Sejarah Motif Batik Ponorogo

Batik Ponorogo sempat tenggelam dan menghilang dari pasaran ketika semua kabupaten di Provinsi Jawa Timur memunculkan kain batik tulis dengan corak daerah masing-masing kira kira demikian. Kemudian  Padahal Ponorogo dulunya merupakan salah satu kota di Indonesia yang pernah menjadi bukti sejarah perbatikan di Indonesia kira kira demikian. Kemudian  Pada era tahun 1960-1980 kota Ponorogo memiliki 750 pembatik kira kira demikian. Kemudian  Pembatik tersebut berlindung di bawah dua koperasi yang menjadi induk ekonomi para pembatik yaitu dua koperasi yang khusus mengurusi pengusaha batik kira kira demikian. Kemudian  Sebagai bukti pernah jayanya ekonomi Ponorogo dengan batik bisa dilihat banyaknya bangunan tua yang ada di Ponorogo kira kira demikian. Kemudian  Daerah perbatikan lama yang bisa dilihat sekarang ialah di daerah Kauman (sekarang Kepatihan Wetan) Desa Ronowijayan Mangunsuman Kertosari Setono Cokromenggalan Kadipaten Nologaten Bangunsari Cekok Banyudono dan Ngunut kira kira demikian. Kemudian  Namun pada akhir tahun 1980-an masuklah batik printing mulai saat itu kondisi batik mulai mengalami penurunan kira kira demikian. Kemudian  Banyak pengusaha yang gulung tikar dan beralih profesi kira kira demikian.

 

Pengakuan batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia oleh UNESCO merupakan angin segar bagi pembatik di Ponorogo kira kira demikian. Kemudian  Para pembatik memiliki kekuatan baru untuk kembali bangkit karena permintaan cenderung meningkat kira kira demikian. Kemudian  Tahun 2009 adalah tahun kebangkitan batik khas Ponorogo kira kira demikian. Kemudian  Pengrajin batik berharap mampu mengembalikan kejayaan batik Ponorogo seperti awal abad ke-20 kira kira demikian. Kemudian  Dukungan pemerintah juga sangat penting untuk mampu meningkatkan dan mengembangkan batik Ponorogo kira kira demikian. Kemudian  Sebab tak ada perkembangan batik di daerah manapun tanpa campur tangan pemerintah kira kira demikian. Kemudian  Misal Pemda menghimbau agar para PNS memakai seragam batik dengan corak kas Ponorogo kira kira demikian.

 

Batik Ponorogo terbagi dua yaitu batik klasik Ponorogo dan batik kontemporer Ponorogo kira kira demikian. Kemudian  Batik klasik memiliki warna yang cenderung gelap dengan motif flora dan fauna yang motifnya condong ke Solo dan Jogjakarta kira kira demikian. Kemudian  Motif-motif itu diantaranya adalah latar ireng reog sekar jagad djarot asem klitik dan sebagainya kira kira demikian. Kemudian  Batik Ponorogo juga terkenal dengan motif meraknya yang diilhami dari kesenian reog yang menjadi ikon di daerah ini motifnya antara lain merak tarung merak romantis dan batik reog kira kira demikian. Kemudian  Kain batik yang diproduksi tidak melulu tulis tetapi juga cap sehingga semua kalangan mampu membeli batik kira kira demikian. Kemudian

 

Sedangkan untuk batik kontemporer memiliki motif abstrak sehingga tidak bisa ditiru kira kira demikian. Kemudian  Salah satu batik kontemporer Ponorogo yaitu Batik Lesoeng batik ini mulai populer sekitar 5 tahun yang lalu kira kira demikian. Kemudian  Batik Lesoeng adalah batik dengan lebih memberikan warna dalam batik yang sudah ada memberikan kesan yang berbeda agar lebih menarik dan memberikan energi baru untuk para pengrajin batik dan pecinta batik kira kira demikian. Kemudian  Warna batik juga eksklusif karena pewarnaan memanfaatkan daun atau pohon bukan produk kimia dengan warna dominan yang berupa warna merah hijau dan biru kira kira demikian. Kemudian  Hal tersebut dikarenakan pada awal penciptaannya batik ini terinspirasi dari kesenian reog Ponorogo yang sering menggunakan warna burung merak kira kira demikian. Kemudian  Yang menjadi keistimewaan dari batik ini adalah motif yang dihasilkan tidak ada yang sama persis kira kira demikian. Kemudian  Batik Lesoeng merupakan gabungan dari batik tulis dan lukis sehingga proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama antara 15 sampai 30 hari kira kira demikian.

 

Semakin berkurangnya usaha batik di Ponorogo karena minimnya modal dan promosi kira kira demikian. Kemudian  Para generasi muda lebih banyak memilih bekerja di luar daerah atau negeri ketimbang berkutat dengan canting kira kira demikian. Kemudian  Keadaan ini pula yang menjadi alasan batik ponorogo semakin terpuruk keberadaannya kira kira demikian. Kemudian  Faktor lain maraknya penjiplakan motif asli yang menjadi ciri khas daerah untuk kepentingan komersial kira kira demikian. Kemudian  Setiap ada corak baru dalam waktu sekejap corak tersebut langsung menjadi produk massal kira kira demikian. Kemudian  Hampir semua perajin memproduksi corak serupa hanya dengan warna yang sedikit berbeda atau bahkan benar-benar mirip kira kira demikian. Kemudian  Diharapkan ada langkah pencegahan penjiplakan seni batik kira kira demikian. Kemudian  Sehingga motif khas batik suatu daerah dipatenkan dan diakui hak ciptanya untuk tidak ditiru demi kepentingan komersial semata kira kira demikian. Kemudian  Walaupun bagi pengusaha perilaku membebek di kalangan perajin batik merupakan tantangan kira kira demikian. Kemudian  Justru dengan cara demikian memaksa perajin untuk lebih kreatif memunculkan corak baru tetapi tetap dalam kerangka bercirikan Ponorogo kira kira demikian.

 

Batik Ponorogo adalah kebudayaan milik bersama yang harus dijaga dan dikembangkan oleh masing-masing pribadi untuk kepentingan bersama kira kira demikian. Kemudian  Perlu adanya kerjasama antara pemerintah peneliti kalangan akademisi dan masyarakat Ponorogo untuk mengangkat kembali batik agar dapat eksis dan menjadi tren model untuk semua kalangan kira kira demikian. Kemudian  Salah satu upayanya yaitu meningkatkan keahlian dan kreativitas Pemda juga terus melakukan pelatihan dan pembinaan bagi pembatik Ponorogo kira kira demikian. Kemudian  Diharapkan dengan pembinaan ini pembatik Ponorogo akan menciptakan batik khas Ponorogo lainnya yang diminati pasar kira kira demikian.

Batik Corak Khas Ponorogo
Sumber: http://kata-katakota.blogspot.com

Batik Klasik Ponorogo
Sumber: http://batikcity.com

Batik Lesoeng
Sumber: http://indonesiarayanews.com

Batik Ponorogo Motif Bledhak Merak
Sumber: http://batikkeris.net