loading...

Batik Indonesia Diandalkan untuk Menghadapi MEA

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryanti di Yogyakarta mengatakan produk kerajinan batik Indonesia dapat menjadi salah satu sektor produksi andalan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015 mendatang.

Soal batik Indonesia sudah sangat bisa diandalkan dan siap untuk bersaing dalam pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kata Wiendu seusai meresmikan Pelatihan Batik Raja Ampat di Gedung Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB), Yogyakarta.

Bagi ia, kain batik asli sentuhan tangan pengrajin Indonesia bernilai seni tinggi sehingga memiliki daya saing yang tidak dapat disamakan dengan produk kerajinan batik dari Tiongkok atau negara lain. Kain batik Indonesia sudah tua serta dibuat berdasarkan nilai seni dan tradisi kehidupan manusia mulai dari sejak lahir hingga meninggal dunia.

Tapi menurut ia, bersaing menghadapi MEA diperlukan sumber daya manusia (SDM) siap diberbagai penguatan termasuk bagi kalangan pengrajin kain batik.

Menghadapi MEA Kuncinya memang di manusianya, maka untuk pengembangannya di bidang Kebudayaan masih sedang disusun pola dasarnya.

Semenjak diakui Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO), produksi batik nasional meningkat hingga 500%, hingga mampu menjadi tulang punggung Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dan juga omzet batik nasional juga telah mencapai lebih dari Rp10 triliun serta telah mampu menyerap lebih dari 3,5 juta tenaga kerja lokal.

Sementara Zulmaizar Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) mengatakan untuk mampu bersaing menghadapi MEA 2015, para pengrajin batik juga dapat mengandalkan pewarna alami dari pada pewarna sintetis yang rata-rata impor dari luar.

Dalam penguasaan teknologi juga mutlak diperlukan guna menghasilkan produk dengan daya saing tinggi untuk menghadapi MEA. Saatnya berbenah diri menghadapi persaingan yang semakin sengit.