Pesona Batik Madura Berawal Dari Coba-Coba

Madura

Batik

Bermula membuka usaha hanya dengan 4 karyawan dan sekarang Pesona Batik Madura (PBM) telah berkembang dengan jumlah karyawan sekitar 400 orang. Tetap jujur dan selalu aktif dalam mengikuti pameran merupakan beberapa kunci sebuah kesuksesan.

Sebagai pemilik PBM, Siti Maimona tidak pernah nambahi atau mengurangi takaran atau kualitas. Jika takarannya atau kualitas tetap, dan harga batiknya juga mengikuti walaupun harga bahan naik. Yang terpenting kualitas tetap. PBM mempunyai galerinya di Jalan Lawu 19, Mlajah, Bangkalan, Madura.

Siti adalah seorang perempuan berkulit kuning langsat. Merupakan generasi keempat dari keluarga pembatik di Madura. Kisahnya berawal dari coba-coba untuk membangkitkan batik Madura yang mulai stagnan hingga surut. Ia akhirnya terjun bebas ke bisnis pembuatan batik khas Madura.

Dimulai di tahun 1990 dengan hanya bermodal Rp 5 juta rupiah. Usaha batik tersebut sempat jatuh bangun sampai pada tahun 2005 silam. PBM mendapat pinjaman dana Rp 15 juta dari sebuah perusahaan yang mempunyai project pengembangan bisnis untuk UKM disekitar perusahaan tersebut. Dengan pinjaman tersebut, secara otomatis menjadi mitra binaan perusahaan itu. Selanjutnya pinjaman Rp 20 juta mengalir ke Siti. Pada waktu itulah bisnis batik Siti mulai berkembang dan mulai meningkat.

Perkembangan PBM diakui Siti tak lepas dari pelatihan dan pameran yang diselenggarakan perusahaan tersebut. Supaya lebih berkembang usaha batiknya, kucuran dana yang lebih besar lagi yakni Rp 100 juta rupiahpun diberikan. Sampai Siti disekolahkan dan diajak berpameran untuk memperkenalkan batik. Tidak hanya didalam negeri saja, tapi kesempatan berpameran diluar negeri seperti di Cina Italia, Dubai, dan Jepangpun diperoleh. Karena banyaknya pelatihan dan pameran yang sering diikuti baik dalam negeri atau luar negeri.

Bisnis batik Siti terus meluas ke seluruh daerah. Tiap bulannya mampu memproduksi 5 ribu potong kain atau omzet sekitar Rp 300 juta rupiah/bulan.

Pendapatan omzet tersebut didapatkannya dengan menjual hasil karyanya ke luar negeri seperti ke Jepang, Thailand, Australia, Perancis, dan Italia. Pasar lokalpun tak kalah ramai hingga dijadikan sasaran penjualan hasil karyanya. Ia juga mempunyai 6 outlet batik yang tersebar di Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, dan Bali.

Ia memberitahu batik Madura tetap mendapat tempat karena mempunyai ciri khas tersendiri. Yaitu warnanya yang cerah dan motifnya yang beraneka ragam, yang menggambarkan karakter masyarakat Madura.

Cara pembuatan batik juga menjadi salah satu keunggulan batik khas Madura ini. Karena semakin lama batik direndam harganya semakin mahal. Sebab warnanya yang semakin pekat. Hasil karya batik Siti diharga mulai dari Rp 60 ribu – Rp 9 juta rupiah. Karena saat ini batik yang semakin memasyarakat. Batik hasil karyanya yang paling laku degan harganya di bawah Rp 100 ribu.