujarad, niskala
perapian (dapur) kecil dengan arang sebagai bahan dasarnya
kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan nerusi tembokan agar bagian-bagian itu tertutup benar-benar
pencedok lilin yang bercarat dibuat dari tembaga (alat untuk membatik) kapus sirih
berkenaan dengan sejarah, bertalian atau ada hubungannya dengan masa lampau lilin yang dipakai untuk membatik proses penyelesaian dari batikan menjadi kain membatik dengan pola pola, corak
membatik dengan menggunakan canting tembokan
membatik mengikuti motif pembatikan pertama pada bekas tembusannya memberikan isi dengan mempergunakan canting cucuk kecil/canting isen membatik tanpa pola pekerja (perajin) pada perusahaan batik pohon yang kulitnya dipakai sebagai bahan pemerah pada kain batik
Indeks
bandul, 16 batik cap, 1,5, 7 batik sutra, 10 batik tradisional, 8 batik tulis, 1,4,5, 7 bliriki, 38 C
canting byok, 21 canting carat/cucuk, 20 canting cecekan/ titik, 20 canting isen, 19 canting liman, 21 canting loron, 20 canting prapatan, 20 canting reng-rengan, 19 canting renteng, 21 canting telon, 20 canting, 15,18, 31, 32, 33, 49 D
dingklik/ jojodog, 16
E
enjet, 41,43
G
gawangan/sampiran, 17
H
historis, 1, 8
K
kain dodot, 23
kain mori, 15,18,22,24,31,32,
kain nyamping, 23 kemplongan, 18,49
I. v .
loyor, 48 M
mbabar, 40,53 mbironi, 42,45, 51,52 mola, 34,49
motif batik Cirebonan, 11 motif batik Jawa Tengah, 10 motif batik, 5,7,10,15,34,49
N
nembok, 33,37,50 nerusi, 37 ngerok, 51 ngisen-iseni, 35 ngrujak, 34 nila, 41, 42 P
pengobeng, 32,36,37
S
santri, 1
seni batik, 2
sentra batik, 9
soga, 2,12,41, 45,46, 53
T
taplak, 17
teknik celup rintang, 6
U
udheng, 23
Z
33,39,48 zat per intang war na, 6