Solo Batik Fashion Angkat Perajin

Dentuman musik mengiringi langkah para model yang melenggak-lenggok di atas catwalk putih memanjang yang membelah gapura yang menuju alun-alun lor Keraton Surakarta hari Kamis malam tanggal 14 Juli 2011 silam.

Bermacam model rancangan pakaian mulai dari busana yang bergaya harajuku dan kasual, kebaya, gaun malam yang anggun, sampai baju pengantin modern ditampilkan silih berganti oleh para model. Cuma satu persamaannya yaitu material utama rancangan dalam pagelaran Solo Batik Fashion (SBF) 3 ini adalah kain motif batik.

Penekanan pada perancang agar menggunakan batik cap atau tulis dalam setiap hasil karya. Agar generasi muda mengetahui batik yang sesungguhnya. Seperti batik yang proses pembuatannya menggunakan lilin atau malam.

Juga sebagai ajang eksistensi atau memperkenalkan diri para desainer. Melalui ajang ini pihaknya ingin sekali mengangkat para pengrajin batik sebagai warisan leluhur. Penonton diharapkan tergugah minatnya untuk membeli dan mengenakan pakaian batik. Mungkin satu dua orang pasti ada yang ingin pakai batik setelah menyaksikan pagelaran SBF ini.

Melalui ajang ini diharapkan para perancang ingin berinteraksi langsung dengan pengrajin batik untuk memesan warna atau motif untuk kebutuhan desainnya. Beberapa perancang masih kesulitan untuk berinteraksi langsung dengan pengrajin dan kebanyakan masih membeli kain batik dari pengusaha besar atau retailer. Event ini diharapkan sekali memberi masukan soal warna yang lagi tren di dunia fashion atau dunia mode serta mudah-mudahan bisa membantu usaha para pengrajin.

Joko SSP merupakan salah seorang desainer yang dikenal dengan rancangan kebaya dan baju pengantinnya mengaku kerap memesan batik langsung kepada pengrajin di kampung Laweyan, Semanggi, atau Kauman. Rancangannya dalan event SBF kali ini diberi tema Pandawa Lima. Ia memesan motif poleng yang dipadu dengan parang untuk karakter Werkudara salah satu tokoh dalam dunia pewayangan.

SBF ini sebagai ajang memperkenalkan batik yang dulu hanya dipakai untuk jarik ternyata juga bagus untuk dibuat gaun malam atau busana casual.

SBF 3 diikuti lebih dari 30 perancang di Kota Solo ditambah dari Yogyakarta dan Semarang. SBF kali ini terasa unik karena di kanan kiri catwalk adalah pohon beringin besar berjajar yang memberi kesan tersendiri dan gapura tua dengan arca gupolo menjepit catwalk.

Event yang digelar gratis ini berbeda dari acara pagelaran busana lainnya yang biasanya hanya ditonton kalangan tertentu, tetapi event SBF ini penonton mulai dari anak-anak hingga dewasa bebas duduk lesehan atau di atas kursi lipat yang disediakan panitia. Event SBF ini juga dirancang untuk semakin memperkuat citra Solo sebagai kota batik atau ibukota batik.