Sejarah Batik Banten

Dimulai dari keterlibatan dalam berbagai kajian pemanfaatan ragam hias khas daerah pada rancang bangun gedung-gedung pemerintah dan pemerhati lingkungan pada penataan kota budaya Banten yang telah berjaya pada jaman dulu.

Saat masanya pengkajian benda-benda sejarah hasil ekskavasi (penggalian) para ahli Arkeolog, mempunyai inspirasi untuk mencapai tujuan pembangunan kota yang berbudaya dalam rangka mengisi dimensi kekinian guna pra perencanaan pembangunan Anjungan Banten di TMII dan rancang bangun RUMAH ADAT khas Banten serta merevitalisasi pada penataan bangunan sejarah di Propinsi Banten bagian barat pulau Jawa.

Saat rekonstruksi benda purbakala mengantarkan perhatian para tokoh masyarakat, bagian pemerintah daerah, bersama-sama para arkeolog, pada Juni 2002 telah mengadakan pengkajian ragam hias selama enam bulan berhasil menemukan atau mengenali ragam hias khas Banten menjadi 75 motif berikut dikukuhkan oleh pemerintah propinsi melalui SK Gubernur Banten nomor : 420/SK-RH/III/2003 tertanggal 12 Maret 2003.

motif banten

motif khas Banten

Beragam hias yang bersumber dari Atefak Terwengkal pada abad 17 tersebut, menjadikan pusat perhatian dari para peneliti Terwengkal khas Banten bertitik tolak dari bentuk Geometris, merupakan esensi seni baru yang berarti Mukarnas yaitu mempunyai arti kerukunan.

Berbagai ragam hias yang melekat pada arsitektur merupakan khasanah potensi sumber arkeologi Banten warisan intelektual Banten masa lalu. Berawal dari kearifan lokal yang terbenam dalam-dalam ditengah puing-puing reruntuhan pusat kejayaan pemerintah islam kesutanan, benda-benda kuno terukir dengan ragam hias yang unik menjadikan karya cipta membangkitkan anak cucu kita ditanah Banten, berbagai ragam hias benda kuno itulah yang menjadikan inspirasi pada sebuah artefak terwengkal untuk mendisain pola dasar batik sehingga menjadikan motif dasar batik Banten