Batik Punya Cerita

Menghasilkan sebuah batik yang memiliki nilai tinggi memang tidak gampang. Sebab pembatiknya harus dimodali kemampuan visualisasi dan ilmu spiritual.

Pendapat itu dilontarkan desainer kondang Iwan Tirta di sela-sela pagelaran busana Himpunan Ratna Busana di Cascade Lounge Hotel Mulia Jakarta, pada akhir Maret 2008 lampau. Bagi pemilik nama lengkap Nusjirwan Tirtaamidjaja, kain batik itu jangan bagus hanya dari tampilannya aja, tapi juga harus punya cerita atau ada isinya.

Jika mau tahu batik itu bagus atau buruk, bisa dilihat dalam jarak 3 sampai 4 meter. Lihat pengulangan warna ataupun motif yang tertera pada material bahan atau kainnya. Itulah yang dikatakan Iwan.

Dalam proses mencipta kain batik, Iwan Tirta mengaku pikiran harus dikosongkan dari pikiran negatif. Kalau pikiran ke mana-mana lantas mbatik, pasti hasilnya tidak sesuai keinginan.

Ketika mau membatik Iwan selalu menetapkan waktu tertentu, malam atau pagi. Penyebabnya pun simple, yaitu tidak mau diganggu oleh orang. “Harus kosentrasi pikiran,” kata lulusan School of Economic’s, London dan School of Oriental and African Studies.

Menyelesaikan satu lembaran kain, ia bisa menghabiskan waktu 2 sampai 3 bulan. Biasanya ukuran kainnya beda-beda, berdasarkan keperluannya. Seperti untuk kain jarik, bahan kain yang dibutuhkan bisa sampai dua sampai tiga per empat meter, jika untuk dress bisa empat meter dan kain sari panjang sampai 6 meter.

“Tapi hanya karena alasan bisnis kini banyak orang yang masih tidak jujur atau mengelabuhi yang lain. Sebenarnya mereka menjual batik cap atau print/cetak, tapi mengaku batik tulis dan itulah yang harus diperhatikan baik-baik saat membeli kain batik.”Saran peraih penghargaan dari Presiden Republik Indonesia Adikarya Wisata (1992) dan Upakarti (1990).

Tentang batik yang kini ditampilkan lebih ramai dengan imbuhanl, Ia mengatakan bahwa tidak harus begitu untuk menampilkan batik. Karena batik itu sudah indah.

Busana batik yang bagus tidak perlu ditampilkan secara berlebihan atau over. Tapi kalau harus diberi macam-macam detail seperti payet, pasti batiknya yang murahan. Tetapi kenyataannya masih banyak masyarakat yang memilih tampilan yang semakin ramai akan semakin bagus. Kata pria kelahiran 18 April 1935, di Blora, Jateng.