Sejarah perkembangan motif batik yogya dan solo

Logo ningrat

motif batik solo pekalongan sragen m46 pink-coklatCita rasa kesenian Batik merupakan kesenian tradisional yang sudah ada di tanah Jawa sejak beberapa abad dahulu kala. Kemudia perkembangan batik pun dimulai di Jawa Tengah dan batik Yogyakarta merupakan salah satu kepingan dari perkembangan batik yang ada pada saat ini ada. Kemudia perjalanan Batik Yogyakarta tidak bisa lepas dari perjanjian Giyanti pada tahun 1755 tempo doeloe. Karena begitu terjadi perpecahan pada kerajaan Mataram dan berdirinya Keraton Ngayogyakarta. Kemudia busana dari Kerajaan Mataram dibawa dari Surakarta ke Ngayogyakarta maka Sri Susuhunan Pakubuwono II merancang busana baru yang menjadi pakaian adat Keraton Surakarta yang berbeda dengan busana Ngayogyakarta yang merupakan asal batik terdahulu.

motif batik solo pekalongan sragen m46 kuning -hijauPeristiwa perundingan itu berlangsung di desa Giyanti yang hasilnya antara lain  Daerah atau wilayah Mataram dibagi menjadi dua satu bagian dibawah kekuasaan Sri Paku Buwono II di Surakarta Hardiningrat dan sebagian lagi bi bawah kekuasaan Kanjeng Pangeran Mangkubumi yang setelah dinobatkan sebagai raja bergelar Ngersa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalogo Ngabdul Rachman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping I yang kemudian keratonnya dinamakan Ngayogyakarta Hardiningrat.Semua pusakan dan benda-benda keraton juga dibagi 2. Cerita busana Mataram di bawa ke Yogyakarta karena Kanjeng Pangeran Mangkubumi yang berkehendak melestarikannya untuk Indonesia. Surakarta dibawah kekuasaan Sri Paduka Susuhunan Paku Buwono III merancang tata busana baru dan berhasil membuat busana adat Keraton Surakarta seperti yang kita lihat sampai sekarang ini yang terkenal dengan sebutan batik yang mampu membatikan masyarakat dan memasyarakatkan batik. Begitu batik kemudian berkembang pesat dan terdapat begitu banyak macam batik dalam perkembangannya.