Home » Blog » Instrumental batik dari a – z
Advertisement
loading...

Masa Depan Batik
masa depan batik bergantung pada generasi penerus sebagai seniman batik atau pewaris sejarah batik, faktor lain yang akan memengaruhi seni batik adalah duniafashion (dunia model), motif yang mengikuti tren atau motif-motif baru sehingga memunculkan kreasi pembuatan produk baru pada dunia model.

Perlenakapan
Batik Canting
Proses seni melukis di atas kain ini (batik tradisional), dari waktu ke waktu tidak mengalami banyak perubahan sampai sekarang. Peralatan yang digunakan cukup sederhana dilihat dari bentuk dan fungsinya, seperti dingklik, gawangan, kemplongan terbuat dari bahan kayu/bambu, dan canting bentuknya sangat unik terbuat dari logam tembaga atau kuningan. Alat-alat batik ini cukup tradisional dan unik, sesuai dengan caranya yang masih tradisional. Melukis di atas kain dibutuhkan daya seni yang khusus, sehingga menghasil motif batik unik dan merupakan ekspresi dari pelukis batik itu sendiri, coretan canting yang indah akan dirasakan bagi yang melihatnya.Bagaimana kalau membatik dengan menggunakan alat mesin yang lebih modern maka akan merubah nama batik tradisional menjadi kain motif batik. Hal ini menunjukkan bahwa cara membatik ini memiliki sifat yang khusus dengan hasil seni batik tradisional. Jika dilihat hasilnya, coretan batik yang satu dengan yang lainnya akan berbeda. Ini menunjukkan keunikan sendiri, dari segi waktu dan jumlah yang dihasilkan yang sangat terbatas serta hasil seni dari coretan canting pada kain mori akan menghasilkan seni batik yang bernilai tinggi dan harga yang relatif mahal.

A. Bandul
Bandul terbuat dari logam (besi, timah, tembaga, kuningan), kayu dan batu. Fungsinya untuk menahan kain mori yang baru dibatik agar tidak mudah tergeser ditiup angin, atau tarikan si pembatik secara tidak disengaja.

B. Dingklityjojodog
Dingklik adalah tempat duduk untuk membatik, tingginya disesuaikan dengan tinggi orang duduk saat membatik, terbuat dari kayu/rotan atau bambu.

C. Gawangan/sarnp iran
Sampiran terbuat dari kayu atau bambu, fungsinya untuk menggantungkan kain mori yang akan dibatik dengan menggunakan canting. Sampiran ini diharapkan mudah untuk dipindah-pindah tempat.

D. Taplak
Taplak berfungsi untuk menutup dan melindungi paha pembatik dari tetesan lilin/ malam dari canting.

E. Kemplongan/me j a kayu
Kemplongan mempakan alat penghalus kain secara tradisional, yang terbuat dari kayu yang berbentuk meja. Kemplongan terdiri atas palu, kayu, dan penggilasan kayu, alat ini untuk meratakan kain mori yang kusut sebelum diberi P°la motif batik dan dibatik.

F. Canting
Canting merupakan alat untuk melukis atau menggambar dengan co¬retan lilin/malam pada kain mori. Canting ini sangat menentukan nama batik yang akan dihasilkan menjadi batik tulis. Alat ini terbuat dari kombinasi tembaga
dan kayu atau bambu yang mempunyai sifat lentur dan ringan.

iff
Canting dapat dibedakan dalam beberapa macam.
1. Menurut fungsinya
a. Canting reng-rengan
Canting reng-rengan dipergunakan untuk membatik reng- rengan. Reng-rengan adalah batikan pertama kali sesuai dengan pola atau membatik kerangka dari motif pola dasar sebelum pekerjaan lebih lanjut. Pola adalah lukisan motif batik yang dipergunakan untuk model contoh. Sedangkan isen adalah canting untuk mengisi bidang yang diinginkan, hasil mencontoh kerangka pola batik bersama isian disebut polan. Canting reng-rengan bercucuk sedang dan tunggal.

b. Canting isen
Canting isen adalah canting untuk mengisi bidang polan. Canting isen bercucuk kecil baik tunggal maupun rangkap.

2. Menurut besar kecil cucuk
a. Canting carat (cucuk) kecil.
b. Canting carat (cucuk) sedang.
c. Canting carat (cucuk) besar.
3. Menurut banyaknya carat (cucuk)
a. Canting cecekan/titik
Canting cecekan bercucuk satu (tunggal), kecil, dipergunakan untuk membuat titik-titik kecil (Jawa: cecek). Orang membuat titik-titik dengan canting cecekan disebut “nyeceki”. Selain untuk membuat titik-titik kecil sebagai pengisi bidang, canting cecekan dipergunakan juga untuk membuat garis-garis kecil.
fa. Canting loron/ganda
Loron berasal dari kata loro yang berarti dua. Canting ini bercucuk dua, berjajar atas dan bawah, dipergunakan untuk membuat garis rangkap.
c. Canting telonltiga cucuk
Telon dari kata telu yang berarti tiga. Canting ini bercucuk tiga dengan susunan bentuk segitiga. Kalau canting telon dipergunakan untuk membatik, maka akan terlihat bekas segitiga yang dibentuk oleh tiga cucuk.
d. Canting prapatan/empat cucuk
Prapatan dari kata papat yang berarti empat. Maka canting ini bercucuk empat, dipergunakan untuk mem-
buat empat buah titik yang membentuk bujur sangkar sebagai pengisi bidang.
e. Canting liman/lima cucuk
Liman dari kata lima. Canting ini bercucuk lima untu k membuat bujur sangkar kecil yang dibentuk oleh empat buah titik dan sebuah titik di tengahnya.
f. Canting byok
Canting byok ialah canting yang bercucuk tujuh buah atau lebih, dipergunakan untuk membentuk lingkaran kecil yang terdiri atas titik-titik, sebuah titik atau lebih, sesuai dengan banyaknya cucuk, atau besar kecilnya lingkaran. Canting byok biasanya bercucuk ganjil.
g. Canting rentenglgalaran
Galaran berasal dari kata galar, suatu alat tem- pat tidur terbuat dari bam- bu yang dicacah membujur.
Renteng adalah rangkaian sesuatu yang berjejer; cara merangkai dengan sistem tusuk. Canting galaran atau renteng selalu bercucuk genap; empat buah cucuk atau lebih biasanya paling banyak enam buah, tersusun dari bawah ke atas.

G. Kain Mori
Mori adalah bahan baku batik dari katun. Kualitas mori bermacam-macam, dan jenis- nya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan. Karena kebutuhan mori dari bermacam-macam kain tidak sama, perhatikan keterangan berikut barangkali bermanfaat.
1. Ukuran mori/katun
Mori /katun yang dibutuhkan untuk sebuah tapis sesuai- kan dengan seorang pemakai, namun hal ini susah untuk diprediksiberapa panjang pendeknya kain tersebut. Maka ada standar ukuran yang ditetapkan untuk setiap pembuat, misalnya udheng atau ikat kepala. Udheng untuk kain tapis berukuran lebih hasilnya lebih sempurna, jika dibandingkan ukuran pendek maka akan memengaruhi kesempurnaan pemakai.
Cara mengukurnya pun hanya dengan jalan memegang kedua sudut kain mori/katun pada sebuah sisi lebar, dan menempelkan salah satu sudut tadi pada sisi panjang berse- berangan sepanjang lebar mori. Kalau akan mengambil beberapa kacu, maka berganti-ganti tangan kiri dan kanan memegang sudut mori itu, menempelkan pada sisi panjang yang sama dengan menekuk mori.

2. Kebutuhan akan kain mori
Kain dodot membutuhkan mori 7 kacu. Kain dodot biasanya dipakai oleh keluarga keraton atau penari klasik. Karena kain dodot mahal harganya, maka fungsi kain dodot untuk para penari diganti dengan kain biasa yang cukup panjang. Kain nyamping membutuhkan 2 atau 2.5 kacu, menurut kesenangan atau besar kecilnya si pemakai. Udheng membutuhkan mori sekacu. Udheng ada dua macam, yaitu udheng lembaran dan udheng jadi. Udheng jadi ialah udheng yang sudah berbentuk, tinggal pakai. Udheng jadi ini sebenarnya hanya membutuhkan kain setengah kacu, dan memotongnya secara diagonal. Sedang udheng lembaran dibentuk sewaktu akan dipakai, langsung di kepala si pemakai; selesai dipakai udheng itu dilepas lagi. Udheng terakhir ini membutuhkan mori sekacu; tetapi secara praktis juga hanya setengah kacu, karena setengah kacu lagi terlipat
di dalam sebagai penebal belaka.
Mengenal Batik Tulis dan Cap Tradisional 23
Oleh karena itu, udheng lembaran dapat dibatik menjadi dua macam motif batik dengan batas salah satu diagonal. Dengan udheng tersebut, si pemakai bebas memilih motif mana yang ditaruh di luar untuk diperlihatkan
3. Mengolah kain mori sebelum dibatik
Kain mori sebelum dibatik harus diolah lebih dahulu. Baik buruknya pengolahan akan memengar uhi baik buruknya kain mori tersebut.
Sebelum kain mori diolah, terlebih dahulu kain mori dipotong kemudian diplipit. Diplipit yaitu dijahit pada bekas potongan supaya benang pakan tidak terlepas. Benang pakan yaitu benang yang melintang pada tenunan. Setelah diplipit kemudian dicuci dengan air tawar sampai bersih. Kalau mori kotor, maka kotoran itu akan menahan meresapnya cairan
lilin (malam yang dibatik- kan) dan menahan cairan warna pada waktu proses pembabaran. Di daerah Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon mori setelah dicuci dijemur sampai kering. Tetapi di daerah Blora, setelah dicuci bersih mori terus direbus.
Setelah wantu panas, mori bersih dimasukkan ke dalam- nya. Cara memasukkan mori ke dalam wantu mulai dari ujung sampai pangkal secara urut. Rebusan memakan waktu

beberapa menit. Mori kemudian diangkat dan dicuci untuk menghilangkan kotoran sewaktu direbus.
Selesai dicuci barulah dijemur sampai kering. Mori menjadi lemas; kemudian dikanji. Bahan kanji ialah dari beras. Di daerah Blora dipakai sembarang beras asalkan putih. Beras direndam beberapa saat dalam air secukupnya; kemudian beras bersama airnya direbus sampai mendidih. Air rebusan beras diambil, air rebusan beras disebut tajin. Mori kering di- masukkan ke dalam tajin sampai merata; tanpa diperas langsung dijemur supaya kering.

Akhirnya mori menjadi kaku, setelah mori lembap kemudian dikemplong. Dikemplong ialah dipukuli pada tempat tertentu dengan cara tertentu pula, supaya benang- benang menjadi kendor dan lemas, sehingga cair, sediakan kayu kemplongan sebagai alas dan alu pemukul atau ganden (ganden ialah martil agak besar terbuat dari kayu). Mori dilipat memanjang menurut lebarnya. Lebar lipatan lebih kurang setengah jengkal; kemudian ditaruh di atas kayu dasar
memanjang, lalu dipukul-pukul. Jika perlu dibolak-balik agar pukulan menjadi rata.

Cara memindah kayu penggaris setelah garis pertama ke garis kedua ialah dengan memutar kayu penggaris (mem- balik), tanpa mengangkatnya. Maka lebar sempitnya ruang, antara garis satu dengan lainnya ditentukan oleh banyaknya putaran kayu penggaris. Mori yang dibatik motif semen tidak perlu digarisi, langsung dirangkap dengan pola pada muka mori sebaliknya. Setelah semua itu selesai, barulah dapat dimulai kerja membatik. Setelah dikemplong, tinggal menentukan motif batikan yang dikehendaki. Jika ingin motif parang-parangan, atau motif-motif yang membutuhkan bidang-bidang tertentu, maka mori digarisi lebih dahulu. Fungsi penggarisan ini hanyalah untuk menentukan letak motif agar menjadi rapi (lurus). Pembatik yang sudah mahir tidak menggunakan penggarisan. Besar kecilnya garisan tidak
sama, tergantung pada motif rencana batikan. Biasanya kayu garisan berpenampang bujur sangkar.
H. Lilin (Malam)
Lilin atau malam ialah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Proses pengerjaan dari membatik sampai batikan menjadi kain, dapat dikemukakan sebagai berikut.
Malam yang dipergunakan untuk membatik bermacam- macam jenisnya, dan akan berpengaruh terhadap kualitas malam tersebut, terutama daya serap warna pada kain yang berdampak pada kehalusan hasilnya.
1. Jenis-jenis lilin/malam, yaitu sebagai berikut.
a. Malam tawon (lebah) yang berasal dari sarang lebah (tala tawon), tala tawon dipisahkan dari telur lebah dengan jalan merebusnya.
b. Malam lanceng adalah malam tawon lanceng.
c. Malam timur berasal dari minyak tanah buatan pabrik.
d. Malam sedang pabrikan berasal dari minyak tanah.
e. Malam putih pabrikan berasal dari minyak tanah.
f. Malam kuning pabrikan berasal dari minyak tanah.
g. Malam songkal pabrikan berasal dari minyak tanah.
h. Malam geplak pabrikan berasal dari minyak tanah.
i. Malam gadarulem pabrikan berasal dari minyak tanah.
Lilin/malam yang dipergunakan untuk membatik. Sebe- narnya, malam/lilin tidak habis sebab didapatkan kembali ketika proses membabar.

2. Cara mencampur
Malam putih 100 gr, malam hitam 50 gr, malam klancen 50 gr atau malam timur 100 gr, malam bekas batikan 50 gr.

File added : Wednesday, September 10th 2014.
Category : Blog
tags: , , , , ,

Related Post Instrumental batik dari a – z

June 20th
2017

TCP/IP

TCP/IP (Transmisson Control Protocol/Internet Protocol) adalah sekelompok protokol yang mengatur kamunikasi data komputer di internet. Dengan menggunakan protokol TCP/IP, perbedaan jenis komputer dan sistem
June 8th
2014

Tips memilih baju muslim batik yang uhuiii

Baju muslim yang terbuat dari batik saat ini memang mudah dan banyak sekali ditemukan di berbagai toko pakaian” . “  Hal ini sendiri dikarenakan
May 26th
2014

Stanley Ann Dunham ( November 29 1942 – November 7 1995 ) ibu dari Barack Obama Presiden ke-44 Amerika Serikat

Stanley Ann Dunham ( November 29 1942 – November 7 1995 )  ibu dari Barack Obama  Presiden ke-44 Amerika Serikat  adalah seorang antropolog Amerika
April 9th
2014

Mengapa Batik Sulit Laris di Pasar Internasional

Kain batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang eksistensinya telah diakui industri mode dunia. Beberapa selebriti dunia seperti Jessica Alba mengenakannya dan desainer
April 8th
2014

MOTIF BATIK indokabana 0025 batik tulis Motif Burung

Batik Burung, atau batik dengan motif burung berawal dari sebuah burung. Burung ( Aves kelas atau clade avialae ) yang berbulu  bersayap  berkaki dua