Penemu Batik Sutra Yang Ditertawakan

Ngobrol soal batik, kita tak bisa melepaskan nama kota Pekalongan. Daerah ini tak bisa dilepaskan dari perkembangan karya seni yang pada akhirnya berubah menjadi produk industri yang menopang hidup jutaan jiwa warga di negeri ini khususnya penduduk kota Pekalongan sensdiri.

Di Kota Pekalongan, kerajinan batik menjadi karya seni yang diproduksi secara massal dalam berbagai motif dan bentuk. Perkembangan seni batik yang sudah populer adalah batik yang terbuta dari kain sutra. Pola atau motif batik yang digoreskan di atas kain yang terbuat dari serat kepompong ulat sutra, dan saat ini menjadi salah satu jenis batik yang banyak dicari. Terutama di kalangan menengah ke atas dari berbagai daerah.

Meski menjadi salah satu produk yang terkenal, tidak banyak yang tahu siapa yang pertama kali menemukan ide pembuatan batik di atas kain sutera. Batik jenis ini sangat laris sejak tahun 1985 silam dan ternyata ditemukan pertama kali oleh H Soesilo (67 tahun), merupakan salah satu perajin batik dari Wiradesa, Kab. Pekalongan.

Pengrajin batik tulis beranak enam itu mengatakan, ia pertama kali menemukan batik sutra sekitar tahun 1970 lalu. Ketika itu, ia sudah keliling ke berbagai daerah dan belum ada jenis batik yang dibuat dari bahan kain sutera. ”Kira-kira tahun 1970, saya pertama kali melakukan uji coba pembuatan batik di atas bahan kain sutera. Jadi, penemu batik sutra pertama adalah saya. Bila ada yang mengaku, suruh aja datang ke sini”, katanya.

Pengolahan dan Penemuan batik sutra pertama kali sangat sulit. Ia mengaku harus melakukan uji coba kurang lebih sampai satu tahun, dan baru bisa berhasil membuat batik sutra yang layak untuk diperkenalkan kepada masyarakat penggemar batik.

Bukan hanya harus diuji coba berulang-ulang, Soesilo juga mengaku, siap menerima ejekan banyak orang yang tahu bahwa dirinya membuat batik di atas kain bahan sutera. ”Saya juga sempat ditertawakan orang karena membuat batik di atas kain sutera, yang pada waktu itu tidak lazim”, katanya.

Tapi saya tak memedulikan itu dan tetap melakukan uji coba sampai berhasil membuat batik sutra dan sekarang menjadi pakaian untuk acara resmi orang dari kalangan menengah ke atas.

Bagian yang sulit dalam penemuan batik sutra adalah dalam pelorotan (pelarutan lilin). Waktu melorotkan lilin membutuhkan waktu lama dan harus berganti-ganti media hingga menemukan larutan yang tepat untuk melepaskan lilin dari kain sutera.

Tapi dalam perkembangannya penggunaan bensin di rasa tidak efektif karena sangat mahal biayanya. Dalam uji coba selanjutnya, ditemukan larutan soda as yang sangat bagus untuk melarutkan lilin dari kain, sampai sekarang terus digunakan.

Batik kain sutra temuannya mulai diperkenalkan dan diterima masyarakat sekitar tahun 1978 dan mulai laris sekitar tahun 1980-an silam. Sampai puncaknya pada 1985 dan batik sutra menjadi salah satu jenis batik yang banyak dicari, terutama oleh kelas menengah ke atas.

Boomingnya produk batik sutera waktu itu, memunculkan beberapa jenis batik yang meniru sutra yang akrab disebut ”sutera kecewa”. Batik yang sepintas sama dengan sutra asli tersebut, ikut laris dan banyak dicari karena harganya jauh lebih murah dari batik sutera asli.

Walau telah menemukan jenis batik yang sudah terkenal di seantero negeri dan telah banyak ditiru, tetapi Soesilo mengaku tak akan mematenkan yang menjadi hak ciptaannya. ” Biarlah seperti ini, saya tidak akan mematenkan hak cipta atau menuntut mereka yang meniru atau mengaku produk ciptaan saya. Biar saja bagi-bagi rezeki karena masing-masing punya segmen pasar yang berbeda-beda”, ujarnya.