Mengapa Batik Sulit Laris di Pasar Internasional

Kain batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang eksistensinya telah diakui industri mode dunia. Beberapa selebriti dunia seperti Jessica Alba mengenakannya dan desainer Amerika, Diane von Furstenberg pun mengaplikasikannya ke dalam koleksi modenya. UNESCO pun telah menetapkan batik milik Indonesia.

Ribuan motif yang berasal dari berbagai penjuru tanah air, berdampingan dengan produk siap pakai seperti aksesoris, busana, perabotan rumah tangga hingga materi mentah yang bisa digunakan untuk membuat produk-produk khas. Tapi, mengapa sulit sekali batik untuk menembus pasar internasional secara massal dan laris dibeli orang di seluruh dunia ini?

Berawal dari rasa penasaran, team Wolipop berbincang dengan desainer sekaligus Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Yang ditemui di bilangan Kemang, Jaksel, hari Jumat tanggal 23 November 2012 silam. Namanya Nuna, memaparkan opininya tentang kesulitan batik diterima dan diaplikasikan masyarakat internasional.

Pertama yang ia lihat adalah fakta dimana diversifikasi batik belum terlalu jelas. Kita harus tahu dulu segmen pasar sukanya seperti apa?Amerika, Eropa, dan Jepang pasti suka motif batik yang berlainan. Tidak bisa disamakan yang laku di sini terus dipasarikan dinegeri lain.

Masalah ini berkaitan dengan ‘taste’ yang dimiliki tiap personal. Hal ini juga mengingatkan kita akan gaya Eropa yang didominasi Paris dan Milan untuk urusan mode pakaian. Kota Milan yang gaya desainnya sangat kental nuansa tradisi, dekoratif, dan glamor sangat bertolak belakang dengan Paris yang struktural, mengedepankan pakem timeless, dan siluetnya bersih.

Di negara Asia pun demikian, negara Jepang yang menyukai garis rancang yang minimalis modern sangat berlawanan dengan China yang serba klasik maksimalis. Kemudian Nuna pun melanjutkan akan dijadikan apa batik nantinya setelah diekspor ke luar?

Apa akan jadi produk fashion, home furnishing, atau upholstery (kain pelapis)? Dan semuanya membutuhkan kejelasan akan motif yang sesuai dan materi yang digunakan. Kalau untuk fashion, dari materi yang digunakan mungkin harus halus, fleksibel motifnya, dan ringan. Jika dibuat menjadi sofa, tentunya membutuhkan materi yang lebih tebal dan proses pengerjaannya mungkin dengan mesin.

QC harus jelas sebab Batik is a craft fabric. Jadi saat order terjadi harus teliti benar dan menjelaskan kekurangannya dan kelebihan, contohnya motif dan warna tidak bisa konsisten jika dikerjakan tangan itu yang dikatakan Nuna seorang pria yang juga mengajar di Institut Kesenian Jakarta.

Saat industri mode internasional yang sedang dihantam krisis ekonomi tentunya juga beradaptasi dengan garis rancangan yang siap pakai dan simpel. Hasil yang tadinya dikerjakan secara detail terpaksa mengalami penyederhanaan untuk menekan ongkos. Seperti hal inipun harus menjadi pertimbangan saat membawa batik ke pasar luar negeri.

Di Indonesia, kebanyakan beli kain batik yang mewah dan bagus per piece. Sedang saat klien internasional order pasti ribuan piece. Jadi harus bisa menjaga konsistensi motif, warna, dan kualitas dari karya pengrajin yang membuat batik dengan cara manual dengan canting. Coba bisa dibayangkan total harganya dan segala risiko pengiriman yang harus ditanggung klien.