Batik Indonesia Sulit Dipatenkan, Banyak Dijiplak

Motif-motif batik tradisional, yang ribuan macamnya merupakan Kekayaan intelektual Bangsa Indonesia, tapi belakangan ini banyak dijiplak atau ditiru oleh para perajin dari negara-negara lain demi kepentingan ekonomi mereka.
YBI (Pihak Yayasan Batik Indonesia) Pusat menengarai adanya kondisi tersebut. Tapi Ketua YBI Pusat, Yustin Ginandjar Kartasasmita, ketika ditemui di Sentra Batik Trusmi, Cirebon, Rabu 15 September mengatakan bahwa pihaknya mengalami kesulitan dalam mengupayakan proteksi dengan mematenkan motif-motif batik milik berbagai daerah di Indonesia. Kesulitan itu timbul karena batik yang satu tidak sama dengan batik lain, walaupun berlatar motif sama. Karena setiap perajin memiliki goresan atau sapuan yang berbeda dalam menerapkan pembuatan batik.
“Motif batik di dalamnya sulit dipatenkan. walaupun terjadi banyak penjiplakan terhadap motif tersebut” kata Yustin usai meninjau gelaran batik terpanjang di dunia milik perajin batik H Komaruddin Kudiya di Trusmi Cirebon.
Selama ini motif batik khas Indonesia diambil lalu dimodifikasi oleh para perajin batik dari luar negeri seperti Thailand,┬áIndia, Malaysia, Afrika, dan Vietnam. “Tapi, kalau dilihat secara seksama dari segi pembuatannya, batik tersebut belum tentu memiliki persamaan”, tambahnya.
Bagi Yustin, dari segi motif dilihat sepintas bisa saja terlihat batik-batik itu memiliki persamaan. Tapi, dari sisi pembuatan, sulit diperoleh kesamaan, sebab batik-batik tersebut tidak dikerjakan secara pabrikan atau massal. “Dalam pembuatannya dibutuhkan keahlian khusus, hingga untuk satu motif saja belum tentu akan jadi sama,” sambungnya.
Menurut Yustin, baru Kabupaten Indramayu yang mematenkan motif-motif batik khasnya. Ia juga mengungkapkan adanya indikasi penurunan dalam pembuatan batik. Karena disebabkan oleh kurangnya peminat, dari kalangan remaja yang lebih memilih busana dari denim dan katun.
Walaupun demikian, YBI terus berusaha untuk menarik minat masyarakat Indonesia dengan memproduksi batik dengan motif-motif yang disukai terutama remaja.
Sementara itu, H Komaruddin Kudiya perajin batik mengakui, banyak penjiplakan motif batik oleh para perajin dari negara tetangga. Menurut Komaruddin, harus segera dilakukan mematenkan motif-motif batik merupakan hal yang krusial.
Usaha untuk mematenkan motif-motif batik merupakan keseriusan pemerintah daerah dalam rangka memberi proteksi bagi karya cipta para pengrajin batik.
Pematenan merupakan bentuk proteksi untuk kekayaan dan ciri khas daerah. “Misalnya, motif mega mendung merupakan motif khas Cirebon. Jika tidak dipatenkan, kemungkinan motif tersebut akan dijiplak oleh perajin dari luar daerah Cirebon,” katanya. Komaruddin juga memberitahu langkah untuk menggelar batik sepanjang 400 meter dengan berbagai motif dari Nusantara ditujukan untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa Indonesia kaya akan tradisi, terutama tradisi membatik.