Batik Unik Tanah Liek

Kerajinan batik yang selama ini dikenal sebagai budaya masyarakat pulau Jawa, dapat dijumpai di Sumanik, Kab. Tanah Datar, Sumbar.

Penduduk di sana menyebutnya dengan batik dengan batik tanah liek, artinya batik tanah liat. tidak seperti di pulau Jawa, disana memproduksi batik yang direndam dalam tanah liat untuk memunculkan warna yang diinginkan. Tahap perendaman untuk membuat batik ini dilakukan sebelum dan sesudah pembuatan batik. Menggunakan pewarna berasal dari tumbuh-tumbuhan, misalĀ getah kulit jengkol untuk warna hitam atau getah gambir untuk warna merah.

Kerajinan Batik Ranah Minang punya ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan batik dipulau Jawa, baik warna maupun corak. Media pewarna dasar kain berupa tanah liat dengan cara merendam dasar kain yang belum dibubuhi motif batik ke dalam larutan tanah liat dengan air. Proses perendaman ini bisa memakan waktu lebih dari satu hari untuk mendapatkan ketahanan warna tanah yang menyatu dengan kain batik. Selanjutnya, kain tersebut dicuci bersih lalu dibubuhi motif batik yang diinginkan, misal kaluak paku, parang rusak, itiak pulang patang, maupun motif berupa kekayaan flora dan fauna alam ditanah Ranah Minang.

Di Sumatera barat, pusat batik tanah liek ada di tiga daerah, yaitu Padang dengan Batik Monalisa, di Pesisir Selatan, dan Dharmasraya. Meskipun sama-sama batik tanah liek, tapi motif di tiap daerah berbeda sesuai topografi dan kekayaan alam masing-masing daerah. Misalnya di Dharmasraya, selain motif dasar ada pembaharuan motif seperti bunga sawit yang terinspirasi dari bunga sawit yang mekar di perkebunan sawit yang banyak ditanam di daerah ini.

Kerajinan Batik tanah liek adalah batik khas Minangkabau yang motifnya dibuat dari pewarna berbahan dasar tanah liat. Tidak ada catatan sejarah sejak kapan kerajinan batik tanah liek muncul di Sumbar. Tapi diyakini telah dikenal masyarakat Minang sejak abad ke-16 dan digunakan sebagai kain adat Minang. Kemungkinan batik ini muncul dari pengaruh kebudayaan Cina dan hanya dibuat beberapa orang pengrajin seperti di Tanah Datar Sumatera. Tetapi kerajinan ini hilang tanpa jejak sejak zaman pendudukan Jepang. Kemudian diperkenalkan kembali pada 1994 silam.

Tahap pembuatan sehelai batik tanah liek tulis yang memakan waktu satu hingga dua bulan ini menjadikan harga warisan budaya dari Ranah Minang tersebut mencapai Rp 2 jutaan.